Webinar Life After Al-Azhar: Peluang
S2 UIII yang Terbuka bagi Masisir

Kairo — Bagi banyak mahasiswa Al-Azhar yang bersiap pulang setelah kelulusannya, satu pertanyaan besar seringkali muncul dalam pikiran, “Setelah ini, mau ke mana dan harus apa?”. Oleh karena itu, PPMI Mesir mencoba menjawabnya lewat webinar “Life After Al-Azhar” bertemakan “Kupas Tuntas Peluang Beasiswa S2 di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia)” yang digelar pada Selasa (7/7/2026), menghadirkan Fahmi Mubarok, Lc., M.A., selaku Academic Affairs Faculty of Islamic Studies UIII.
Di awal pembukaan sesi, Fahmi mengajak peserta menimbang niat lebih dulu. Menurutnya, sebelum bicara kampus atau beasiswa, pertanyaan yang lebih mendasar adalah untuk apa sebenarnya melanjutkan studi. Jawaban itu lah yang akan menentukan langkah-langkah berikutnya selama masa studi.
Di Faculty of Islamic Studies UIII, ada dua program magister yang bisa dipilih, yaitu MA in Islamic Studies berbahasa Inggris dan MA in Turath Islam berbahasa Arab. Fahmi menyebut lulusan Mesir sebenarnya punya dua pintu masuk sekaligus. Mereka bisa memperkaya keilmuan dalam bahasa Inggris, atau melanjutkan kajian klasik dalam bahasa Arab yang tak jauh berbeda dari yang sudah dipelajari di Al-Azhar, hanya naik level dari segi pembahasannya.
Ada pula konsentrasi Digital Islam di bawah naungan MA in Islamic Studies, serta skema dual degree bersama SOAS (School of Oriental and African Studies) University of London, dengan syarat IELTS 6,5 dan University of Edinburgh, minimal IELTS 7.
Berbicara tentang biaya, Fahmi tak menutup-nutupi angkanya. Jalur mandiri dipatok Rp25 juta per semester untuk S2 dan Rp30 juta untuk S3, jumlah yang menurutnya sendiri “cukup menguras kantong”. Karena itu jalur beasiswa jadi favorit, mulai dari UIII Scholarship untuk magister, beasiswa
parsial untuk doktoral, hingga opsi lewat BIB Kemenag dan LPDP khusus program dual degree tersedia untuk melanjutkan studi di UIII.
Hal menarik lainnya Ia sampaikan bahwa nilai bukan segalanya. Seperti Motivation letter yang justru jadi penentu utama dalam proses desk review. “Kalau motivation letternya bagus, nilai itu bisa jadi nomor dua,” ujarnya, Ia menambahkan bahwa gelar mumtaz maupun jayyid jiddan di Al-Azhar tidak otomatis menjamin diterima. Fahmi menyarankan motivation letter ditulis dua sampai tiga halaman, sekitar 800 kata, disusun rapi dan sesuai bahasa program yang dilamar. Jangan sampai daftar program Arab tapi motivation letternya
berbahasa Inggris, sebab itu jadi tanda pendaftar tidak membaca persyaratan dengan teliti.
Soal arah besar UIII pun turut menjadi pembahasan dalam webinar ini, “Apakah UIII condong ke akademik Barat atau tetap berpegangan pada turats klasik?”, Fahmi menjawab bahwa fakultasnya justru berusaha jadi jembatan antara dua metode itu. Ia menyinggung konferensi internasional
“Decolonizing Islamic Studies and Social Sciences” tahun 2025 yang menerima sekitar 400 abstrak, sebagai bukti bahwa kajian kitab klasik tetap punya tempat berdampingan dengan metodologi kontemporer.
Soal jurusan spesifik seperti di Al-Azhar, misalnya tafsir, hadis, atau syariah, UIII tidak menyediakan jalur eksplisit. Peminatan justru terbentuk belakangan, lewat mata kuliah pilihan di semester 2 (untuk program Inggris) atau semester 3 (untuk program Arab), dan makin tajam saat masuk seminar proposal tesis.
Menuju akhir sesi, Fahmi menyampaikan tips dan trik untuk tahap wawancara di UIII, Ia berpesan untuk jujur dan jangan sok tahu. Ia mengingatkan agar pendaftar tidak asal menyebut kitab yang pernah dipelajari di Mesir tanpa benar-benar memahaminya, sebab dosen penguji bisa saja mengejar dengan pertanyaan lanjutan yang cukup dalam. “Jawab se-humble mungkin,” katanya. Kemudian webinar ditutup oleh moderator Rasya Ramadha dengan harapan para lulusan Al-Azhar nantinya dapat melanjutkan studinya di UIII dan terus menerapkan apa yang sudah Al-Azhar ajarkan.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie