Jendela Nusantara, Menumbuhkan Romantisme Dalam Perbedaan

 Jendela Nusantara, Menumbuhkan Romantisme Dalam Perbedaan

Hari pertama Jendela Nusantara telah dilangsukan pada Kamis (22/11/20) di Aula Wisma Nusantara oleh Kemensosbud PPMI Mesir. Kegiatan yang mengusung tema “Bersatu Padu Meraih Bingkai Akulturasi” ini akan berlangsung selama lima hari, yaitu pada tanggal 19, 22, 23, 24 dan 25 November 2020 dengan menghadirkan delegasi dari setiap kekeluargaan, dan akan disiarkan langsung melalui kanal Youtube PPMI TV.

Jendela Nusantara hadir agar Masisir dapat mengenal perbedaan dari setiap daerah dan menyadari bahwa kita hidup dalam satu kesatuan sebagai warga Indonesia.

“Tujuan kita adalah bagaimana semua Masisir mengaku berbahasa satu; bahasa Indonesia, berbangsa satu; bangsa Indonesia. Sehingga kita dapat merasakan jawamu-jawaku, bugismu-bugisku, batakmu-batakku karena kita Indonesia,” ungkap M. Randy Zulfikar selaku Ketua Panitia dalam sambutannya.

Lihat video Jendela Nusantara hari 1 di sini :

Terlebih dari itu, Presiden PPMI Mesir, Farhan Aziz Wildani mengajak Masisir untuk mengenal adat istiadat dari daerah lain karena hidup di Mesir representasi masyarakat Indonesia dengan keberagamannya. Akan banyak manfaat dan nilai yang bisa diambil khususnya dari segi perbedaan. “Perbedaan bukan sebuah masalah, justru ketika ada perbedaan, ada nilai yang timbul yaitu toleransi di antara kita,” ujarnya.

Acara berlangsung menarik, pada sesi dialog yang dibawakan oleh moderator Muhammad Syahran Hidayat. Sebelum dialog dimulai, Syahran mengingatkan bahwa acara ini adalah ajang untuk merekonstruksi hubungan baik antara warga Indonesia dan juga menciptakan romantisme.

Baca juga : Diskusi antar Afiliasi, Eratkan Silaturrahmi dengan Argumentasi

Jendel Nusantara pada hari pertama menghadirkan delegasi dari empat kekeluargaan, mereka adalah: M. Fakhruddinta Sebayang (HMMSU), Izzah Zulfiana Luthfia (KEMASS), Abdurrozaq Muhammad R. (GAMAJATIM), dan H. Muhammad Syamsul Hadi (KMNTB).

Dalam sesi dialog, masing-masing delegasi mengenalkan budaya dari daerahnya, banyak hal yang dapat  diketahui tentang keberagaman dari daerah lain. Hal itu akan membuat masisir semakin kenal satu sama lain sehingga menimbulkan keterbukaan antar warga Indonesia dan mengikis stereotip negatif di antara warga Indonesia.

Baca juga : Dialog Kebangsaan: Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara

“Perbedaan itu indah, yang membuat tidak indah adalah stereotip negatif yang dibangun masyarakat. Stereotip negatif akan luntur jika kita mengetahui satu sama lain. Adanya acara ini semoga menjadi langkah menghilangkan stereotip negatif di masyarakat,” tutur Izzah Zulfiana delegasi KEMASS.

Setelah pembagian sertifikat kepada masing-masing delegasi, ada penampilan Stand Up dari Komika Masisir, yang dibawakan oleh Arif Affandi dan Difa, sebelum akhirnya acara ditutup oleh MC.

 

Reporter: Muhamad Alwi

Editor : Dwi Wijaya

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *