Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Artikel/Manhaj Azhari dalam Menuntut Ilmu
Artikel

Manhaj Azhari dalam Menuntut Ilmu

By Syaifur Rohman
18/09/2020 4 Min Read
1

Kata Maulana Syeikhuna Al-Muhaddits Dr. Aiman Hajjar -hafidzohullah- mengenai Manhaj thalibul ilmi Al-Azhar Asy-Syarif dalam menuntut ilmu itu ada tiga: 1) Sanad akurat secara Riwayah dan Dirayah, 2) pembentukan suluk, 3) dan pengaplikasian dakwah Islam secara murni.

Lanjut beliau, dari pokok-pokok sistem di atas terdapat dalam proses menuntut ilmu yang bermulazamah kepada seorang guru – berhadapan secara langsung – membaca kitab tertentu dari awal pembuka hingga akhir penutup yang dipelajari. Metode ini telah ada sejak zaman Baginda Nabi Muhammad Saw. Bahkan, para ulama terdahulu kerap sekali menekankan akan hal tersebut. Karena, jika ia belum belajar atau menuntut ilmu tanpa proses melalui “seorang guru” yang mampu mengantarnya ke jalan ilmu, maka ia belum dikatakan berilmu.

Jikalaupun ia sebatas rajin membaca buku, tetapi ia belum pernah duduk di hadapan seorang guru yang mampu membimbingnya ke jalan terang, maka dengan tegas ia belum pantas dikatakan sebagai “penuntut ilmu”; proses belajar-mengajarnya seolah tiada faidah. Mengapa? Karena ilmu yang ia cermati sebatas dzahirnya, ibarat kata ia belajar ditemani oleh setan yang tidak hadirnya pembimbing murni dalam menapaki jalan ilmu; yang dimana esensi dari ilmu yang dipelajarinya dapat tersambung hingga sebagaimana yang diajarkan Baginda Nabi Muhammad Saw kepada umatnya.

Dulu, tegas beliau, di awal berdirinya Al-Azhar, proses belajar-mengajar belum tersusun secara sistematis dalam konsep pemetaan ilmunya meskipun sudah terealisasikannya proses belajar kepada seorang guru. Namun, dengan berlangsungnya zaman ke zaman; Al-Azhar semakin terarah dan begitu rapi konsep pemetaan ilmunya baik dari level dasar hingga ke level expert.

Qultu: Perlu dicermati, lebih dari itu Al-Azhar telah mampu mencetuskan para jebolan ulama yang ahli di bidangnya masing-masing dan yang memiliki nilai keilmuan secara ensiklopedi – yang menjadi referensi keilmuan Islam di seluruh dunia baik dari segi elektabilitas sosok perangainya, pun kualitas dari berbagai karya-karyanya. Sebutlah Imam Al-Qazwaini, Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari, Imam Syamsuddin Ar-Ramli, Imam Khatib Asy-Syirbini, Imam Al-Quthb Ar-Rabbani Asy-Sya’rani, Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Syeikh Ibrahim Al-Bajuri, Syeikh Hasan Al-Athar, Syeikh Ad-Damanhuri, Imam Abdurrauf Al-Munawi, Syeikh Asy-Syarqawi, Sidi Ibnu Athaillah As-Sakandari, Ibnu Mandzur, Syeikh Murtadho Az-Zabidi, yang dari Nusantara ada Syeikh Abdul Manan Dipomenggolo At-Tarmasi, Syeikh Abdusshomad Al-Palimbani, Kyai Kahar Muzakkir, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Kyai Darwis, dan masih banyak lagi yang tak mungkin disebut satu per satu. Mereka semua menjalani proses menuntut ilmu dengan duduk di hadapan seorang guru, dengan talaqqi, tidak sebatas main instan.

Seharusnya, tegas gurunda Syeikh Aiman, para pelajar kini bersyukur dengan setia menjalani proses belajar-mengajar yang telah disediakan di Al-Azhar. Guru sudah ada, materi tinggal dipilih, para pelajar tinggal duduk manis untuk mendengarkan dan meneladani mutiara hikmah dari ilmu-ilmu yang disampaikan oleh para guru. Apa susahnya? Betapa bodohnya kita, sebagai pelajar, ketika begitu banyaknya mutiara yang dihamburkan di pelataran Jami’ Al-Azhar, tetapi mata dan hati kita dibutakan dengan tidak menyadari adanya mutiara-mutiara itu!.

Manhaj menuntut ilmu juga tidak lepas dari empat pokok yang perlu dicermati, yang dalam kitab Fawaid Al-Makkiyah begitu diwanti-wanti, yaitu: 1) Aqlun Rajjah, 2) Syakhun Fattah, 3) Kutubun Shihhah, 4) Al-Mudawamah wal Ilhah. Qultu: Hal ini juga mencangkup dalam manhaj menuntut ilmu bagi seorang Azhari sebagaimana disebutkan di atas. Dan ini, sekali lagi, semuanya tercangkup dalam proses menuntut ilmu kepada seorang guru – secara TALAQQI – yang belum tentu mampu dipetik dalam bangku perkuliahan.

Mengapa demikian? Karena dalam “Talaqqi” – yang perlu dicermati bersama – seorang murid dapat ditransfer molekul-molekul ilmunya dari seorang guru baik secara riwayat kontekstualnya, maupun dirayat pemahaman serta ahwal-nya. Di sini, seorang guru juga mampu memahami dan memperhatikan secara intens bagaimana murid-muridnya dalam proses menuntut ilmu; ada yang mudah dalam menangkap ilmu, ada yang mencernanya masih terasa buntu. Ditambah dalam proses ini, seorang guru mampu mengontrol perspektif dari seorang murid dalam penyampaian ilmu yang dimilikinya. Terlebih lagi, seorang murid amat terbuka peluangnya guna menanyakan dan memastikan keakuratan ilmu yang telah ditransfer oleh sang guru.

Adapun secara suluk. Dalam talaqqi, proses belajar-mengajar di hadapan seorang guru secara langsung mampu menumbuhkan akhlak seorang murid dalam menuntut ilmu. Ia diajarkan bagaimana cara ta’dzim dan penghormatan kepada sang guru – ridho seorang guru amatlah penting – begitupun terhadap kitab pegangannya dalam menuntut ilmu. Hal ini membuktikan akan penghormatan seorang murid terhadap ilmu, karena saking murninya ilmu itu – yang tidak sembarangan orang mampu merasakan Nur atau esensinya.

Sementara berjalinnya dakwah Islam secara murni, ini yang perlu dicermati. Dalam hal ini seorang murid belajar langsung kepada sang guru dengan mengkaji kitab tertentu dari mukaddimah sampai khatimah, dari materi yang dasar hingga level expert. Hal demikian dapat merealisasikan proses dakwah keilmuan Islam secara esensial dan komprehensif. Hakikat menuntut ilmu adalah untuk mengenal Islam secara mendetail; baik dari segi perspektif, bahasa, gramatika, retorika, logika, akidah, syariat, maupun hakikat dan akhlaknya. Dengan ini benar-benar mampu tertanam ilmunya, bukan sebatas maklumatnya.

Asupan vitamin ini belum tentu didapati dalam dakwah ceramah secara percuma; yang dimana sebatas dibubuhi maklumat ringkasnya. Begitupun dalam bangku perkuliahan, belum tentu mengkaji suatu ilmu secara mendetail hingga ke akarnya, karena sebatas disuguhi diktat secara singkat, sebatas disketsa covernya terhadap materi tertentu – yang belum mengkaji isinya satu per satu. Inilah nilai positifnya menuntut ilmu secara berguru, “talaqqi”. Dan ini, benar-benar membuktikan betapa luasnya nilai literasi keilmuan Islam, bukan sebatas cuma-cuma.

Al-Azhar benar-benar menekankan betapa urgensinya menuntut ilmu dengan seorang guru, dengan talaqqi. Karena di lain itu, pun yang perlu dicermati, pertama kali berdirinya Al-Azhar dalam bentuk proses belajar-mengajarnya secara talaqqi, bukan dengan konsep perkuliahan. Hasibtu: Maka demikian, akankah layak, kita para penuntut ilmu yang ada di Al-Azhar ini dikatakan sebagai “Thalibul Azhar” atau “Azhari” atau mungkin “alumni Al-Azhar sejati”, sementara kita saja yang berada di dalamnya tidak ada usaha menyempatkan waktu untuk “Talaqqi” (yang hal ini menjadi prioritas Al-Azhar) – ditambah setia melaksanakan kegiatan talaqqi itu secara istiqomah dan rutin dari awal mukaddimah hingga akhir khatimah. Pantaskah? Fataammal!.

 

Penulis: Rizki Andrian

Tags:

ArtikelAzhariManhaj TholibTalaqqi
Author

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id 2019-2022

Follow Me
Other Articles
Previous

Ujian Al-Quran Susulan Akan Diadakan Pada 10 Oktober Mendatang

Next

Antisipasi Keamanan Terhadap Masisir, PPMI Imbau Ini

One Comment
  1. Sukses Gelar Wisuda di Kala Pandemi Covid-19, PPMI Hadirkan Konsep Baru ⋆ Official Website says:
    22/01/2022 at 19:45

    […] Baca juga : Manhaj Azhari dalam Menuntut Ilmu […]

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 325x300
banner 325x300
Hey, I’m PPMI Mesir
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • Bizzo Casino im Test: Spiele, Boni und Zahlungen
    by Zaenal Mustofa
    17/06/2026
  • DPD PPMI Thanta Perhatikan Kesehatan Warga Jelang Ujian
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • Masisir Kembali Banggakan Indonesia di Kanca Dunia
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • KBRI Sambut Kader Bangsa di Mesir
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

PPMI Mesir

PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir

PPMI Mesir

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn

Latest Posts

  • Bizzo Casino im Test: Spiele, Boni und Zahlungen
    In diesem Test steht die Praxis im Vordergrund: Welche Spiele… Read more: Bizzo Casino im Test: Spiele, Boni und Zahlungen
  • Sederet Pejabat KBRI Cairo Hadir, Sekolah Parlemen Jadi Sorotan: Ada Apa?
    ppmimesir.or.id – Setelah sukses menyelenggarakan Gelar Wicara tentang Legislatif yang… Read more: Sederet Pejabat KBRI Cairo Hadir, Sekolah Parlemen Jadi Sorotan: Ada Apa?
  • Komisi Pemberdayaan Alumni Simposium Kawasan Timtengka Soroti Urgensitas Pelatihan Soft Skill pada Sidang Kedua
    ppmimesir.or.id – Sidang Komisi II pada Komisi Pemberdayaan Alumni menghasilkan… Read more: Komisi Pemberdayaan Alumni Simposium Kawasan Timtengka Soroti Urgensitas Pelatihan Soft Skill pada Sidang Kedua

Pages

Kontak

Phone

+20...

+62...

Email

ppmimesir@

Lokasi

Cairo, Egypt

Copyright 2026 — PPMI Mesir. All rights reserved.