Bedah Disertasi Dr. Aep Saepullah S.A.g, M.A. Tebarkan Inspirasi Akademis di Kalangan Masisir

 Bedah Disertasi Dr. Aep Saepullah S.A.g, M.A. Tebarkan Inspirasi Akademis di Kalangan Masisir

Ppmimesir.or.id, Kairo—Setelah Dr. Aep Saepullah S.A.g, M.A. berhasil menyandang gelar doktor di bidang usul fikih di Universitas al-Azhar pada Juli lalu. El-Montada sebagai forum mahasiswa pascasarjana Indonesia di Mesir bekerja sama dengan KBRI Kairo, PCIM Mesir, dan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah menyelenggarakan acara bedah disertasi miliknya di Markaz Dakwah Muhammadiyah Mesir, Hay Tasi, Nasr City, Kairo pada Ahad (26/30/2021).

Dubes Indonesia untuk Mesir, Dr. Lutfi Rauf menyatakan bahwa keberhasilan Dr. Aep Saepullah S.A.g, M.A. dalam menyelesaikan program doktoralnya diharapkan bisa memberikan inspirasi kepada mahasiswa pascasarjana lainnya untuk meraih hasil yang sama. Inspirasi ini, bisa didapatkan dengan meneladani apa yang dilakukan putera kelahiran Ciamis ini dalam studinya yaitu terus bersabar dan berjuang kendati judul disertasinya baru diterima enam tahun setelah lulus program magister. “Saya harap hal ini tidak hanya menginspirasi mahasiswa pascasarjana saja, namun juga seluruh mahasiswa Indonesia di Mesir,” pungkasnya.

Anggitan disertasi setebal 1146 halaman ini dikupas oleh Ustadz Athaillah Muslim MA. yang juga kandidat Doktor Usul Fikih Universitas Kairo. Ustadz Zaki Al-Rasyid Lc., Dipl. (Kandidat Master Usul Fikih Universitas Al-Azhar) menakhodai acara ini sebagai moderator. Bedah disertasi diselenggarakan secara daring dan luring. Tatap muka dihadiri oleh 100 mahasiswa dan secara virtual Zoom turut hadir Duta Besar LBBP Kairo, Dr. (HC) Luthfi Rauf, Drs. M. Aji Surya, SH, beserta Prof. Bambang Suryadi.

Acara tersebut terlaksana dengan penuh antusiasme terlebih bedah disertasi ini merupakan acara pertama dalam rangkaian program “Paket Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana”. Pada bulan September hingga Desember tahun 2021. Dr. Aep Saepullah membawakan disertasi yang bertajuk “Bantahan atas Bantahan-Bantahan al-Imam Abu Zur’ah Waliyuddin bin al-‘Iraqy dalam Kitabnya: al-Tahrir Lima fi Minhaj al-Ushul min al-Manqul wa al-Ma’qul terhadap Kitab al-Minhaj Karya al-Qadhi al-Baidhawi dari Awal Kitab sampai Bahasan Terakhir dari Bab al-Awamir wa al-Nawahiy: Studi Analisis Usul Fikih”.

Dr. Aep mengawali bedah disertasinya dengan bercerita mengenai perjuangannya yang tak kenal kata menyerah dalam menyelesaikan studi doktoralnya, “Bahkan banyak teman sesama program doktoral saya yang akhirnya memilih pulang ke Indonesia karena judul disertasinya bertahun-tahun tidak diterima,” ujarnya.

Beliau melanjutkan bahwa dirinya memang harus memupuk kesabaran yang luar biasa dalam perjalanan studi yang memakan waktu dan tidak mudah. Anugerah pun datang pasca Dr. Aep menyelesaikan program non-formal di Pelatihan Mufti Darul ‘Ifta. setelah tiga tahun mengikuti pelatihan mufti tersebut, judul disertasi yang diajukan bisa diterima.

Dr. Aep juga banyak berbagi kisah inspiratif mengenai al-Qadhi al-Baidhawi dan Imam Ibnu al-Iraqy. Menurutnya kedua sosok ulama tersebut adalah figur yang sangat penting dalam perkembangan ilmu ushul fikih mazhab Syafi’i. Keduanya tidak menjadikan perbedaan pandangan maupun pendapat sebagai alasan untuk berpecah belah dan menumpahkan darah. “Kita juga harus mengetahui bahwa faktor lahirnya banyak ulama adalah perhatian orangtuanya di kala kecil dan kondisi negara yang stabil,” tambahnya

Dalam sesi selanjutnya Ustadz Athaillah Muslim M.A, lebih membahas ke tiga kitab yang masyhur di ilmu ushul fiqih yaitu kitab Minhajul al-Wushul, Mukhtasar Ibnu al-Hajib, dan Jam’ul al-Jawami’. Menurut beliau kitab Minhajul al-Wushul belum populer di Indonesia, padahal kitab ini telah dipelajari di al-Azhar lebih dari tujuh abad lamanya. Beliau juga menambahkan bahwa kitab ini merupakan salah satu kitab yang terbaik dalam dunia ushul fikih.

Setelah usai sesi bedah disertasi, Atdikbud KBRI Kairo Prof. Bambang Suryadi memuji Dr. Aep dan mengatakan bahwa mahasiswa Indonesia di Mesir memiliki satu kekuatan yang tidak ada di tempat lain, yaitu akses kepada referensi otoritatif  klasik yang sangat kuat, contohnya seperti kitab Minhajul al-Wushul yang sudah berusia tujuh abad. Prof. Bambang menambahkan bahwa mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan kontekstualisasi yang baik sehingga tercipta sebuah keseimbangan dalam teks, “Kajian tekstual harus diimbangi dengan kemampuan kontekstualisasi yang berkaitan dengan reasoning atau penalaran,” pungkasnya.

Acara yang direncanakan selanjutnya adalah Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (Tesis dan Disertasi) Metode Tahkik dan Tematik, Pelatihan Takhrij Hadits, Talk Show Soft Skill Menulis Karya Tulis Ilmiah Lintas Kampus dan Jurusan oleh Mahasiswa Pascasarjana, dan yang terakhir adalah Pelatihan Penulisan dan Publikasi Jurnal Ilmiah Berstandar Nasional dan Internasional.

Reporter: Anhar Azumta

Editor: Wijaya

Dwi Wijaya Kusuma

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *