KAIRO — Seminar dan Diskusi Panel dalam rangkaian Simposium Internasional PPI Dunia 2026 menjadi salah satu rangkaian acara pada hari kedua pelaksanaannya. Kegiatan yang digelar di Capital Palace, Al Abageyah, Nasr City, Kairo, pada Senin (21/9) tersebut menghadirkan empat pemateri dalam tiga sesi yang membahas pemberdayaan daerah dan sektor migas, diplomasi budaya, serta strategi ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Pada sesi pertama, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, S.S., M.Sc., membahas inventarisasi budaya sebagai instrumen diplomasi. Ia menekankan bahwa kekayaan budaya Indonesia mencakup berbagai aspek, mulai dari tradisi, pengetahuan, hingga seni.

Fadli juga menyoroti sejumlah upaya pelestarian dan penguatan budaya Indonesia di tingkat internasional, termasuk pengajuan tempe dan kesenian makyong (red: seni teater masyarakat Melayu) dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO. Kepada mahasiswa dan diaspora Indonesia di Mesir, ia mendorong mereka menjadi duta budaya dengan memanfaatkan jejaring internasional guna memperkenalkan kebudayaan Indonesia.
Sesi kedua menghadirkan Kepala BLU Lemigas ESDM RI, M. Iksan Kiat, B.Eng., M.Sc., yang membahas pentingnya pemerataan keterlibatan daerah dalam pembangunan sektor energi. Ia mendorong penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi serta membuka peluang magang bagi pengurus PPI se-Dunia dengan latar belakang STEM dan perminyakan.
Iksan juga menyebut mahasiswa PPI sebagai “raksasa tidur” yang memiliki kapasitas internasional dan dapat mengambil peran dalam sektor strategis, terutama energi dan teknologi, di tengah perkembangan otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Sementara itu, sesi ketiga membahas strategi ekonomi Indonesia melalui penguatan perdagangan, investasi, dan daya saing nasional. Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Kairo, Hendra Satya Pramana, menjelaskan peluang kerja sama joint venture dengan perusahaan Mesir untuk memanfaatkan rantai pasok dan akses pasar yang dimiliki Mesir.
Atase Perdagangan KBRI Kairo, Olvy Andrianita, turut memaparkan sejumlah komoditas potensial Indonesia di pasar Mesir serta tantangan ekspor, khususnya terkait standar keamanan, sertifikasi, dan persyaratan teknis negara tujuan. Ia juga menyampaikan adanya kelas penguatan kapasitas ekspor serta peluang magang bagi mahasiswa Indonesia.

Melalui tiga sesi tersebut, seminar ini menempatkan mahasiswa dan diaspora Indonesia sebagai bagian dari ekosistem pembangunan nasional, baik melalui penguatan kapasitas di bidang energi dan ekonomi maupun melalui diplomasi budaya di tingkat global di masa mendatang.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie
Editor: Naura Najwa Salsabila