Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Informasi/Agenda/Ketika Ilmu Pengetahuan Lama Tak Lagi Cukup: Bagaimana Al-Azhar Merekonstruksi Peradaban di Tengah Krisis Global
AgendaArtikelBerandaEdukatifEssayIlmiahKaryaKEMENKO 4Opini

Ketika Ilmu Pengetahuan Lama Tak Lagi Cukup: Bagaimana Al-Azhar Merekonstruksi Peradaban di Tengah Krisis Global

By cairomein@gmail.com
24/07/2026 3 Min Read
0

Coba tarik napas sejenak dan lihat rentetan peristiwa dua dekade terakhir: menara kembar yang runtuh pada 11 September 2001, bom yang meledak di Bali dan London, hutan-hutan yang lenyap jutaan hektar setiap tahun, hingga perang yang kembali pecah di Ukraina dan Timur Tengah. Dunia terasa seperti sedang kehabisan jawaban lama untuk masalah-masalah baru.

Esai karya Aldi Susanto ini berangkat dari kegelisahan itu , dan menariknya, ia tidak langsung lompat ke solusi politik atau militer, melainkan mengajak pembaca berpikir ulang tentang cara kita memproduksi pengetahuan itu sendiri. Di sinilah nama Al-Azhar, institusi keilmuan Islam tertua di dunia, kembali relevan dibicarakan.

Ketika Paradigma Lama Kehabisan Jawaban

Penulis meminjam kerangka berpikir filsuf sains Thomas S. Kuhn (1962): ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linear, melainkan melalui fase stabil (normal science) yang lambat laun terganggu oleh anomali-anomali yang tak lagi bisa dijelaskan. Ketika anomali itu menumpuk, lahirlah krisis paradigma dan dari krisis itulah revolusi ilmu pengetahuan muncul.

Diperkuat pula oleh gagasan Abbas Jong (2022) tentang risk society, esai ini menegaskan satu hal penting: dunia hari ini tidak cukup diselesaikan dengan menambah data baru. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar pada cara berpikir, sebuah pergeseran epistemologis.

Al-Azhar: Bukan Sekadar Kampus, tapi Otoritas Sosial-Keagamaan

Di titik inilah penulis menempatkan Al-Azhar bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan otoritas sosial-keagamaan yang ikut menanggung beban krisis global. Lewat konferensi internasional, publikasi ilmiah, fatwa-fatwa moderat, dan kerja sama lintas negara, Al-Azhar menjadikan prinsip wasatiyyah (moderasi) sebagai landasan bermuamalah di panggung dunia.

Yang menarik, penulis menegaskan bahwa wasatiyyah bagi Al-Azhar bukan sekadar sikap sosial-politik untuk terlihat moderat, melainkan sungguh-sungguh sebuah metode epistemologis dalam memahami dan memproduksi pengetahuan keislaman, warisan yang sudah tertanam sejak Al-Azhar mengadaptasi ilmu-ilmu modern seperti matematika, astronomi, dan kedokteran di masa silam.

Dokumen yang Mengubah Kalender Dunia

Salah satu bukti paling konkret dari peran ini adalah Document on Human Fraternity yang ditandatangani Grand Syekh Ahmad Thayib bersama Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 2019. Dampaknya jauh melampaui simbolis: PBB menetapkan 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Internasional pada 2020, dan lahir pula komite tinggi independen (The Higher Committee of Human Fraternity) untuk mempromosikan nilai-nilai persaudaraan ke seluruh dunia. Bahkan hingga 2026, Al-Azhar masih aktif merayakan hari tersebut sebagai bagian dari promosi toleransi antaragama.

Menariknya, penulis mengutip pandangan El-Masri (2025) yang menyebut reformasi semacam ini bukan pergeseran radikal atau pembekuan tradisi (turats), melainkan reorientasi yang dikelola dengan cermat — tradisi tetap dijaga, sembari tetap menjawab tuntutan zaman.

Dari Ruang Kuliah ke Isu Iklim

Rekonstruksi peradaban ala Al-Azhar juga bergerak ke ranah internal: kurikulum pendidikan sarjana dan pascasarjana yang menanamkan nilai moderasi, publikasi buku dan jurnal tentang Islam wasatiyyah, hingga kemitraan dengan organisasi internasional.

Bahkan pada isu lingkungan, meski pengaruhnya penulis akui masih terbatas pada lingkup internal kampus, Al-Azhar telah membentuk “Unit Sustainability” pada 2023 dan turut serta dalam kompetisi UI GreenMetric, sebuah langkah kecil namun menunjukkan kesadaran bahwa tanggung jawab spiritual juga mencakup kelestarian bumi.

Warisan yang Sering Terlupakan: Al-Azhar dan Sastra Modern

Bagian yang jarang dibahas namun disorot penulis adalah peran Al-Azhar dalam kebangkitan sastra Arab modern — sebuah kontribusi yang menurutnya kerap diabaikan sejarawan sastra. Nama-nama seperti Ahmad Syauqi, Syekh Husein al-Murshy, dan Syekh Hamzah Fathullah disebut sebagai sastrawan Azhari yang turut membentuk wajah sastra modern, sebagaimana didokumentasikan dalam karya Al-Azhar Wa Atsaruhu fi al-Nahdhoh al-Adabiyyah al-Haditsiyyah (1985).

Esai ini pada akhirnya menyimpulkan sesuatu yang penting: Al-Azhar bukan sekadar institusi pendidikan pasif yang menunggu krisis reda, melainkan otoritas sosial independen yang aktif merekonstruksi peradaban,  lewat diplomasi keagamaan, epistemologi keilmuan, kepedulian lingkungan, hingga warisan intelektual dan sastra. Dalam dunia yang paradigmanya sedang goyah, mungkin memang bukan data baru yang paling dibutuhkan, melainkan lembaga-lembaga yang berani berpikir ulang tentang caranya berpikir.

Baca selengkapnya melalui tautan berikut:

https://drive.google.com/file/d/1Z5GwNM_uxnavPjgGq_dCgL70_n4TJ80j/view?usp=drive_link

Tags:

KaryaMasisirKememenko4LiterasiPorosPersatuanSayembaraCakrawala
Author

cairomein@gmail.com

Follow Me
Other Articles
Previous

Ketika Dunia Terluka, Siapa yang Menjahitnya Kembali? Al-Azhar dan Fethullah Gülen tentang Peradaban yang Menyembuhkan

Next

1086 Tahun Menjaga Keseimbangan: Bagaimana Al-Azhar Merangkai Tiga Wajah Ahlussunnah Menjadi Satu

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 325x300
banner 325x300
Hey, I’m PPMI Mesir
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
    by cairomein@gmail.com
    24/07/2026
  • DPD PPMI Thanta Perhatikan Kesehatan Warga Jelang Ujian
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • Masisir Kembali Banggakan Indonesia di Kanca Dunia
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • KBRI Sambut Kader Bangsa di Mesir
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

PPMI Mesir

PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir

PPMI Mesir

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn

Latest Posts

  • Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
    Oleh: Ulasan Reflektif Karya Najwan Al Baihaqi Panjaitan (Mahasiswa S1… Read more: Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang
  • Status Boleh Sama, Tapi Identitas Belum Tentu: Renungan tentang Menjadi Mahasiswa vs Menjadi Penuntut Ilmu
    Ada satu ungkapan klasik yang jadi pijakan utama esai Ridwan… Read more: Status Boleh Sama, Tapi Identitas Belum Tentu: Renungan tentang Menjadi Mahasiswa vs Menjadi Penuntut Ilmu
  • Kuantitas Naik, Kualitas Dituding Turun: Benarkah Masisir Sebenarnya Butuh Kambing Hitam yang Salah?
    Pernah dengar keluhan semacam ini: “dulu antre foto iqomah cuma… Read more: Kuantitas Naik, Kualitas Dituding Turun: Benarkah Masisir Sebenarnya Butuh Kambing Hitam yang Salah?

Pages

Kontak

Phone

+20...

+62...

Email

ppmimesir@

Lokasi

Cairo, Egypt

Copyright 2026 — PPMI Mesir. All rights reserved.