Sholat Tarawih Delapan atau Dua Puluh Rakaat ?

 Sholat Tarawih Delapan atau Dua Puluh Rakaat ?

Istifadah dari penjelasan yang dipaparkan oleh al-Allamah Syeikh Abdul Aziz As-Syihawi Asyyafi’i al Azhari.

Pertanyaan yang selalu terjadi di bulan yang suci ini, shalat tarawih dikerjakan dua puluh rakaat atau delapan rakaat?.

Pada dasarnya tidak banyak perbedaan dalam madzhab fiqih mengenai jumlah rakaat shalat tarawih pada bulan ramadan seperti yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam bidayatul mujtahid dalam ibarohnya beliau berkata:

واختلفوا في المختار من عدد الركعات التي يقوم بها الناس في رمضان : فاختار مالك في أحد قوليه ، وأبو حنيفة ، والشافعي ، وأحمد ، ودواد : القيام بعشرين ركعة سوى الوتر ، وذكر ابن القاسم عن مالك أنه كان يستحسن ستا وثلاثين ركعة والوتر ثلاث

Baca juga: Tutorial Pendaftaran Seleksi Calon Mahasiswa ke Timur Tengah (Beasiswa dan Non Beasiswa Program S1) Tahun 2021

Dan para ulama berbeda pendapat dalam pemilihan jumlah rakaat dalam sholat tarawih di bulan ramadan, Imam Malik bin Anas pada salah satu pendapatnya, kemudian Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan begitu pula Dawud azh-Zhahiri, memilih jumlah shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Dan pendapat lain dikemukakan oleh Abd. ar-Rahman ibn al-Qasim al-‘Utaqi dari Imam Malik yang menyatakan tarawih itu sejumlah 36 rakaat kemudian tiga rakaat shalat witir.

Sebab perbedaan seputar jumlah tarawih merujuk pada hadist berikut:

Riwayat Imam Bukhari dan Muslim (2013/837) :

 ١. عن أبي سَلمةَ بنِ عبدِ الرحمنِ أنَّه سألَ عائشةَ رَضِيَ اللهُ عَنْها: كيف كانتْ صلاة رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في رمضان؟ فقالت: ((ما كان يَزيدُ في رمضانَ، ولا في غيرِه على إحْدى عَشرةَ ركعةً ؛ يُصلِّي أربعَ رَكَعاتٍ فلا تسألْ عن حُسنهنَّ وطولهنَّ، ثم يُصلِّي أربعًا، فلا تسألْ عن حُسنهنَّ وطولهنِّ ، ثم يُصلِّي ثلاثًا))

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia pernah bertanya kepada Aisyah: “Bagaimana shalat Nabi Muhammad di bulan Ramadan?”. Aisyah menjawab: “Beliau tidak menambah pada bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat; shalat empat rakaat, dan jangan tanyakan yang betapa bagus dan lama, lantas shalat empat rakaat, kemudian tiga rakaat.”

Baca juga: Petunjuk Teknis Program Seleksi Calon Mahasiswa Ke Timur Tengah ( Beasiswa dan Non Beasiswa Program S1) Tahun 2021

Hadis diatas merupakan sandaran untuk para ulama yang berpendapat bahwasanya shalat tarawih berjumlah delapan rakaat dan tiga rakaat setelahnya adalah witir. Kendati demikian banyak ulama yang menafsirkan makna hadis tersebut merupakan penjelasan tentang jumlah rakaat dan tata cara shalat witir dan bukan tarawih.

Dalam Hadis Ini Syeikh Atiyyah Saqar berpendapat :

1. Dan dalam pemaknaan (shalat empat rakaat) tidak menafikan bahwasanya Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam mengerjakanya dengan satu salam dalam setiap dua rakaatnya, dengan sandaran Hadis Rasulullah Saw, :

“صلاة الليل مثنى مثنى”.

Shalat malam dikerjakan dengan dua rakaat dua rakaat.

2. Dan maksud dari ( يصلي ثلاثا ) bahwasanya Rasullullah Saw, mendirikan shalat witir dengan satu rakaat ganjil dan dua rakaat genap. Dengan bersandar pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Sayyidah Aisyah ra, berkata: Rasulullah Saw, mendirikan shalat malam sebanyak sebelas rakaat dan satu rakaatnya diantaranya witir.

Al-Allamah Syeikh Abdul Aziz Syihawi memberikan uraian tentang pemahaman hadis diatas, beliau berkata:

Baca juga: Mengapa Shalawat Dalāil al-Khairāt Begitu Istimewa, Apa Rahasianya?

Apabila hadis ini berkaitan dengan shalat tarawih, maka tarawih dilakukan pada setiap malam selama satu tahun, atau dalam kata lain hadis itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah rakaat shalat malam Nabi SAW., baik di dalam bulan Ramadan dan juga di luar bulan Ramadan. dan apabila hadis ini berkaitan dengan shalat witir maka dimanakah dalil shalat tarawih?.

Dalam hal ini jelas para pendukung shalat 20 rakaat menafsirkan bahwasanya hadis yang disebutkan oleh Sayyidah Aisyah merupakan hadis tentang shalat malam dan bukan shalat tarawih. Ijtihad Khalifah Umar bin khattab adalah sandaran yang kuat dalam penerapan dua puluh rakaat dalam tarawih yang diamini juga oleh para Sahabat pada waktu itu. (Ijma’Sukuti).

Dan juga ijtihad para imam yang harus kita amini dan ikuti kebenaranya seperti yang dikatakan oleh Imam Ibrahim Al- Laqqani salah satu pemuka madzhab maliki dalam Jauharah At- Tauhid:

ومالك وسائر الأئمة *** كذا أبو القاسم هداة الأمة
فواجب تقليد حبر منهم ** كذا حكى القوم بلفظ يفهم

Dan pendapat inilah yang dijadikan sandaran oleh para ulama mazhab, khususnya Mazhab Syafi’i dalam pengerjaan dua puluh rakaat dalam shalat tarawih berdasarkan keutamaanya, dan sudah banyak dituliskan oleh para ulama madzhab syafi’i dalam kitab-kitab mazhab. Adapun apabila memilih jumlah rakaat yang berbeda, maka itu bukan sebuah masalah yang riskan yang harus diperdebatkan. Semoga kita semua selalu mendapatkan keberkahan di bulan yang mulia ini, marhaban ya Ramadan.

Penulis : Ade Rizal Kuncoro

Editor: Syaifur Rohman

 

Ingin tulisan Anda diupload dan direpost di website PPMI, silahkan bisa hubungi  Narahubung di bawah ini:

– wa.me/201019533008 (Wijaya) Pimred Website PPMI Mesir.
– wa.me/201140841837 (Syaifur) Dirut Website PPMI Mesir.
– wa.me/201559711656 (Nadya) Humas Website PPMI Mesir.

Atau bisa langsung DM Instagram Website PPMI Mesir @ppmimesir.or.id

Syarat dan ketentuan berlaku

______________
#PPMI Mesir, milik bersama

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *