Oleh: Ulasan Reflektif Karya Najwan Al Baihaqi Panjaitan (Mahasiswa S1 Ushuluddin Al-Azhar / HMMSU)
Berdiri gagah di bumi Kairo sebagai Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) dan disapa hangat dengan
julukan istimewa “Ahsanan-naas” (manusia terbaik) bukanlah sebuah kebetulan semata. Kehormatan sosial
tersebut adalah buah peras keringat, air mata, dan perjuangan panjang para ulama serta tokoh pendahulu kita.
Namun, di balik nama besar warisan Al-Azhar tersebut, sebuah tulisan reflektif nan tajam karya Najwan Al Baihaqi
Panjaitan membuka mata kita pada realitas yang getir: apa yang terjadi ketika lonjakan kuantitas mahasiswa justru
beriringan dengan penurunan kualitas akademik dan degradasi moralitas?
MENUMPANG DI BAHU PARA RAKSASA KEILMUAN
Tulisan ini dibuka dengan mengutip ungkapan legendaris Isaac Newton: “If I have seen further it is by standing on the shoulders of Giants.” Najwan mengingatkan bahwa kemudahan fasilitas, keramahan warga lokal, dan tingginya
penghormatan sosial yang dinikmati Masisir hari ini dibangun di atas fondasi kokoh para pendahulu. Tokoh-tokoh besar bangsa seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. M. Quraish Shihab, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hingga dai kontemporer seperti Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Hanan Attaki telah mengukir
citra mulia Al-Azhar di tanah air dan internasional melalui kegigihan, kedisiplinan, dan kedalaman ilmu.
PARADOX KUANTITAS VS KUALITAS: REALITAS DATA KBRI KAIRO
Di balik harumnya nama para almamater, fakta di lapangan menunjukkan adanya anomali yang memprihatinkan.
Najwan membeberkan data resmi dari forum diskusi KBRI Kairo yang menunjukkan penurunan drastis persentase
kelulusan akademik tepat waktu seiring dengan meledaknya jumlah kedatangan mahasiswa:
PERBANDINGAN AKADEMIK & KASUS NON-AKADEMIK MASISIR
Angkatan 2019: Tingkat kelulusan mencapai 81% (913 dari 1.125 mahasiswa lulus tepat waktu). Angkatan 2020: Saat terjadi lonjakan kuantitas, tingkat kelulusan anjlok menjadi 45% (hanya 796 dari 1.755 mahasiswa). Tahun 2025: KBRI Kairo mencatat 1.070 kasus non-akademik, mulai dari konflik fisik antarkelompok kekeluargaan, gaya hidup bebas, pelanggaran norma di media sosial, pacaran melampaui batas, hingga kasus asusila.
MELEMAHNYA KONTROL SOSIAL DI TANAH PERANTAUAN
Mengapa kebebasan di tanah perantauan justru kerap menjadi bumerang? Najwan menganalisis fenomena ini
menggunakan pendekatan psikologi sosial, yaitu Social Control Theory dari Travis Hirschi (Causes of Delinquency).
“Kepatuhan terhadap norma tidak semata-mata lahir karena rasa takut pada hukuman, melainkan karena
kuatnya ikatan sosial dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat.”
— Social Control Theory (Travis Hirschi)
Ketika ikatan ini mengendur di perantauan dan jauh dari pengawasan figur otoritas, sebagian mahasiswa salah
mengartikan kebebasan. Kebebasan yang semestinya diimbangi dengan tanggung jawab moral justru berubah menjadi ruang tanpa batas, meruntuhkan rasa mawas diri, rasa malu, dan rasa ‘tahu diri’.
MENYALAKAN KESADARAN DIRI (SELF-AWARENESS) SEBAGAI BENTENG UTAMA
Pemerintah melalui Kemenag RI dan KBRI Kairo telah mengambil langkah tegas melalui pengetatan jalur broker,
matrikulasi di tanah air, hingga sanksi disiplin. Namun, artikel ini menyoroti bahwa regulasi eksternal tidak akan
pernah cukup tanpa adanya kesadaran internal. Merujuk pada riset psikologi pendidikan kuantitatif dalam Jurnal Edukatif (Masi dkk., 2022), terdapat korelasi positif yang sangat kuat antara kesadaran diri (self-awareness) dan kemampuan manajemen diri (self-management).
Mahasiswa yang memiliki kesadaran tinggi terbukti mampu: Menjalankan manajemen waktu secara mandiri di tengah sistem belajar Al-Azhar yang sangat bebas. Melangkah sukarela ke majelis-majelis talaqqi dan menguasai diktat kuliah tanpa perlu diawasi. Menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi (seperti menjadi mutawif atau berbisnis kuliner) tanpa mengorbankan poros utama mereka: menuntut ilmu di Bumi Kinanah.
Masa depan Masisir tidak ditentukan oleh seberapa besar jumlah mahasiswa yang memadati Kairo, melainkan oleh
seberapa besar setiap individu mampu memegang teguh amanah ilmu dan adab. Lonjakan kuantitas seharusnya menjadi kekuatan besar, bukan beban sosial dan moral.
Baca Karya Najwan selengkapnya melalui tautan di bawah ini;
https://drive.google.com/file/d/1MaXIuPUOfWLlxlg7JYirTc-Nk8bGfneM/view?usp=drive_link