8 Fondasi Seorang Azhari

 8 Fondasi Seorang Azhari

Syekh Jamal Faruq

Sejak berabad-abad tahun lamanya, Al-Azhar telah menjadi pusat sumber mengalir derasnya ilmu. Bahkan, ujar Maulana Syeikh Jamal, 2 Universitas Islam tertua di dunia sekali pun – yang jaraknya berkisar 1-2 abad – mereka sempat merujuk ke Al-Azhar yang beda tingkat umur di bawahnya. Baik dari segi bahasa, sistem, nilai keilmuan, sanad, dan lain sebagainya. Seolah Al-Azhar menjadi rujukan yang komprehensif di mata mereka.

Sejatinya Manhaj Al-Azhar bukanlah sebatas bangunan yang secara tiba-tiba jadi begitu saja. Layaknya bangunan dimana ia mampu berdiri tegak nan kokoh karena fondasinya yang begitu kuat. Maka tak salah, bila Manhaj Al-Azhar sendiri, pasti ada fakta kokohnya fondasi yang telah didirikan untuk membangun sebuah Manhaj yang begitu kokoh. Asal kalian tahu, tegas Maulana Syeikh Jamal –hafidzohullah-, berkali-kali oknum ingin menjatuhkan Al-Azhar, ingin mempermainkan Al-Azhar dengan politik dan kekuasaan, ingin menggerogoti Al-Azhar dengan mengkarati rel-relnya, memfitnah Al-Azhar dengan berbagai kontroversi dan hinaan belaka. Tapi apa, atas keberkahan Al-Azhar, ia masih tetap berdiri kokoh bangunannya, pola pikir dan manhajnya; saking begitu kuat fondasinya.

Bangunan Manhaj Al-Azhar yang begitu kokoh telah ditopang dengan fondasi yang amat kuat. Sebut Maulana Syeikh Jamal, ada 8 fondasi yang lazim ditanamkan pada jati diri seorang Azhari:

1) Kesinambungan Sanad
Keutamaan suatu ilmu dimana ia memiliki sanad yang jelas nan akurat. Ilmu tanpa sanad, seolah manusia bermain kata tentang ilmu atas kemauannya dan sepahamnya; yang tidak mengikuti tatanan cara dan jalur turun-temurun ilmu secara faktual – yang bersambung pada Baginda Nabi. Dimana sanad ini, jelas Syeikh Jamal, terbagi sanad secara dalil-dalil kontekstual dalam bentuk riwayah, secara pemahaman dan keterpercayaan dalam bentuk dirayah, dan secara ketulusan batin dalam bentuk tadzkiyah. Sungguh fatal ketika seorang mengaku dirinya Azhari, tapi ketika di Al-Azhar ia tidak berguru, tidak mencari guru.

Terang Syeikh Jamal, berguru di sini bukan sebatas kamu datang di majelis; ikut mengaji, lalu pulang. Berguru bukan sebatas kamu mendapat maklumat baik secara maklumat dzahirnya lalu kamu berwawasan. Akan tetapi sejatinya berguru dimana kamu bersentuhan langsung secara batin ruhnya dengan seorang guru. Bertatap muka sehingga sang guru mampu mengirsyad dan membimbing membuka pintu hati keilmuanmu secara Ainurridho.

2) Intelektual dalam Ilmu Alat
“Bagaimana kamu bisa memahami kitab babon sementara alatmu saja masih tumpul!” Tegas Syeikh Jamal. Bukanlah seorang Azhari ketika ia belum kuat ilmu alatnya, tapi sudah terjun dan merasa bisa baca kitab-kitab babon; ibarat Tafsir Thabari, Shohih Bukhari, dll. Ibarat ada ayam bagaimana ia mampu memotong dan memasaknya dengan nikmat bila pisau saja tak punya sebagai alat untuk mengolahnya! Jangan sesekali menyentuh kitab Muthawwalat bila Mantik, Nahwu, Wadh’, Balaghah, Sharf, Ushul Fiqh, Qawaidmu masih lemah. Posisikan pada kedudukanmu. Ilmu alat, tuntaskan dan totalitas untuk mencernanya baik-baik. Lengkapi buku-buku referensi mengenai Ilmu Alat. Karena itu sebagai senjatamu dalam menebas kesamaran.

3) Mengerti Maqashid Syariah
Bukanlah seorang Azhari bila ia masih belum mampu menempatkan Maqashid Syariah mana yang mesti didahulukan, penempatannya secara rinci dan rapih. Ini sebagai jalan tertibnya penuntut ilmu yang menaati rambu-rambu yang ada.

4) Jiwa Qur’ani
Memahami Al-Qur’an baik secara asbab nuzul dan makna sirrnya, mampu menempatkan pemaknaan ayat-ayat Mutasyabihat dan Muhkamat yang sesuai pada tatanannya. Mampu menghafal Al-Qur’an yang bukan sebatas hafal secara kontekstualnya semata, tapi paham makna serta pemaknaannya; itu Azhari!

5) Ta’dzim Umat Muhammadiyyah
Bukan Azhari bila ia saja senantiasa dan mudah mengkafirkan sesama umat muslim. Mudah mengklaim khurafat kepada mereka yang ta’dzim kepada para wali, guru, begitupun kepada orang-orang yang telah meninggal. Lazim bagi seorang thalib ta’dzim kepada sang guru, terlebih lagi wali. Karena sejatinya merekalah sebagai pewaris Nabi baik dari segi ilmu dan akhlaknya. Ia mengklaim orang yang berziarah kubur para wali itu sesat! Apakah yang demikian itu layak dikatakan seorang Azhari? Harusnya ia sadar, ketika ke tempat itulah ia ingat mati. Harusnya ia malu, ketika orang yang sudah mati mampu mengumpulkan para umat, para ulama untuk sowan ke pemakamannya sehingga turut berdzikir kepada Tuhan. Hal ini juga ada pengaruhnya ketika ia menolak bersholawat kepada Baginda Nabi. Bagaimana mungkin, seorang Azhari menolak shalawatan kepada Baginda Nabi?! Apakah dengan demikian, kita sebagai umatnya bisa dikatakan beradab?!

6) Ukhuwah
Bukanlah seorang Azhari apabila ia tidak mampu menjaga tali persaudaraan umat muslim. Bukanlah seorang Azhari apabila gemarnya memecah belah umat, mengadu domba, membuat kontroversi antara golongan A dengan golongan B. Seharusnya ia yang menjadi perangkul. Lazim baginya, tegas Syeikh Jamal, menanamkan prinsip “tidaklah ia beriman sampai ia mencintai apa yang dicintai saudaranya (seumat) sebagaimana ia mencintai apa yang ia cintai…”

7) Ilmu sebagai prioritas
Ilmu itu tiada batasnya. Untuk membentuk formasi nilai keilmuan yang kuat nan komprehensif maka lazim bagi seorang Azhari harus menjadikan hari-harinya soal “ilmu” semata. Karena ia seorang thalibul ilmi. Hidup-mati seorang thalib adalah ilmu semata, sebagai peran utama. Dimana kamu duduk, bersamamu ilmu. Sungguh aneh apabila seorang thalibul ilmi menjadikan waktunya untuk ilmu sebatas di waktu luang; harusnya ia meluangkan segala waktu dan memusatkannya untuk “ilmu”, tegasnya. Dari situ, lazim baginya untuk malakah dalam suatu ilmu, paham pemetaan ilmu secara sistematis.

8) Beristifadah dan mencermati keilmuan Turats
Kunci seorang Azhari, kunci penuntut ilmu, ia harus senantiasa dan memahami betul keilmuan turats. Karena itulah kunci untuk membuka kedangkalan ilmu. Bukan sebatas kontemporer. Bagaimana seorang Azhari membahas suatu ilmu, akan tetapi ia tidak mengerti dasar serta nilai-nilai pokoknya yang terdapat pada turats?!

Mari berkaca, apakah gerangan sudah mampu menegakkan fondasi-fondasi dari bangunan yang kokoh itu? Jangan sampai sebatas datang menyeruput manis lebel “Azhari”-nya tapi isinya tidak dapat dipastikan kehigienisannya. Yang ada hanya mendzalimi diri sendiri dan menjadi tanggungan yang perlu disidang di akhirat kelak. Jika waktu itu Syeikh Ibrahim Al-Ashmawi pernah menyinggung mengenai pokok-pokok “Manhiyyāt” tentang Manhaj Al-Azhar, maka ini pokok-pokok “Mawjibāt” sebagai fondasi kokohnya bangunan Manhaj Al-Azhar yang disinggung Maulana Syeikh Al-Mutakallim Jamal Farouq Jibril Mahmud Ad-Daqaq -hafidzahullah ta’ala-. Apakah gerangan sudah layak?! Fataammal

(Webinar Manhaj Al-Azhar Part 1)

Penulis: Andrian Rizky Pradana (Menteri Koordinator 1 PPMI Mesir)

Webinar Manhaj Al-Azhar

Zaenal Mustofa

https://www.zaenalmustofa.com

Developer Website

Postingan Terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *