Dari Keresahan Jadi Gerakan: Kisah di Balik Lahirnya PPMI Records
Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Luthfi Raihan Tamam, Menteri Pengembangan Minat dan Bakat PPMI Mesir.
Tidak semua pencapaian lahir di atas panggung. Banyak yang tumbuh dalam diam, kadang di sela-sela jadwal kuliah, organisasi, bahkan sekadar kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Ada yang berhasil menerbitkan buku, sukses di bidang Kreatif, meraih Asyro Awail (red: peringkat 10 teratas ujian Fakultas di Universitas Al-Azhar), atau membuka math’am (red: rumah makan) yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Sayangnya, banyak dari kisah tersebut hanya dikenal oleh lingkungan terdekat. Setelah beberapa waktu, cerita itu perlahan menghilang tanpa pernah terdokumentasikan sebagai bagian dari perjalanan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Padahal, setiap karya dan pencapaian layak untuk dikenang, diapresiasi, serta dijadikan inspirasi bagi yang lain.
Berlandaskan alasan tersebut, PPMI Records lahir sebagai wadah pencatatan dan penghargaan prestasi Masisir.
Ketika Prestasi Tak Pernah Dicatat dan Tidak Tersebar
Luthfi Raihan Tamam, Menteri Pengembangan Minat dan Bakat PPMI Mesir, menyebut persoalan ini sebagai fokus utama munculnya program tersebut. Baginya, kegelisahan itu bukan suatu hal yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil pengamatan yang berlangsung cukup lama terhadap dinamika dan polemik Masisir dari tahun ke tahun.
Menurutnya, capaian Masisir sebenarnya banyak dan beragam mulai dari akademik, organisasi, seni, hingga media, namun jarang sekali didokumentasikan secara sistematis. “Nilai inspirasinya jadi tidak tersebar begitu masif di kalangan Masisir,” ujarnya.
Padahal, cerita-cerita semacam itu semestinya bisa menjadi pemantik bagi yang lain untuk terus berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Ia percaya bahwa dorongan untuk berkontribusi sering kali tidak lahir dari nasihat atau seruan, melainkan dari melihat langsung bahwa orang lain, yang berada di lingkungan yang sama, yang menghadapi keterbatasan yang sama sebagai seorang perantau juga bisa mencapai sesuatu yang luar biasa. Ketika hal semacam itu tidak pernah terdengar, potensi untuk saling menginspirasi pun ikut hilang begitu saja.
Berangkat dari sana, gagasan PPMI Records mulai dirumuskan, mulai dari upaya mencatat, mempublikasikan pencapaian Masisir yang selama ini luput dari sorotan, sekaligus menjadikannya arsip yang bisa terus dilihat di tahun-tahun berikutnya.
Bukan Ajang Pendaftaran, Tapi Penghargaan yang Menemukan Sendiri Penerimanya
Salah satu hal yang membedakan PPMI Records dari ajang-ajang penghargaan lain di lingkungan Masisir adalah cara kerjanya. Selama ini, penghargaan yang diselenggarakan oleh senat kekeluargaan maupun lembaga otonom biasanya dibuka lewat jalur pendaftaran, lengkap dengan berkas, kriteria tertulis, sampai proses seleksi yang cukup panjang sebelum akhirnya menentukan siapa yang berhak menerima.
Berbeda dengan lainnya, PPMI Records berjalan dengan cara yang berbeda.
“Penghargaan itu betul-betul diberikan kepada mereka yang prestasi dan kontribusinya telah berbicara banyak, baik terlihat di kanal media maupun terdengar dari berbagai pihak,” jelasnya.
Tidak ada formulir yang perlu diisi, tidak ada berkas yang perlu dikumpulkan, tidak ada masa pendaftaran yang harus ditunggu. Nama-nama calon penerima justru ditemukan lewat pengamatan panjang dari pihak PPMI Records, dari apa yang tersebar di media sosial, dari apa yang dibicarakan orang-orang di lingkungan kekeluargaan, hingga dari cerita yang berpindah dari mulut ke mulut tanpa direncanakan.
Pendekatan semacam ini tentu bukan tanpa alasan. Menurut Luthfi, sifatnya yang eksklusif justru menjadi identitas utama PPMI Records. Dengan kata lain, PPMI Records tidak mencari siapa yang berprestasi, melainkan menemukan mereka yang prestasinya sudah lebih dulu dikenal luas tanpa perlu promosi tambahan.
Berbagai Bidang untuk Ruang Berkarya Masisir
Sebelum menentukan siapa yang layak menerima penghargaan, pihak PPMI Records terlebih dahulu berusaha memetakan bidang-bidang yang paling banyak menjadi ruang berkarya mahasiswa Indonesia di Mesir. Menurut Luthfi, proses ini tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan pengamatan yang cukup panjang terhadap dinamika Masisir agar kategori yang disusun benar-benar mampu merepresentasikan berbagai bentuk pencapaian yang ada di Masisir.
Dari proses tersebut lahirlah beberapa bidang utama, yakni akademik dan keilmuan, seni, budaya, dan kreativitas, media, komunikasi, dan digital. Kategori itu dipilih bukan sekadar untuk mengelompokkan prestasi, melainkan sebagai cara melihat bagaimana potensi dan kontribusi Masisir berkembang selama ini.
Setelah kategori ditetapkan, barulah tim mulai menyeleksi nama-nama yang dinilai memiliki capaian paling menonjol di bidangnya masing-masing. Ia kemudian memberi contoh dua penerima penghargaan untuk menggambarkan proses tersebut.
Sastralingga, misalnya, menerima penghargaan di bidang seni, budaya, dan kreativitas. Menurut Luthfi, belum ada Masisir lain yang mampu menghadirkan pementasan teater sekaligus menerbitkan buku setebal ratusan halaman dalam rentang waktu yang berdekatan. Perpaduan dua karya besar itulah yang menjadikan pencapaiannya layak mendapat apresiasi.
Begitu pula dengan Jeihan Hafiya Hernanto, selain memiliki rekam jejak akademik yang baik, Jeihan juga menjadi salah satu pendiri Elite Academia, komunitas pembelajaran bahasa Inggris bagi Masisir, sehingga meningkatkan minat serta kemampuan bahasa inggris bagi Masisir secara luas.
Contoh lain adalah Sergio Syamil di bidang media, komunikasi, dan digital. Luthfi menilai penghargaan itu bukan diberikan semata-mata karena Sergio aktif membuat konten. Di kalangan Masisir, konten kreator bukanlah sesuatu yang langka. Namun, Sergio berhasil membangun audiens hingga puluhan ribu pengikut, sebuah capaian yang belum pernah dicapai Masisir lain. Bagi tim PPMI Records, keunikan dan skala pencapaian itulah yang menjadi pembeda.
Menariknya, hampir seluruh capaian para penerima sudah lebih dahulu dikenal oleh masyarakat Masisir. Karena itu, menurut Luthfi, proses validasi justru berjalan relatif mudah.
“Bahkan tanpa perlu diverifikasi lebih jauh, semua pihak di kalangan Masisir memvalidasi kebenaran capaian tersebut.” Ungkapnya.
Hal itu menunjukkan bahwa nama-nama yang dipilih bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan telah memiliki rekam jejak yang diakui oleh lingkungan sekitarnya.
Standar yang Tidak Selalu Diukur dengan Angka
Berbeda dengan banyak ajang penghargaan yang menggunakan sistem penilaian rinci, PPMI Records tidak memiliki skor tertentu dalam menentukan penerima penghargaan. Tidak ada pembobotan nilai khusus yang digunakan.
Sebaliknya, lebih berfokus pada seberapa unik sebuah capaian dan seberapa jarang prestasi tersebut ditemukan di kalangan Masisir.
“Untuk standar khususnya, kami lebih merujuk pada apakah capaian tersebut unik dan langka, serta belum banyak Masisir yang melakukan hal serupa. Sehingga hal itu patut kami masukkan dalam catatan prestasi Masisir.”, Terangnya.
Tantangan di Balik Proses Seleksi
Menurut Luthfi, tantangan terbesar selama penyelenggaraan PPMI Records justru muncul pada tahap awal, ketika harus menentukan standar penilaian. Karena belum pernah ada program serupa sebelumnya, mereka tidak memiliki acuan yang benar-benar bisa dijadikan pedoman.
Untuk mengatasi hal tersebut, setiap informasi mengenai calon penerima diverifikasi melalui berbagai pihak. Dari menghubungi senat kekeluargaan masing-masing daerah, teman-teman terdekat, hingga orang-orang yang menyaksikan langsung proses di balik pencapaian tersebut.
“Ternyata hal-hal tersebut tervalidasi, baik dari pihak kekeluargaan maupun teman-teman terdekat yang memang melihat langsung prestasi orang tersebut.”
Selain persoalan penilaian, pertanyaan lain yang cukup sering muncul adalah mengapa hanya tiga orang yang menerima penghargaan, padahal masih banyak Masisir lain yang juga memiliki prestasi membanggakan.
Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal sebenarnya terdapat lebih banyak nama yang masuk dalam daftar rekomendasi. Namun, ketika proses konfirmasi dilakukan, sebagian calon penerima sedang berada di luar Kairo sehingga tidak memungkinkan hadir dalam malam penganugerahan. Sebagian lainnya juga memilih untuk tidak tampil atau belum bersedia menerima penghargaan secara terbuka.
Pada akhirnya, hanya tiga orang yang memenuhi dua syarat sekaligus, yaitu memiliki capaian yang layak diapresiasi dan bersedia hadir menerima penghargaan. Menurutnya, kondisi tersebut sama sekali tidak berarti bahwa nama-nama lain kurang pantas, melainkan lebih disebabkan oleh keterbatasan teknis dan kesiapan masing-masing individu.
Harapan agar Terus Berlanjut
Bagi Luthfi, PPMI Records tidak dimaksudkan sebagai seremoni yang selesai dalam satu malam. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan berkembang pada periode-periode berikutnya.
Menurutnya, dokumentasi yang konsisten terhadap berbagai prestasi Masisir akan membangun citra positif mahasiswa Indonesia di Mesir sebagai komunitas yang aktif dan mampu memberikan kontribusi nyata di berbagai bidang.
Di sisi lain, Ia juga berharap keberadaan PPMI Records mampu menghadirkan efek yang lebih luas, yakni menjadi sumber inspirasi bagi Masisir lainnya.
“Masisir lain yang melihatnya bisa mendapatkan nilai inspiratif, agar terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi, baik dari skala yang paling kecil sampai skala yang lebih besar.”
Bagi Luthfi, penghargaan hanyalah bagian kecil dari tujuan besar PPMI Records. Nilai terpenting justru terletak pada semangat yang dapat ditularkan kepada mahasiswa lain untuk terus berkarya dan memberikan manfaat.
“PPMI Mesir selaku organisasi induk, mulai tahun ini berupaya untuk lebih berbenah dan melihat prestasi-prestasi Masisir, kemudian mengapresiasinya. Sebab, sudah sepatutnya setiap prestasi itu penting untuk diapresiasi dan diabadikan.”, tutupnya.
Pada akhirnya, PPMI Records bukan sekadar penghargaan atau deretan nama penerima apresiasi. Lebih dari itu, program ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa setiap jejak karya, inovasi, dan kontribusi Masisir memiliki ruang untuk dikenang. Sebab, di balik kehidupan sebagai mahasiswa, selalu ada kisah tentang orang-orang yang terus berkarya dan selalu ada alasan mengapa kisah-kisah itu layak dicatat serta dikenang.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie