Pengamat Masisir: Tidak Ada Masisir yang Benar-Benar Ideal

 Pengamat Masisir: Tidak Ada Masisir yang Benar-Benar Ideal

“Kembali saya ingin menegaskan apa yang barusan saya sampaikan, bahwa tidak ada Masisir yang benar-benar ideal, ” ujar Zulfah Nur Alimah, Lc., Mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Lughoh Arabiyah tersebut memberikan penegasan di sesi tambahan tatkala menanggapi apa yang disampaikan oleh Prof. Bambang Suryadi, Ph.D. mengenai kemungkinan adanya Masisir yang benar-benar memenuhi standar ideal, pada acara Students Dialogue Community (SDC), di Wisma Nusantara (30/11).

Zulfah berujar bahwa standardisasi ideal bukanlah milik kelompok tertentu, karena “ideal” memiliki ukuran berbeda-beda di setiap individu dan sangat sulit diterjemahkan secara umum dengan satu standar saja. ”Kita sering menganggap bahwa Masisir ideal adalah dia yang lancar dalam study, yaitu lulus tepat waktu dalam waktu 4 tahun, harus diketahui bahwa hal tersebut tidak menjadi ukuran dalam intelektualitas seseorang”, tambah Zulfah.

Lihat Video Student Dialogue Community  “Masisir Ideal, Belajar Apa” Part 1 di sini

Zulfah menyebutkan bahwa ukuran Intelektual seseorang seharusnya diukur juga dari cara dia berdiskusi, menyampaikan pendapat, hingga merespon fenomena di lingkungan sekitar.” Jika melihat dari sudut pandang sains, maka ilmu hanyalah yang bersifat empiris saja, sedangkan jika melihat dari sudut pandang sastra, maka ilmu adalah yang kita dapatkan sepanjang kehidupan,” tambahnya.

Baca juga : Dialog Kebangsaan: Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara

“Ketika lulus dari Al-Azhar, sesungguhnya kita tidak wajib menjadi ulama, namun kita bisa menyebarkan nilai-nilai Al-Azhar dengan cara dan passion kita,” ujar Zulfah tatkala menanggapi pertanyaan dari moderator acara SDC, Muhammad Nur Taufiq Al-Hakim.

Zulfah juga mengomentari satu stereotip yang sering menimpa Masisir, yaitu anggapan bahwa lulusan Al-Azhar akan selalu ditanyai permasalahan agama oleh masyarakat setelah kembali ke tanah air. Beliau mengatakan bahwa stereotip tersebut jangan sampai membuat Masisir mengalami paranoid.

Lihat Video Student Dialogue Community  “Masisir Ideal, Belajar Apa” Part 2 di sini

“Solusinya adalah jangan pernah masuk ke sebuah masalah yang bukan ranah kita. Jika ada lulusan Mesir yang pintar agama, maka terjunlah ke bidang agama, jika pintar dalam bidang berbisnis, maka terjunlah di dunia bisnis, jangan memasuki bidang yang bukan merupakan ranah kepakaran kita, karena akan menimbulkan chaos. Saya sendiri angkat tangan jika ada yang bertanya kepada saya soal ilmu fikih dan lainnya, karena kemampuan saya adalah di bidang sastra Arab,” pungkas Zulfah dengan menggebu-gebu.

Pendiri Rumah Syariah dan Rumah Tamhid, Agung Saputro, Lc. Dipl. merespon pendapat Zulfah tentang Masisir. Beliau berharap agar Masisir tidak menjadikan perkataan “lulus 4 tahun tidak menjamin intelektualitas” sebagai alasan untuk meligitimasi kemalasan Masisir dalam berkuliah dan menuntut ilmu. “Bisa saja kata-kata ini menjadi kalimatul haq uriida bihil batil, jika digunakan dalam menutupi kemalasan dalam berkuliah,” ujar Agung.

Lihat Video Student Dialogue Community  “Masisir Ideal, Belajar Apa” Part 3 di sini

Beliau juga mengkritisi alasan lain yang kerap digunakan Masisir yang mengesampingkan belajar dengan alasan berbisnis, berorganisasi, dan lain sebagainya. Menurut pendiri Rumah Tamhid tersebut, jangan sampai Masisir menggunakan alasan yang seolah-olah bijak padahal hanya menutupi kemalasan dan ketidakseriusannya. “Jangan berlindung dibalik kata-kata tersebut. Seharusnya kita bisa membagi prioritas,” kata tokoh kondang di Masisir itu.

Baca juga : SDC Datang Sebagai Wadah Diskusi Cari Solusi

Agung menambahkan bahwa idealnya dalam belajar, kita harus memperhatikan mana yang fardu ain dan mana yang fardu kifayah, “Fardu ain menurut para ulama itu berbeda-beda. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ada lebih dari dua puluh pendapat.”

Agung menyimpulkan bahwa ilmu yang fardu ain untuk dipelajari ini berbeda-beda di setiap individu. “Jika dia terjun di dunia bisnis maka dia harus mempelajari hukum jual beli dan apa yang halal, haram, serta mubah dan makruh dalam perniagaan, begitu juga di bidang lainnya,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan juga tentang ilmu yang hukumnya fardu kifayah untuk dipelajari, contohnya adalah mendalami ilmu syariah secara mendalam. “Jangan terlena dengan yang fardu kifayah, hingga melupakan belajar yang fardu ain,” kata Agung menjelaskan.

Acara Student Dialogue Community (SDC) ke-3 dengan tema “Masisir Ideal, Belajar Apa?” diselenggarakan di Wisma Nusantara, Jalan Rob’ah El-Adawea. Pada hari senin (30/11) kemarin ini mendatangkan enam orang narasumber termasuk Agung dan Zulfah, yaitu Prof. Bambang Suryadi, Ph.D (Atdikbud KBRI Kairo), Agung Saputro, Lc. Dipl. (Pendiri Rumah Syariah dan Rumah Tamhid), Heri Nuryahdin (Pengamat bisnis dan Usaha Masisir), Zulfah Nur Alimah (Mahasiswi Pascasarjana Universitas Al-Azhar), Auzi’na Azmal Umur (Pengamat dan Aktifis Olahraga), serta Muhammad Najid Akhtiar, Lc. (Penasehat PPMI Mesir 2020/2021).

 

Reporter : Anhar Azzumta

Editor : Nazhril Fathra

 

 

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *