Status Boleh Sama, Tapi Identitas Belum Tentu: Renungan tentang Menjadi Mahasiswa vs Menjadi Penuntut Ilmu
Ada satu ungkapan klasik yang jadi pijakan utama esai Ridwan Nullah Kamal ini: al-‘ilmu bila ‘amalin kasy-syajari bila tsamarin, ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Kalimat sederhana itu ternyata membuka pertanyaan yang jauh lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik membludaknya jumlah mahasiswa Indonesia di Al-Azhar, Mesir.
Berangkat dari sebuah seminar PPMI Mesir yang membahas data pertumbuhan Masisir dan tantangan sistemiknya, penulis justru terpaku pada satu pertanyaan yang menurutnya lebih mendasar dari sekadar soal regulasi dan seleksi: apakah kenaikan kuantitas Masisir benar-benar berjalan seiring dengan kenaikan kualitasnya?
Jumlah Hanyalah Potensi, Bukan Jaminan
Penulis tidak menampik bahwa bertambahnya mahasiswa Indonesia di Mesir adalah kabar baik, tanda kepercayaan masyarakat terhadap Al-Azhar sebagai pusat keilmuan Islam dunia semakin besar. Tapi ia mengingatkan sesuatu yang sering terlupakan: sejarah tidak pernah dibangun oleh banyaknya manusia semata, melainkan oleh kualitas manusia yang menggerakkannya.
Untuk memperkuat argumen ini, penulis meminjam Teori Human Capital dari ekonom Gary Becker, bahwa kemajuan suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, bukan sekadar jumlahnya. Artinya, kenaikan jumlah mahasiswa baru benar-benar menjadi “investasi” jika diiringi peningkatan kompetensi, karakter, dan produktivitas intelektual, bukan sekadar angka statistik yang membanggakan di atas kertas.
Krisis yang Tersembunyi: Status Bukan Identitas
Bagian paling menarik dari esai ini adalah cara penulis membedah akar masalah yang menurutnya sering luput dari pembahasan: krisis identitas. Ia menegaskan perbedaan mendasar antara status dan identitas, status hanyalah pengakuan administratif karena nama seseorang terdaftar di universitas, sedangkan identitas adalah kesadaran yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan menjalankan tanggung jawab.
Untuk menjelaskan ini, penulis merujuk Teori Social Identity dari Henri Tajfel: perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh identitas yang ia yakini tentang dirinya sendiri. Ketika seseorang benar-benar mengidentifikasi dirinya sebagai thalib al-‘ilm (penuntut ilmu), belajar bukan lagi beban yang harus dipaksa, melainkan kebutuhan yang menjadi bagian dari jati dirinya, sama seperti seorang pelari yang tidak pernah bertanya “haruskah aku berlari hari ini?”, karena berlari sudah menyatu dengan siapa dirinya.
Warisan Al-Azhar Bukan Gedung Megah, tapi Budaya Belajar
Penulis mengingatkan bahwa selama lebih dari seribu tahun, Al-Azhar tidak dikenal karena kemegahan bangunan atau banyaknya mahasiswa, melainkan karena berhasil menjaga tradisi keilmuan yang kuat, talaqqi, muthala’ah, mudzakarah, penghormatan kepada guru, serta budaya membaca dan berdiskusi yang diwariskan lintas generasi.
Ia juga mengutip Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, yang menegaskan bahwa ilmu tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses bertahap (at-tadarruj), pengulangan, diskusi, dan pembiasaan. Sayangnya, menurut penulis, budaya inilah yang justru mulai memudar, banyak mahasiswa merasa cukup hanya dengan hadir di ruang kuliah tanpa membangun kebiasaan membaca kitab di luar kelas.
Dari Growth Mindset hingga Kebiasaan Kecil yang Konsisten
Penulis kemudian menyinggung konsep Growth Mindset dari Carol Dweck, bahwa individu yang benar-benar berkembang adalah mereka yang memandang dirinya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Bagi mahasiswa Al-Azhar, diterima di universitas bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk terus bertumbuh.
Karena itu, penulis menawarkan solusi yang tidak melulu bertumpu pada sistem atau kebijakan administratif, melainkan pada pembangunan ekosistem akademik: organisasi kemahasiswaan yang menjadi ruang diskusi ilmiah yang hidup, senior yang berperan sebagai mentor tradisi belajar bagi junior, kajian kitab, forum bedah buku, hingga pelatihan menulis dan publikasi karya ilmiah. Di sisi lain, penulis juga menekankan pentingnya disiplin pribadi lewat kebiasaan kecil yang konsisten, membaca beberapa halaman kitab setiap hari, menulis ringkasan belajar, aktif berdiskusi, dan memperdalam bahasa Arab di waktu luang.
Esai ini ditutup dengan mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Bagi penulis, ayat ini adalah pengingat bahwa sistem yang baik memang penting, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan kesadaran pribadi.
Pesan penutupnya terasa seperti tamparan halus sekaligus ajakan reflektif: meningkatnya kuantitas Masisir adalah amanah, bukan sekadar pencapaian statistik yang layak dibanggakan. Ia baru benar-benar menjadi kebanggaan jika para mahasiswa pulang membawa ilmu yang mendalam, adab yang kokoh, dan karya yang bermanfaat. Sebab, sebagaimana ditegaskan penulis di kalimat penutup, peradaban tidak dibangun oleh banyaknya orang yang hadir di ruang kuliah , melainkan oleh mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup.
Baca karya Ridwan selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
https://drive.google.com/file/d/1FBgDPPbINFwqoOVS6JZVZ4A1bxj22TVZ/view?usp=drive_link