
Kairo – Satu kalimat sederhana dari Mohammad Nur Salim, Lc., M.SI., Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kairo, menjadi sebuah ungkapan menarik dalam pembuka Forum Diskusi terbuka “Apa Kabar Masisir?”, yang digelar Ahad (5/7/2026) di Kafe Nadi Qoumi, Darrasah.
Semua berawal saat moderator, H. Ari Pratama Syuhada, Lc., meminta pandangan pribadi Pak Salim soal lonjakan jumlah Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) beberapa tahun terakhir. “Kira-kira bagaimana pandangan umum KBRI Kairo atau mungkin Pak Salim secara pribadi terhadap kenaikan jumlah Masisir yang sangat signifikan beberapa tahun terakhir? Apakah ini arahnya menuju perkembangan yang sejalan, atau ada efek-efek yang sebetulnya tidak diharapkan oleh Pak Salim dan KBRI?,” tanya Ari.
Alih-alih menjawab secara langsung, Pak Salim balik bertanya dan memberikan sebuah analogi. “Kalau dalam kehidupan kita, semakin besar sumurnya, itu biasanya semakin besar comberannya, betul gak?” katanya, kemudian disambut anggukan moderator, “Betul, Pak.”
“Yang kita khawatirkan sebetulnya itu saja. Sumurnya semakin
besar, akhirnya mengakibatkan comberan yang semakin besar,” sambung Pak Salim.
Dari situ beliau menjelaskan lebih lanjut bahwasanya yang menjadi persoalan bukan jumlah mahasiswa yang terus bertambah, tapi ketimpangan antara kuantitas dan kualitas.
“Ketika yang besar itu tidak diimbangi dengan kualitas. Tapi
ketika yang datang, walaupun sebanyak apa pun, punya kompetensi dan kualitas, saya kira tidak akan menimbulkan masalah-masalah yang saya sebut sebagai comberan, kan tempat pembuangan ya,” ujarnya.
Kompetensi yang ia maksud dalam hal ini tidak berhenti di kemampuan akademik saja, tapi juga kesiapan kesehatan dan mental untuk hidup di Mesir. Ia menyinggung sebuah kasus yang menurutnya sudah jadi rahasia umum di kalangan
Masisir. “Mungkin teman-teman tahu ya, ada beberapa teman kita yang hasil uji kesehatannya itu ternyata tidak baik, dan akhirnya dipulangkan. Iya kan? Saya kira sudah pada dengar,” katanya.

Realitas ini lah yang akhirnya memantik diskusi lebih mendalam. Ustad Efendi Septiono, Lc., Dipl., salah satu panelis, menekankan pentingnya membenahi sistem seleksi
sejak di Indonesia. “Kalau seleksinya bermasalah, yang turun bukan cuma persentase kelulusan, tapi juga kualitas mahasiswanya,” ujarnya.
Poin ini kemudian diteruskan Ari sebagai masukan bagi Dr. Riska Puspitasari, S.Pd., M.Pd., perwakilan Kementerian Agama RI. Ari meminta Kemenag segera menetapkan standar baku yang jelas (baik dari kemampuan akademik hingga
kesehatan dan mental).
Di sinilah Ari kembali menyinggung analogi “Sumur dan Comberan” yang sempat dilontarkan sebelumnya. “Mohon kebijakan ini dikawal, kalau dibiarkan tanpa standar, masalah ‘Comberan’ ini akan makin parah,” tegas Ari.
Forum diskusi yang berlangsung selama 3,5 jam ini, menghasilkan sebuah kesadaran bersama bahwasanya persoalan Masisir saat ini bukan lagi soal seberapa
banyak peningkatan jumlah Masisir tiap tahunnya, melainkan seberapa matang kesiapan mereka dan seberapa besar konsekuensi yang harus ditanggung bersama jika hal itu terus diabaikan.
Oleh: Muhammad Hasbi As-shiddiqie