Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Artikel/1086 Tahun Menjaga Keseimbangan: Bagaimana Al-Azhar Merangkai Tiga Wajah Ahlussunnah Menjadi Satu
ArtikelBerandaEdukatifEssayIlmiahKaryaKEMENKO 4Opini

1086 Tahun Menjaga Keseimbangan: Bagaimana Al-Azhar Merangkai Tiga Wajah Ahlussunnah Menjadi Satu

By cairomein@gmail.com
24/07/2026 3 Min Read
0

Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan orang ketika membicarakan moderasi beragama: moderat itu, siapa yang berhak mendefinisikannya? Esai karya Mohammad Luthfi Al Faidz, mahasiswa S2 Al-Azhar Kairo, mengajak kita masuk lebih dalam ke pertanyaan itu bukan dari luar, tapi dari dalam tembok Al-Azhar sendiri, tempat penulis belajar langsung selama bertahun-tahun.

Tulisan ini lahir dari momentum yang cukup istimewa: usia Al-Azhar yang telah menyentuh 1086 tahun. Bagi penulis, milad sepanjang itu bukan sekadar angka untuk dirayakan, melainkan momen refleksi tentang syiar inti yang selama ini dijaga institusi tersebut wasathiyyah, atau jalan tengah dalam beragama.

Tiga Aliran, Satu Rumah

Bagian paling menarik dari esai ini adalah penjelasannya tentang tiga karakter besar yang selama ini hidup berdampingan dalam tubuh Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja):

Atsari mazhab Ahlul Hadits yang menekankan penetapan sifat-sifat Allah apa adanya, tanpa penyerupaan maupun penolakan, dengan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai representasinya.

Asy’ari mazhab yang menggunakan perangkat logika untuk mempertahankan akidah dari serangan para filsuf, dan menjadi mazhab mayoritas yang diajarkan secara formal di Al-Azhar.

Maturidi  mazhab yang dekat dengan tradisi Hanafi, memberi ruang lebih besar bagi akal dalam sejumlah persoalan teologis.

Penulis mengutip Imam Syamsuddin As-Saffarini yang menegaskan bahwa ketiganya adalah cabang dari akar yang sama. Dan menurut penulis, kekuatan Al-Azhar justru terletak pada kemampuannya merangkul ketiganya sekaligus, bukan memilih satu dan menyingkirkan yang lain.

Ketika “Moderat” Justru Jadi Alat Eksklusi

Di sinilah esai ini menjadi paling tajam dan berani. Penulis menyoroti fenomena yang ia sebut “monopoli wasathiyyah” sebagian alumni Al-Azhar yang mengklaim diri moderat, namun justru bersikap diskriminatif terhadap sesama Muslim berhaluan Atsari atau Salafi, seolah-olah mereka berada di luar lingkaran Aswaja. Bagi penulis, ini adalah kontradiksi yang ironis: umat yang semestinya toleran terhadap perbedaan mazhab justru sibuk saling “mengucilkan” saudara sendiri hanya karena perbedaan cara pandang yang sebenarnya masih dalam satu akar keimanan.

Penulis juga meluruskan kesalahpahaman umum lainnya bahwa moderasi kerap disalahartikan sebagai keharusan mengkolaborasikan keyakinan dengan pandangan yang berbeda, atau bersikap seperti “wasit” yang menghakimi mana yang benar dan salah. Padahal, menurutnya, wasathiyyah sejati justru lahir dari keteguhan iman yang dipadukan dengan sikap adil dan mau mendengarkan bukan dari melunturkan prinsip demi terlihat netral. Sebagai contoh, penulis menyinggung sikap Grand Syekh Ahmad Thayyib yang tetap teguh pada keyakinannya bahkan ketika berdialog dengan Paus Vatikan maupun saat menempuh studi di Sorbonne.

Definisi Ulang: Wasathiyyah Bukan Kompromi, Tapi Keseimbangan

Penulis merujuk pada empat indikator moderasi beragama yang dibakukan Kementerian Agama RI — komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal untuk menegaskan bahwa wasathiyyah yang benar adalah sikap tegas pada pokok akidah, namun toleran pada ranah furu’iyyah (cabang) yang memang bersifat relatif. Seorang yang moderat, tulisnya, harus mampu membedakan mana yang perlu dipertahankan mati-matian dan mana yang perlu disikapi dengan lapang dada.

Al-Azhar: Bukan Sekadar Pengajar Asy’ariyah

Meski secara formal Al-Azhar mengajarkan teologi Asy’ariyah, penulis mengingatkan bahwa secara historis, Masjid Al-Azhar justru menjadi ruang di mana berbagai mazhab hidup berdampingan. Dari pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa tingkat 3 jurusan Tafsir Fakultas Ushuluddin, penulis mencatat bagaimana mata kuliah fikih ibadah tetap mengutip pendapat Ibnu Taymiyah tokoh yang identik dengan mazhab Atsari.

Namun tantangannya, menurut penulis, bukan lagi soal teori, melainkan implementasi: bagaimana memastikan mahasiswa tidak sekadar menghafal definisi moderasi, tapi benar-benar mempraktikkannya, termasuk terbuka belajar dari masyayikh di luar mazhab yang mereka anut, tanpa kehilangan identitas keilmuan mereka.

Menatap ke Depan: Dari Ruang Kelas ke Augmented Reality

Bagian penutup esai ini menawarkan gagasan yang cukup segar untuk konteks akademik keislaman: pemanfaatan Augmented Reality (AR) dalam kurikulum muamalah, agar adab berbeda pendapat tidak hanya diajarkan secara doktrinal, tetapi bisa divisualisasikan sebagai pengalaman interaktif. Bagi penulis, ini adalah cara untuk menjembatani kesenjangan antara turats (tradisi) dan tajdid (pembaruan) yang selama ini kerap disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.

Esai ini menutup dengan sebuah kesimpulan yang layak direnungkan: kekuatan Al-Azhar selama 1086 tahun bukan terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuannya mengintegrasikan Atsari, Asy’ari, dan Maturidi dalam satu rumah besar bernama Ahlussunnah wal Jamaah. Klaim moderasi yang justru bersifat eksklusif, tulis penulis, adalah ancaman nyata bagi citra dan warisan institusi ini , sebuah pengingat bahwa wasathiyyah sejati dimulai dari kesediaan untuk saling mengakui, bukan saling menyingkirkan.

Baca tulisan selengkapnya, melalui tautan di bawah ini;

https://drive.google.com/file/d/1VEmlMoDBVhkkACX6TZeHnXwkIDA8S2En/view?usp=drive_link

Tags:

KaryaMasisirKemenko4LiterasiPorosPersatuanSayembaraCakrawala
Author

cairomein@gmail.com

Follow Me
Other Articles
Previous

Ketika Ilmu Pengetahuan Lama Tak Lagi Cukup: Bagaimana Al-Azhar Merekonstruksi Peradaban di Tengah Krisis Global

Next

Kuantitas Naik, Kualitas Dituding Turun: Benarkah Masisir Sebenarnya Butuh Kambing Hitam yang Salah?

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 325x300
banner 325x300
Hey, I’m PPMI Mesir
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
    by cairomein@gmail.com
    24/07/2026
  • DPD PPMI Thanta Perhatikan Kesehatan Warga Jelang Ujian
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • Masisir Kembali Banggakan Indonesia di Kanca Dunia
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • KBRI Sambut Kader Bangsa di Mesir
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

PPMI Mesir

PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir

PPMI Mesir

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn

Latest Posts

  • Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
    Oleh: Ulasan Reflektif Karya Najwan Al Baihaqi Panjaitan (Mahasiswa S1… Read more: Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
  • Status Boleh Sama, Tapi Identitas Belum Tentu: Renungan tentang Menjadi Mahasiswa vs Menjadi Penuntut Ilmu
    Ada satu ungkapan klasik yang jadi pijakan utama esai Ridwan… Read more: Status Boleh Sama, Tapi Identitas Belum Tentu: Renungan tentang Menjadi Mahasiswa vs Menjadi Penuntut Ilmu
  • Kuantitas Naik, Kualitas Dituding Turun: Benarkah Masisir Sebenarnya Butuh Kambing Hitam yang Salah?
    Pernah dengar keluhan semacam ini: “dulu antre foto iqomah cuma… Read more: Kuantitas Naik, Kualitas Dituding Turun: Benarkah Masisir Sebenarnya Butuh Kambing Hitam yang Salah?

Pages

Kontak

Phone

+20...

+62...

Email

ppmimesir@

Lokasi

Cairo, Egypt

Copyright 2026 — PPMI Mesir. All rights reserved.