Coba tarik napas sejenak dan lihat rentetan peristiwa dua dekade terakhir: menara kembar yang runtuh pada 11 September 2001, bom yang meledak di Bali dan London, hutan-hutan yang lenyap jutaan hektar setiap tahun, hingga perang yang kembali pecah di Ukraina dan Timur Tengah. Dunia terasa seperti sedang kehabisan jawaban lama untuk masalah-masalah baru.
Esai karya Aldi Susanto ini berangkat dari kegelisahan itu , dan menariknya, ia tidak langsung lompat ke solusi politik atau militer, melainkan mengajak pembaca berpikir ulang tentang cara kita memproduksi pengetahuan itu sendiri. Di sinilah nama Al-Azhar, institusi keilmuan Islam tertua di dunia, kembali relevan dibicarakan.
Ketika Paradigma Lama Kehabisan Jawaban
Penulis meminjam kerangka berpikir filsuf sains Thomas S. Kuhn (1962): ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linear, melainkan melalui fase stabil (normal science) yang lambat laun terganggu oleh anomali-anomali yang tak lagi bisa dijelaskan. Ketika anomali itu menumpuk, lahirlah krisis paradigma dan dari krisis itulah revolusi ilmu pengetahuan muncul.
Diperkuat pula oleh gagasan Abbas Jong (2022) tentang risk society, esai ini menegaskan satu hal penting: dunia hari ini tidak cukup diselesaikan dengan menambah data baru. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar pada cara berpikir, sebuah pergeseran epistemologis.
Al-Azhar: Bukan Sekadar Kampus, tapi Otoritas Sosial-Keagamaan
Di titik inilah penulis menempatkan Al-Azhar bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan otoritas sosial-keagamaan yang ikut menanggung beban krisis global. Lewat konferensi internasional, publikasi ilmiah, fatwa-fatwa moderat, dan kerja sama lintas negara, Al-Azhar menjadikan prinsip wasatiyyah (moderasi) sebagai landasan bermuamalah di panggung dunia.
Yang menarik, penulis menegaskan bahwa wasatiyyah bagi Al-Azhar bukan sekadar sikap sosial-politik untuk terlihat moderat, melainkan sungguh-sungguh sebuah metode epistemologis dalam memahami dan memproduksi pengetahuan keislaman, warisan yang sudah tertanam sejak Al-Azhar mengadaptasi ilmu-ilmu modern seperti matematika, astronomi, dan kedokteran di masa silam.
Dokumen yang Mengubah Kalender Dunia
Salah satu bukti paling konkret dari peran ini adalah Document on Human Fraternity yang ditandatangani Grand Syekh Ahmad Thayib bersama Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 2019. Dampaknya jauh melampaui simbolis: PBB menetapkan 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Internasional pada 2020, dan lahir pula komite tinggi independen (The Higher Committee of Human Fraternity) untuk mempromosikan nilai-nilai persaudaraan ke seluruh dunia. Bahkan hingga 2026, Al-Azhar masih aktif merayakan hari tersebut sebagai bagian dari promosi toleransi antaragama.
Menariknya, penulis mengutip pandangan El-Masri (2025) yang menyebut reformasi semacam ini bukan pergeseran radikal atau pembekuan tradisi (turats), melainkan reorientasi yang dikelola dengan cermat — tradisi tetap dijaga, sembari tetap menjawab tuntutan zaman.
Dari Ruang Kuliah ke Isu Iklim
Rekonstruksi peradaban ala Al-Azhar juga bergerak ke ranah internal: kurikulum pendidikan sarjana dan pascasarjana yang menanamkan nilai moderasi, publikasi buku dan jurnal tentang Islam wasatiyyah, hingga kemitraan dengan organisasi internasional.
Bahkan pada isu lingkungan, meski pengaruhnya penulis akui masih terbatas pada lingkup internal kampus, Al-Azhar telah membentuk “Unit Sustainability” pada 2023 dan turut serta dalam kompetisi UI GreenMetric, sebuah langkah kecil namun menunjukkan kesadaran bahwa tanggung jawab spiritual juga mencakup kelestarian bumi.
Warisan yang Sering Terlupakan: Al-Azhar dan Sastra Modern
Bagian yang jarang dibahas namun disorot penulis adalah peran Al-Azhar dalam kebangkitan sastra Arab modern — sebuah kontribusi yang menurutnya kerap diabaikan sejarawan sastra. Nama-nama seperti Ahmad Syauqi, Syekh Husein al-Murshy, dan Syekh Hamzah Fathullah disebut sebagai sastrawan Azhari yang turut membentuk wajah sastra modern, sebagaimana didokumentasikan dalam karya Al-Azhar Wa Atsaruhu fi al-Nahdhoh al-Adabiyyah al-Haditsiyyah (1985).
Esai ini pada akhirnya menyimpulkan sesuatu yang penting: Al-Azhar bukan sekadar institusi pendidikan pasif yang menunggu krisis reda, melainkan otoritas sosial independen yang aktif merekonstruksi peradaban, lewat diplomasi keagamaan, epistemologi keilmuan, kepedulian lingkungan, hingga warisan intelektual dan sastra. Dalam dunia yang paradigmanya sedang goyah, mungkin memang bukan data baru yang paling dibutuhkan, melainkan lembaga-lembaga yang berani berpikir ulang tentang caranya berpikir.
Baca selengkapnya melalui tautan berikut:
https://drive.google.com/file/d/1Z5GwNM_uxnavPjgGq_dCgL70_n4TJ80j/view?usp=drive_link