Madrasah Keilmuan Al-Azhar

 Madrasah Keilmuan Al-Azhar

Al-Azhar. Wa Ma Al-Azhar? Wa Ma Adrakama Al-Azhar? Lafadz “Adrakama”—menurut Prof. Quraish Shihab—mengindikasikan sesuatu yang besar nan agung. Dalam Al-Quran, ada beberapa ayat yang menggunakan redaksi ini. Wa Ma Adrakama Al-Qariah? Wa Ma Adrakama Al-Thariq? Wa Ma Adrakama Al-Haqqah? dan lain sebagainya.

“Wa Ma Adrakama Al-Azhar?” tentu kalimat ini bukan berasal dari Al-Quran. Namun hanya Iqtibas, menyertakan sebagian ayat Alquran di dalamnya, serta tidak menganggapnya bagian dalam Al-Quran. Demikian terperinci dalam ilmu Balaghah.

Al-Azhar—sebagaimana lazim diketahui—adalah sebuah universitas tertua kedua di bumi, setelah universitas Qarawiyyin, dan universitas Islam tertua di dunia. Dibangun oleh Jauhar Al-Shiqilli di masa daulah Fathimiyyah. Sejarahnya memukau nan mengagumkan. Di umurnya yang telah melampaui Nabi Nuh, Al-Azhar terus menerus memancarkan cahayanya. Ulama-ulama besar tumbuh di bawah asuhannya. Ibarat seorang ibu, Al-Azhar mengandung menyapih, menyusui, dan mendidik mereka dengan keilmuan dan kebijaksanaan.

Baca juga: Hukum Shalat Tarawih Empat Rakaat Sekaligus

Dalam kitab “Al-Muhadditsun Fi Rihab Al-Azhar al-Syarif”, Syaikh Sya’ban al-Mursyidi menyebutkan beberapa ulama Al-Azhar dengan berbagai spesialisasi yang ditekuninya dan karyanya banyak dikaji oleh umat Islam.

Dalam ilmu Lughah

– Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim al-Hufi. Beliau seorang Nahwi sekaligus seorang mufassir. Wafat tahun 480 H. Memiliki kitab antara lain: I’rab Al-Quran 10 jilid, Mawarid al-Anbiya, Al-Mudhih fi al-Nahwu, Al-Burhan fi Tafsir Al-Quran. Yaqut al-Hamawy, wafat tahun 626 H berkata:

“Telah sampai padaku kabar, bahwa beliau (Abu al-Hasan Ali bin Ibrahim al-Haufi) menulis 30 jilid dengan tulisan yang sangat detail. Dan beliau adalah pelopor ilmu Lughah pada zamannya”.

– Abdullah Bahauddin bin Abdillah bin Abdirrahman bin Abdillah bin Aqil. Lahir di Mesir, Jum’at 9 Muharram tahun 698 H. Wafat malam Rabu 23 Rabiul Awal tahun 769 H.

Beliau seorang Qadhi pada zamannya. Beliau memiliki syarah atas Alfiyah ibnu Malik. Kitabnya sangat masyhur dan syarah Alfiyah yang paling sering dikaji oleh para santri. Syaikh Muhyiddin Abdul Hamid berkata tentangnya:

“Pemilik syarah ini—karena sebab kemasyhuran dan kemahirannya dalam bidang Nahwu, dan juga karena barakah dan ikhlas yang menyertainya— tak satupun ulama Lughah menentang ketika membacanya, dan merasa cukup dengannya dibanding syarah-syarah yang lain.”

– Jamaluddin Abdillah bin Yusuf bin Ahmad bin Abdillah bin Hisyam al-Mishry. Wafat tahun 761 H. Beliau memiliki beberapa karya antara lain: Qathrun al-Nada wa Balu Shada, Syudzuz al-Dzahab fi Ma’rifati Kalam al-Arab, Mughni Labib, dan beliau juga mensyarah Alfiyah Ibnu Malik dua kali. Pertama kitab Awdhahu al-Masalik Fi Alfiyah Ibn Malik. Kedua Daf’u al-Khasasah an Qurra’i al-Khulashah.

Baca juga: Etika Ketika Shalat Tarawih Di Masjid yang Delapan Rakaat

Ibnu Khaldun memberi pujian pada beliau:

“Ketika masih di Maghrib, kami mendengar bahwa telah muncul seorang alim Lughah di Mesir. Dia adalah Ibnu Hisyam, Sibawaih-nya Mesir.”

Di antara ulama Azhar juga banyak yang mensyarah Alfiyah Ibnu Malik. Syaikh Muhammad Badruddin bin Muhammad bin Malik, Ibnu al-Aini al-Hanafi, Syaikh Damamini, Syaikh Zabidi, Syaikh Makudi, Syaikh Asymuni. Dan banyak lagi dari bintang-gemintang ulama Azhar. Maka adakah madrasah keilmuan yang menjaga bahasa Al-Quran seperti yang telah dijaga oleh ulama Al-Azhar?.

Dalam ilmu Qiraat: Salah seorang sahabat Nabi, Malik bin Abdullah al-Ma’afiri datang ke Mesir dan menyaksikan ekspansi di sana. Beliau memiliki riwayat dari Abu Dzar, dan orang yang pertama kali membaca Al-Quran dengan Qiraat Nafi’, seorang tabi’in, Abu Muyassarah Abdirrahman bin Muyassarah. Wafat tahun 188 H.
Setelah itu datang, Al-Imam al-Hujjah Utsman bin Said, yang dijuluki Warsy. Syaikh Maqari pada zamannya. Murid dari imam Nafi’. Lahir 110 H. Wafat 197 H.

Baca juga: Sholat Tarawih Delapan atau Dua Puluh Rakaat ?

Setelah itu datang lagi Al-Imam Syathibi al-Andalusi dari Andalus dan wafat di Mesir 590 Hijriyah. Beliau mengajar kitabnya yang monumental, “Matn al-Syathibi” atau yang dikenal dengan “Hirz al-Amani wa Wajhu al Tahani” di masjid Azhar. Ahli sejarah sampai-sampai menyebutkan bahwa Syathibiah adalah kitab yang terus menerus dikaji di universitas ini. Dan kitab tersebut telah disyarah dan diajarkan sejak dulu hingga sekarang. Beliau dimakamkan di Turbat al-Qadhi al-Fadhil Qarafah Shugra, hari Ahad setelah shalat Ashar 7 Jumadil Akhir 570 Hijriyah. Syaikh Sya’ban al- Mursyidi menuturkan bahwa dirinya senantiasa berziarah ke makamnya. Khathib Abu al-Ishaq al-Iraqi, khatib masjid raya Mesir pada zaman itu, turut menyalatinya seorang waliyullah sekaligus guru besar Qiraat tersebut.

Salah seorang guru besar di Azhar pernah bercerita:

”Imam Syathibi adalah waliyullah. Beliau tahu kapan waktu shalat tiba sekalipun tunanetra. Beliau pernah berkata kepada seseorang, ‘Sekarang sudah waktunya azan padahal ketika itu belum waktunya azan. Seseorang tadi bertanya pada beliau: “Darimana sampean tahu bahwa sekarang waktunya azan, syaikh?” Imam Syathibi menjawab:
“Saya mendengar dari Arsy.” Semoga Allah mengaruniakan ketajaman matahati kepada kita semua. Amin.

Baca juga: Al-Azhar adalah Doa

Belum lagi pembesar-pembesar Qurra’ di belahan dunia. Mereka belajar dan membaca Al-Quran pada para syaikh dan para imam yang berada di Mesir. Imam Ibnu al-Jazari menghitung sanad orang-orang yang talaqqi pada mereka (ulama Mesir) dan beliau berkata:

“Aku membaca Al-Quran hingga khatam kepada beberapa syaikh. Di antaranya, Syaikh al-Alim al-Taqi Abu Muhammad Abdurrahman bin Ahmad bin Ali bin al-Baghdadi al-Mishry al-Syafi’i. Beliau adalah guru besar Qiraat Mesir. Beliau berkata: “Aku membaca Al-Quran hingga khatam kepada syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Khaliq al-Mishry al-Syafi’i, terkenal dengan nama Shaigh, guru besar Qiraat Mesir.” Beliau berkata: “Aku membaca Al-Quran hingga khatam kepada syaikh Abi al-Hasan Ali bin Suja’ bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbas al-Mishry, menantu dari syaikh Syathibi, guru besar Qiraat Mesir.” Beliau berkata “Aku membaca dan melantunkan kepada sang empunya nadham, yaitu Syaikh Imam Abi al-Qasim al-Syathiby al-Syafi’I, maha guru besar Qiraat Mesir.” Tidak ditemukan sanad yang lebih tinggi darinya hingga sekarang. Bersambung dengan para guru besar Qiraat, ulama Syafi’iyah, negara Mesir, Qiraah dan Tilawah.

Setelah itu datang Al-Hafidz Abu Hayyan al-Andalusi al-Nahwy al-Muqri’ al-Mutqin. Wafat tahun 725 H. Beliau mendorong dirinya untuk datang ke Mesir untuk membaca dan mengajar di sana. Imam Dzahabi berkata:

“Dengan kemahirannya yang menakjubkan dalam bahasa Arab, beliau memiliki peran besar dalam Fiqh, Atsar, Qiraat, Lughat, dan juga beberapa karyanya tentang Qiraat dan Nahwu. Beliau adalah kebanggaan orang Mesir dalam keilmuan. Dari asuhan beliau, lahirlah beberapa ulama.”

Baca juga: 8 Fondasi Seorang Azhari

Al-Hafidz Ibnu Jazari berkata:

“Beliau memiliki nadham Qiraat Sab’ah bernama ‘Uqdatu al-La’i’ tidak memiliki kode seperti nadham Syathibiy. Beliau juga punya nadham riwayat Ya’kub dan mensyarah ‘Tashil’ karya Ibnu Malik dengan syarah yang jelas. Dan juga, dari tangannya, lahirnya tafsir yang tak ada bandingannya, ‘Bahrul Muhith’, sebelas jilid, dan kitab yang lain-lain.

Adakah sejarah madrasah keilmuan yang membangun serta menjaga dengan sungguh-sungguh Ilmu Qiraat yang bermacam-macam seperti yang telah dilakukan oleh Ulama’ Mesir dan Al-Azhar?.

Dalam ilmu Hadist: Sejak dulu penduduk Mesir bangga dengan banyaknya sahabat Rasulullah saw. yang datang dan meriwayatkan hadis. Dikomandoi oleh sahabat yang mulia, sayyidina Abdulah Amr bin Ash ra, salah seorang sahabat yang mengetahui banyak tentang hadis, diiringi pengakuan syaikh riwayat, sayyidina Abi Hurairah ra:

“Tidak seorangpun dari sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadist daripada aku kecuali Abdulah Amr bin Ash. Dia kerap mencatat apa yang tidak aku catat.” Demikian pula sayyidina Uqbah bin Harist al-Fahri, sayyidia Uqbah bin Amir al-Juhani, dan sepuluh sahabat lainnya.

Seorang ulama besar, syaikh Muhammad bin Rabi al-Jizy menulis sebuah kitab yang di dalamnya disebutkan lebih dari 140 sahabat Rasulullah yang datang ke Mesir, disebutkan hadis-hadis mereka, dan diriwayatkan oleh penduduk Mesir. Kitab itu berjudul “Ma’rifatu al-Shahabah al-Mishriyyin”.

Baca juga: Manhaj Azhari dalam Menuntut Ilmu

Al-Imam al-Hafidz Amir al-Mukminin fi al-Hadist Syihabuddin Abu Fadhl Ahmad bin Ali al-Kannani al-Asqalani. Wafat tahun 852 H. Pemilik karya-karya yang masyhur nan terkenal, cukuplah seorang santri dengan ilmu yang mulia ini. Karya beliau: Fathu al-Bari Syarah Shahih Bukhari, Taqrib al-Tadzhib, Al-Ishabah fi Tamyizi al-Sahabah, Ta’liq al-Ta’liq, Lisan al-Mizan, dan banyak lain sebagainya.

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar rutin memberikan khutbah di masjid alAzhar dalam waktu yang cukup lama, sebagaimana yang diceritakan oleh al-Hafidz al-Sakhawi.

Al-Imam Badr al-Aini. Wafat tahun 855 Hijriyah. Qadi, sejarawan, serta muhaddist Mesir. Beliau memiliki syarah Bukhari yang bernama Umdatu al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari. Dua puluh jilid. Konon kitab ini dikarang selama dua puluh tahun. Syarh Qith’ah min Sunani Abin Daud, Syarhu al-Kalam li Ibni Taimiyah, Syarh Ma’ani al-Atsar li al-Imam al Thahawi. Dua belas jilid. Dan beliau juga punya kamus satu jilid. Dengan jumlah yang sebegitu banyak, beliau ditahbiskan sebagai muhaddist di zamannya.

Dan banyak pula para muhaddist—baik yang klasik maupun kontemporer—yang hidup dalam pangkuan dan didikan Al-Azhar. Adapun yang klasik, di antaranya: Sulthanul Ulama, syaikh Izuddin Abdissalam, syaikh Ibnu Daqqiq, syaikh Abi Jamrah, syaikh Imam al-Bulqini, syaikh Hafidz al-Iraqi, syaikh Jalaluddin al-Suyuti dan lain-lain.

Sedangkan yang kontemporer, syaikh Ahmad Umar Hasyim. Mantan rektor universitas Azhar. Beliau memiliki syarah Bukhari berjudul “Faidu al-Bari fi Syarh al-Bukhari”. Enam belas jilid. syaikh Abdul Baits al-Kattani, seorang ulama Alexandria. Beliau hafal Shahih Bukhari lengkap beserta sanad dan matannya. Syaikh sayyid Muhammad al-Maliki, syaikh Said Mamduh, syaikh Ma’bad Abdu al-Karim, syaikh Sa’ad Jawish, dan banyak lagi ulama-ulama yang telah berjasa menghidupkan sunah Nabi Muhammad saw.

Dalam Tafsir: Sebenarnya mufassir-mufassir telah disebutkan di atas, seperti Abu al Hasan Ali bin Ibrahim al-Hufi, Al-Hafidz Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Hafidz Jalaluddin al- Suyuthi, dan lain sebagainya. Di sini, penulis ingin mengemukakan mufassir kontemporer dari berbagai negara belahan dunia. Dan mereka semua, tentu sempat “thawwaf” di ka’bah keilmuan bernama Al-Azhar.

Syaikh Thanthawi Jauhari al-Mishri. Beliau lahir pada tahun 1287 Hijriyah/ 1862 masehi di desa Audhillah, Mesir bagian Timur. Wafat Tahun 1385 H/1940 M. Dimakamkan di Kairo. Sejak kecil, sudah tumbuh di dalam diri beliau rasa kecintaan terhadap agama. Bahkan, beliau memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengajak kaum muslim menuju keimanan yang kokoh, dengan cara mengamati fenomena alam semesta sebagai rahmat dan anugerah-Nya.

Baca juga: Ulama-Ulama yang Terlambat Belajar dan Mereka yang Alim di Usia Tua

Syaikh Thantahawi Jauhari dianggap sebagai mufassir pertama yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan menggunakan keilmuan modern. Di antara karya-karyanya: Jawahir al-Ulum, al-Nidham al-Iskan, Taj al-Murshi, Nidham al-Alam wa al-Umam, Aina al-Insan, dan lain sebagainya. Beliau pernah berkata:

“Wahai para pemikir Islam, tafsir ‘ilmi ini merupakan anugerah Tuhan, bagaikan isyarat suci, dan suatu kabar gembira melalui rumus-rumus ilmiah. Saya lakukan hal ini berdasarkan petunjuk Tuhan (ilham), dan saya yakin sekali bahwa penafsiran semacam ini akan diketahui kemanfaatannya oleh umat Islam kelak di kemudian hari. Bahkan, ini akan menaikkan derajat kaum muslim yang senantiasa tertindas, menuju derajat yang lebih tinggi dalam percaturan global.”

Karakter tafsirnya dilakukan dengan pendekatan ilmiah secara luas, yang menyangkut ilmu-ilmu modern. Bahkan, tidak jarang, beliau mengutip pendapat sarjana umum, baik dari Barat dan Timur, agar umat Islam dan non muslim mengetahui bahwa ternyata Al-Quran telah lebih dulu dalam membahas masalah kauniyah dibanding ilmu-ilmu modern tersebut. Al-Dzahabi berkomentar dalam kitabnya, al-Tafsir wa al-Mufassirun:

“Thantahawi terkadang memperkuat pendapatnya dengan apa yang terdapat di kitab Injil Barnabaas. Bahkan, hal-hal yang terkait dengan masalah keagamaan pun, Thanthawi memperkuatnya dengan teori-teori filsafat, seperti Plato, Ikhwan al-Shafa, dan lain-lain.”

Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi. Beliau adalah ulama kontemporer yang sangat terkenal kepakarannya, khususnya di bidang Fiqh, Tafsir dan Bahasa Arab. Beliau sangat produktif. Karya-karyanya antara lain: Al-Mukhtasar min Tafsir al-Karim, Mu’jizah Alquran al-Karim, AlMar’ah fi Alquran al-Karim, Al-Ghaib, Al-Khawatir Syaikh Sya’rawi haula Umran al-Mujtama’, dan lain-lain. Sejak awal kitab Sya’rawi ini tidak pernah dinamai dengan “kitab tafsir” akan tetapi beliau memberi judul Khawathir al-Sya’rawi (renungan-renungan al-Sya’rawi).

Baca juga: Mengapa Shalawat Dalāil al-Khairāt Begitu Istimewa, Apa Rahasianya?

Adapun tujuan penulisan kitab ini adalah untuk memberi pemahaman sekitar ayat-ayat Al-Quran. Oleh sebab itu, beliau tidak menamainya secara spesifik dengan kitab Tafsir. Tulisan ini juga sekaligus klarifikasi terhadap mereka yang pernah mendengar dan membaca penafsirannya lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti benar. Padahal, ini hanyalah bentuk keperihatian al-Sya’rawi yang tentunya sangat relatif antara benar dan salah.

Kitab ini semuanya belum selesai, itu saja sudah mencapai 29 jilid. Adapun pendapat-pendapatnya yang lain ditulis di beberapa majalah-majalah dan surat-surat kabar.

Metode yang beliau terapkan dalam kitabnya ini adalah ketika selesai menuturkan muqaddimah, diawali dari surah al-Fatihah dengan menjelaskan makna isti’adzah, tertib turunnya ayat, beliau memulai menjelaskan tafsir surah al-Fatihah tersebut, yang diawali dengan menuturkan makna dan hikmah dalam surah tersebut, penjelasan-penjelasan lainnya yang sekiranya memiliki keterkaitan dengannya, mengambil ayat-ayat lain yang memiliki keterkaitan dengan ayat yang dimaksud. Oleh karena itu, beliau ada yang mengkategorikan sebagai mufassir bi al-Ma’tsur, yakni menafsirkan Alquran dengan Alquran.

Jadi manhaj al-Sya’rawi, pada hakikatnya bisa dibilang sebagai pembaharuan dan upaya yang serius dalam penafsiran. Meskipun begitu beliau tidak meninggalkan sama sekali pendapat ulama tafsir klasik. Beliau juga berusaha memberikan penjelasan yang memadai kepada pembacanya sekitar persoalan akidah, keimanan dan akhlak. Beliau mengaitkan penafsirannya dengan aktifitas manusia dengan metode tarbawi (pendidikan) dan al-Hida’i (bimbingan). Dan banyak selain dua ulama tersebut yang mendorong seluruh kekuatannya untuk menyingkap dan membuka tabir makna dari Al-Quran.

Di antaranya syaikh Wahbah Zuhaily dengan karya tafsirnya berjudul Tafsir al-Munir. Konon beliau menulis tafsir itu selamat empat tahun. Dan tidak ada yang memisahkannya dari menulis kecuali istirahat, makan dan shalat.

Syaikh Azhar, syaikh sayyid Muhammad Thanthawi dengan karya tafsirnya berjudul Tafsir al-Wasith. 15 jilid. Karya lain yang banyak dinikmati para pemerhati Al-Quran: Bani Israil fi Alquran, al-Mabahits fi Ulum Alquran, dan lain-lain.

Syaikh Muhammad Quraish Shihab dengan karya monumentalnya, tafsir al-Misbah. Beliau memiliki dua karya tafsir. Pertama Tafsir al-Misbah. Kedua Tafsir al-Lubab. Bedanya yang pertama dijelaskan secara rinci. Sedang yang kedua dijelaskan secara global. Karyanya banyak, antara lain: Wawasan Al-Quran, Membumikan Al-Quran, Lentera Al-Quran, Kaidah Tafsir, Logika Agama, Perempuan, dan lain sebagainya.

Sungguh Madrasah Al-Azhar adalah madrasah yang terus menerus menjadi penjaga keilmuan-keilmuan Islam.

Sejak runtuhnya Baghdad, penyerangan Tartar dari arah Timur, dan jatuhnya Andalus, serta hilangannya khazanah turats milik Islam, dibunuhnya ulama, dibakarnya kitab-kitab, Allah mendelegasikan Al-Azhar sebagai rumah yang menjaga keeksistensian Islam. Menjadi ibu kota keilmuan di muka bumi.

Semoga Allah menjaga madrasah agung ini, hingga akhir dari perjalanan bumi. Ya Rabb.

 

Refrensi:

Al-Mursyidi, Ibrahim Sya’ban al-Azhary, Al-Muhadditsun fī Rihab al-Azhar, Kairo: Dar al-Kasyidah.

Abdu al-Hamid, Munammad Muhyiddin, Minhah al-Jalil bi Tahqiq Syarh Ibn Aqil, Kairo: Dar Thalāi’

Hakim, Ahmad Husnul, Ensklopedi Kitab-Kitab Tafsir, Tanggerang: El-Siq (Lingkar Studi Alquran).

 

Penulis: Syihab Syaibani (Beben)

Editor: Syaifur Rohman

 

Ingin tulisan Anda diupload dan direpost di website PPMI, silahkan bisa hubungi  Narahubung di bawah ini:

– wa.me/201019533008 (Wijaya) Pimred Website PPMI Mesir.
– wa.me/201140841837 (Syaifur) Dirut Website PPMI Mesir.
– wa.me/201559711656 (Nadya) Humas Website PPMI Mesir.

Atau bisa langsung DM Instagram Website PPMI Mesir @ppmimesir.or.id

Syarat dan ketentuan berlaku

______________
#PPMI Mesir, milik bersama

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *