Kairo — Sekitar 120 anggota Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan dari berbagai Kekeluargaan dan afiliasi mengikuti Upgrading Satgas Kesehatan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan PPMI Mesir di Aula KMJ, Hayy Asyir, pada Jumat (30/10). Selama kurang lebih tujuh jam, para peserta duduk bersama untuk menyamakan pemahaman mengenai peran satgas dalam menjaga kesehatan Masisir.
Upgrading ini bertujuan membekali para satgas dengan pengetahuan dan pemahaman seputar kesehatan, perlindungan WNI, basic life skill, basic first aid (red: pertolongan pertama), bahasa Amiyah, serta birokrasi rumah sakit. Bekal tersebut diharapkan dapat menunjang kebutuhan kesehatan Masisir sekaligus memperluas jejaring satgas kesehatan di Mesir.
Materi-materi tersebut disampaikan langsung oleh Agus Hidayatulloh, Lc., MA selaku Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kairo yang mengulas perlindungan WNI, Ridho Kalam Dwi Putra dari Fakultas Kedokteran, Universitas Al-Azhar yang membawakan basic life skill, dan Basil Muhammad Zulkarnain yang memandu pelatihan bahasa Amiyah.
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan PPMI, Hilya Neswa Aszari, mengingatkan para satgas bahwa kerja pengabdian tidak selalu tampak di permukaan.
“Saya ingin mengingatkan bahwa mungkin tidak semua kontribusi kita akan terlihat dan tidak semua pertolongan akan mendapatkan apresiasi. Namun, ketika kehadiran kita mampu mempermudah seseorang mendapatkan pertolongan, memberikan rasa aman, atau bahkan membantu menyelamatkan nyawa, maka di situlah nilai pengabdian kita menemukan maknanya,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai ruang belajar pada hari pelaksanaan saja, tetapi menjadi titik awal bagi satgas kesehatan yang lebih kompeten, solid, tanggap, dan amanah.
Gagasan upgrading ini sendiri berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapan Satgas Kesehatan di berbagai Kekeluargaan dan afiliasi.
“Selama ini, masih diperlukan penyamaan pemahaman mengenai penanganan masalah kesehatan. Oleh karena itu, upgrading ini menjadi upaya membangun sistem kesehatan Masisir yang lebih terarah dan responsif,” jelas pihak Kemenkes PPMI Mesir.
Kegiatan ini sengaja tidak hanya menyasar pengurus Kemenkes. Pihak Kemenkes menyebut bahwa jangkauan mereka terhadap seluruh Masisir tentu terbatas bila bekerja sendiri.
“Kami menyadari bahwa Kemenkes PPMI tidak bisa bekerja sendiri dalam menjangkau seluruh Masisir. Satgas Kesehatan di setiap Kekeluargaan dan afiliasi merupakan pihak yang lebih dekat dengan masyarakat di lingkungannya. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kolaborasi dan menyamakan pemahaman tanpa mengurangi kedudukan serta otonomi masing-masing lembaga,” tuturnya.
Terkait peran satgas, Kemenkes PPMI Mesir berharap satgas menjadi pihak terdekat yang mampu mengenali dan menanggapi masalah kesehatan sesuai kapasitasnya. Dalam kondisi darurat, satgas diharapkan dapat mengenali tanda bahaya serta mengetahui langkah penanganan dan rujukan yang tepat, sementara Kemenkes mengoordinasikan pendampingan dan memfasilitasi akses terhadap layanan kesehatan.
Setelah sesi pelatihan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding), sebagai draf kerja sama satgas. Pada kesempatan yang sama, Kemenkes PPMI Mesir memaparkan dan meluncurkan mini booklet kesehatan. Mini booklet ini memuat informasi praktis seputar pengenalan penyakit, layanan akses kesehatan di Mesir, informasi obat-obatan, bahasa Amiyah untuk konsultasi medis, serta hotline dan mekanisme pendampingan Kemenkes PPMI Mesir. Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan ramah tamah.
Melalui pelatihan, kerja sama, dan mini booklet tersebut, Kemenkes PPMI Mesir berharap satgas kesehatan di setiap Kekeluargaan dan afiliasi dapat bergerak lebih selaras serta siap menjadi garda terdepan bagi kebutuhan kesehatan Masisir.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie