Mengapa Al-Azhar Masih Bertahan Kokoh?

 Mengapa Al-Azhar Masih Bertahan Kokoh?

Kalau Al-Azhar hanya sekedar institusi keilmuan, yang dihuni oleh para ulama bintang dan dikelilingi jutaan pelajar yang dahaga akan ilmu. Di belahan negeri manapun, banyak institusi yang lebih hebat dan unggul ketimbang Universitas Al-Azhar.

Kalau Al-Azhar hanya sekedar gudang khazanah literatur-literatur ilmiah. Di luar sana banyak perpustakaan yang jauh lebih besar dan lebih komplit menampung kitab ketimbang Maktabah Al-Azhar.

Kalau Al-Azhar hanya sekedar nama besar dan brand terkenal. Di pentas dunia komersial, banyak yang bisa menandingi dan lebih bergengsi ketimbang popularitas Al-Azhar.

Lantas,  memangnya apa yang membuat Al-Azhar begitu tinggi kedudukannya, berharga nilainya dan tetap berdiri kokoh seiring perguliran masa?.

Baca juga: Madrasah Keilmuan Al-Azhar

Sir-nya adalah karena keteguhan Al-Azhar berpegang pada Manhaj al-I’tidal (Seimbang) dan benar-benar menjiwai Islam Wasathiy (Moderat). Wasathiyah inilah manhaj yang sesungguhnya paling ampuh untuk menebarkan keindahan Islam dan keanggunan syari’at yang di baliknya sarat akan hikmah dan maslahah, yang kebaikannya kembali ke manusia itu sendiri.

Dengan wasathiyah ini, Allah menjaga eksistensi umat Islam. Dengan wasathiyah-nya, umat ini dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla di hari kebangkitan kelak menjadi saksi bagi umat-umat terdahulu. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاس….

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilhan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia….”

Wasathiyah yang selalu dikibarkan Al-Azhar bukanlah omong-kosong belaka, melainkan berupa penerapan nyata yang selalu diaplikasikan dalam memecahkan berbagai persoalan krusial dalam Islam. Dari semenjak memainkan peran vital menyumbangkan pemikiran, Al-Azhar selalu berdiri teguh dengan pandangan yang netral. Misalnya dalam menyikapi perpecahan umat pasca al-Fitnah al-Kubro yang menjadi cobaan berat di abad pertama perkembangan Islam. Prinsip Al-Azhar terkait hal ini adalah:

Baca juga: Al-Azhar adalah Doa

Pertama, Al-Azhar menyuarakan dengan lantang akan kewajiban memuliakan kedudukan para Sahabat –Ridhwānullā’alaihim Jami’ā-, menghukumi bahwa Sahabat semuanya adil, serta membela mereka dari setiap hinaan dan tuduhan keji. Berlandaskan Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam:

لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِي

“Janganlah kalian melempar celaan kepada para Sahabatku!”

أَصْحَابِي كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِم اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ

“Para Sahabatku seperti bintang-bintang, siapapun mereka yang kalian jadikan panutan, niscaya kalian mendapatkan penerangan.”

Prinsip kedua, Al-Azhar mengajak kaum muslimin untuk tutup mulut (baca: tidak berkomentar) terkait pertikaian yang terjadi di kalangan Sahabat RA, berdasarkan kalam bijak yang terkenal dari Ulama Salaf Shalih: “Karena Allah telah menjauhkan kita untuk ikut berperang bersama mereka, maka jangan mengotori mulut kita untuk ikut-ikutan mencampuri permasalahan mereka.”

Prinsip ketiga, senantiasa melakukan pengecekan dan penelitian dalam meluruskan literatur-literatur sejarah yang didistorsi oleh setiap tangan tak bertanggung jawab, yang berusaha mencoreng kehormatan para Sahabat atas dasar kebencian, kedengkian dan fanatisme buta.

Baca juga: Manhaj Azhari dalam Menuntut Ilmu

Netralitas pendirian juga diperlihatkan Al-Azhar dalam menyikapi perbedaan Madzhab Fiqih. Sejarah membuktikan bagaimana usaha Al-Azhar membangun kerukunan antar-mazhab. Berjuang mewujudkan kekompakan di tengah hantaman badai politik yang menggoncang keutuhan umat. Menangkal siasat busuk musuh Islam yang berulang kali mencoba memanfaatkan celah perbedaan mazhab sebagai penyulut permusuhan antar saudara seiman. Jalan persatuan inilah yang sejatinya ditempuh dan diperjuangkan semua mazhab.

Dari awal mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar menentukan konsep dalam mensinkronisasikan antara dalil Naql dan penalaran akal. Berpegang pada konsep Imam Al-Ghazali yang mengatakan:

لا معادة بين مقتضيات الشرائع وموجبات العقول

“Tidak ada kontradiksi antara ketentuan-ketentuan syariat dengan logika yang sehat”.

Hujjatul Islam juga berkonsep yang senada:

العقل كالبصر السليم، والقرآن والسنة كالشمس المنتشرة الضياء، ولا غنى لأحدهما عن الآخر

“Akal bagaikan mata yang sehat. Sedangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan Matahari yang memancarkan cahaya terang benderang. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.”

Dengan kenetralan ini, Al-Azhar yang melimpah ruah dengan literatur-literatul klasik (turats), sejalan pula dengan penalaran turats yang sistematis dan tidak kaku terpaku pada teks. Al-Azhar tidak condong atau berpihak pada arus tertentu, yang rentan menggiring akal secara pelan-pelan kepada batas saling kafir-mengkafirkan. Atau kepada pergulatan logika yang berpotensi menjebak kita dalam memahami keindahan Islam. Atau kepada pemikiran tak terkendali bermoduskan gerakan modernisasi atau sekularisme yang fatal.

Baca juga: Al-Azhar adalah Doa

Semenjak mengkristalkan pemikirannya, Al-Azhar berjuang membentengi Agama dan Syariat dari serangan-serangan yang menerjang dari berbagai penjuru. Pertahanan Al-Azhar begitu kuat dalam meng-counter serangan kaum sekuler terhadap Islam, tehadap aneka upaya memporak-porandakan Islam dengan bermacam permainan dan manuver politik, upaya pengaburan dustur Syari’at yang memicu perang pemikiran di tubuh umat Islam. Walhasil perpecahan ini berefek sikap antipati pada Islam. Menyadari tantangan ini, Al-Azhar menawarkan sikap bijak dan toleransi dalam menyikapi perbedaan.

Deskripsi Moderasi seperti di atas, dalam sejarah panjangnya dipilih dan dipertahankan oleh Al-Azhar Asy-Syarif. Al-Azhar ingin menampakkan wajah Islam yang sebenarnya, yang murni, yang sangat indah, yang harum citranya!.

Al-Azhar dalam menghadapi permasalahan tidak pernah asal-asalan dan rancau, melainkan berdasarkan proses ijtihad yang terarah sehingga menghasilkan konsep yang solutif. Namun perlu diingat, Al-Azhar dalam cita-cita Wasathiyyah ini tidak pernah keras dan ngotot memaksakan konsepnya diterima oleh kelompok yang berseberangan karena merasa paling benar.

Moderasi ini bukan sekedar hasil kompromi dangkal dalam menyatukan kelompok-kelompok yang berseteru, sehingga Al-Azhar tidak mudah dieksploitasi oleh kelompok tertentu sebagai penyokong mencapai misi pribadinya. Justru Moderasi Al-Azhar selamanya berupa pendirian yang jelas dan pandangan yang berlandaskan pada sumber-sumber hukum Islam yang Qath’iy, semata demi mewujudkan kemaslahatan Umat Muslim, dan berharap Wasathiyah ini menjadi solusi yang bisa menuntun umat di kala tersesat jalan atau saat terpecah belah karena hawa nafsu.

Artikel ini saya terjemahkan 14 Maret 2016 silam, dari Maqalah yang ditulis Almarhum Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhil Al-Qushi di Majalah Al-Azhar. Dalam rangka memperingati 1081 tahun Al-Azhar, sesuai arahan Organisasi Internasional Alumni Al Azhar – OIAA Cabang Indonesia untuk menyemarakkan dengan pasang Twibbon, saya posting setelah 5 tahun mendekam di komputer, bersamaan dengan foto bersama Fadhilat Imam Akbar Grand Syekh Al-Azhar Hafizhahullah di Sahah beliau di Luxor.


Penulis: Zainuddin Ruslan, Lc

Editor: Syaifur Rohman

 

Ingin tulisan Anda diupload dan direpost di website PPMI, silahkan bisa hubungi  Narahubung di bawah ini:

– wa.me/201019533008 (Wijaya) Pimred Website PPMI Mesir.
– wa.me/201140841837 (Syaifur) Dirut Website PPMI Mesir.
– wa.me/201559711656 (Nadya) Humas Website PPMI Mesir.

Atau bisa langsung DM Instagram Website PPMI Mesir @ppmimesir.or.id

Syarat dan ketentuan berlaku

______________
#PPMI Mesir, milik bersama

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *