Menyingkap Intoleransi dan Ekstremisme dalam Kasta Pendidikan Indonesia

 Menyingkap Intoleransi dan Ekstremisme dalam Kasta Pendidikan Indonesia

Menangkap lentera masa lalu yang begitu kelam habis ditelan kegelapan. Buta diseret oleh kebodohan tanpa ada lentera pencerahan. Sosok mengagumkan dan cerdas sangat dihauskan oleh para kaum di masa itu. Itulah masa penjajahan oleh kaum berkulit putih, yang mana terdapat pelarangan dan monopoli pendidikan terjadi secara besar-besaran.

Namun itu bukan alasan mundur bagi seorang cendikiawan Ki Hajar Dewantara. Sosok tangguh dan gigih dalam mendirikan pusat pembelajaran demi bangsa walau harus bertentangan keras dengan Negeri Kincir Angin pada masa itu. Beliaulah pundak awal di mana kebangkitan belajar dimulai besar-besaran oleh masyarakat Indonesia saat itu. Berkat jasa-jasa dan keberaniannya, maka pemerintah dan Kementrian Pendidikan menetapkan pada tanggal kelahirannya, 2 Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional atau biasa disebut HARDIKNAS.

Tak ayal pemuda dan pemudi yang belajar di luar negeri pun masih sangat menghargainya walau tak memijak tanah air sendiri. Seperti halnya mahasiswa Indonesia Al-Azhar Mesir yang berhasil menghelat HARDIKNAS dalam balutan yang berbeda, yakni Simposium PPIDK Timur Tengah Afrika 2021 yang berhasil mengumpulkan mahasiswa dari berbagai kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Baca juga: Menelusuri Lailatulqadar Beserta Amalannya

Apa itu Simposium Timtengka? Simposium TimTengka merupakan acara tahuman yang sudah bertahun-tahun menjadi program dan tercantum dalam AD-ART PPI Dunia, salah satu organisasi yang menaungi mahasiswa Indonesia di seluruh dunia. Simposium Timtengka ini sendiri merupakan program yang fokus pada kaderisasi para anggota PPI yang tersebar di 18 Negara kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Simposium Timtengka bertujuan untuk mempererat tali silaturahim bagi pelajar-pelajar Indonesia di seluruh dunia, khususnya kawasan Timur Tengah dan Afrika. Simposium ini juga bekerjasama dengan beberapa organisasi dan perwakilan afiliatif serta pembekalan disampaikan oleh para Guru Besar kampus-kampus ternama.

Simposium PPIDK merupakan hajat yang sangat penting, sebagaimana yang disampaikan oleh Alfy Isa Muharrom, Ketua II SK Timtengka yang juga berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara tersebut. Mengapa dikatakan penting? sebab dalam rentetan acara simposium ini, terdapat sidang internal yakni penentuan Koordinator Simposium selanjutnya dan pemilihan tuan rumah tahun mendatang.

Di tahun 2021, PPIDK Timtengka mempercayakan penyelenggaraan Simposium tersebut kepada Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Mesir (PPMI Mesir) yang dibawahi langsung oleh Menko II yang konsen pada Bidang Dalam dan Luar Negeri. Pelaksanaan Simposium itu sendiri dilakukan dengan persiapan yang amat matang di tengah pandemi.

Baca juga: Perlunya Kerjasama Masyarakat dalam Mencegah Penyebaran Paham Radikal

Uniknya, Simposium PPIDK Timtengka kali ini dilakukan secara hybrid dan jauh lebih fresh, yaitu diselenggarakan secara daring dan luring. Seperti yang ditampilkan kanal youtube resmi PPMI Mesir Tv, nampak MC berdiri pada layar dan membawakan acara secara langsung melalui panel. Sedangkan pembekalan dari beberapa narasumber dilakukan dengan via Zoom secara terpisah.

Pada sesi panel (online) akan ada beberapa acara rentetan dan pembekalan dari beberapa narasumber terpilih. Empat subtema yang menjadi titik pacuan sesi panel ialah geopolitik, moderasi beragama, pendidikan dan ekonomi kreatif. Sesi panel pertama sukses diadakan pada Jumat (30/4) yang bertemakan geopolitik.

Di hari ketiga, tepat pada tanggal 2 Mei 2021 bertepatan dengan HARDIKNAS, Simposium PPIDK mengangkat subtema Pendidikan pada sesi webinar dengan jargon ‘Penguatan Pendidikan Kepengesahan dalam Upaya Migrasi Ekstremisme’ yang berhasil menggaet dua Guru Besar kebanggaan Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah selaku Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan Prof. Dr. Faried F. Saenong selaku Dosen tetap Universitas Islam Internasional Indonesia.

“Indonesia memiliki kontribusi besar terhadap sejarah peradaban dunia dengan keragaman budaya dan agamanya, dari sanalah muncul ta’aduddiyah atau pluralitas. Orang Indonesia kalau tidak punya ketangguhan pluralitas (how to solve the problem of plurality) maka tidak bisa dikatakan bangsa Indonesia. Otomatis ketika anda tangguh di dalam menyelesaikan kebinekaan, maka ada mental pluralitas, moderasi, dan toleransi…,” ungkap Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah dalam kesempatan pertama menjelaskan bidang penguatan pendidikan kepengesahan dan upaya migrasi ekstremisme yang sedang menjadi topik hangat di Indonesia.

Baca juga: Pernah Putus Sekolah, Kisah Sedih Masa Kecil Amid Ushuluddin Universitas Al-Azhar

Sesi itu tentunya tidak luput dari semangat mahasiswa Mesir dalam berpartisipasi pada acara tersebut. Tidak hanya menyajikan pembekalan keilmuan saja, namun panitia juga menyelipkan hiburan. Tidak tanggung-tanggung, hiburan itu menampilkan para mahasiswa Indonesia di Mesir yang membawakan beberapa lagu dan musik kebanggaan Indonesia, yakni Indonesia Pusaka, Hitam Putih oleh Fourtwenty dan Menghitung Hari yang dipopulerkan oleh ANDA. Hiburan tersebut dibawakan langsung oleh Musikalara dengan iringan akustik dan suara yang merdu.

Pada sesi selanjutnya setelah penampilan hiburan, acara dilanjutkan oleh Prof. Dr. Faried F. Saenong dengan membawakan tema “Migrasi dan Implementasi Nilai-Nilai Toleransi dalam Upaya Menciptakan Pendidikan Ramah Keberagaman”. Pada sesi panel ini lebih berkonsentrasi pada materi utama yang diangkat sendiri oleh Prof. Dr. Faried yakni “Toward Pluralistic Education: Empowering Tolerant Values in Learning Process”.

Lihat video Simposium Sesi Pendidikan di sini: http://https://youtu.be/-F_Rs2GKzII

Dalam penjelasannya yang cukup panjang, beliau menjelaskan bahwa pendidikan wajib memiliki karakter, yakni pendidikan yang kaya akan keragaman, sebab Indonesia sendiri memiliki banyak keragaman budaya dan suku. Penyederhanaan kurikulum juga sangatlah penting, terumata acuan pada pendidikan berbasis profil pelajar Pancasila. Semua mata pelajaran harus menerapkan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana salah satu cara untuk menguatkan toleransi dan pluralitas ada di negara yang bersuku-suku dan memiliki ragam budaya dan agama.

“Intoleransi memang sedang bermunculan di tengah pasang surutnya isu-isu politik. Terpecah belahnya masyarakat sebab perbedaan tidak bisa dianggap masalah yang sepele. Perdebatan agama dan pendidikan nyatanya kian memanas dan tak kunjung dingin. Sudah sepantasnya pembekalan akan toleransi dan pendidikan pluralitas harus segera diperluas,” ungkap beliau.

Baca juga: Pernah Putus Sekolah, Kisah Sedih Masa Kecil Amid Ushuluddin Universitas Al-Azhar

Tidak berhenti di situ, perhelatan Simposium tersebut tidak hanya diselenggarakan pada sesi panel. PPIDK kali ini mengusung sesi offline pada acara puncak nanti dengan beberapa rentetannya seperti Grand Opening beserta beberapa penampilan, kemudian sidang internal untuk penetapan tuan rumah dan koordinator selanjutnya, dan sidang perubahan AD-ART.

Semarak Simposium tentu tak luput dari dukungan berbagai pihak, yakni semangat Masisir itu sendiri. Bukan hanya sekadar belajar, namun kita pun dituntut untuk memahami dunia kemasyarakatan melalui beberapa badan organisasi. Tidak salah jika Mesir dikatakan sebagai ladang ilmu, sebab ilmu dapat kita dapatkan secara percuma. Lebih-lebih ilmu bermasyarakat dan ilmu sosial bisa kita dapatkan dengan mudah, asal kita mau. Menjadi seorang yang bermanfaat dan menjadi panutan merupakan impian semua manusia, namun berdiri di hadapan banyak mata untuk menyampaikan ide dan gagasan tidak cukup dengan ilmu saja, melainkan sifat bijaksana dan kepiawaian dalam beretorika. Dari ilmu kita diajar, dan dari organisasi kita belajar, dan dari masyarakat kita bersabar.

 

Reporter: Faradila Fahma

Editor: Nazhril Fathra

 

 

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *