Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Abddulah Azzam Ihsan, Ketua Baitul Mal PPMI Mesir.
Ada semangat lama yang sempat padam di tubuh Masisir. Takaful, namanya, Ia merupakan perwujudan sebuah nilai tolong-menolong yang dulu pernah hidup dan menopang banyak mahasiswa Indonesia di Mesir, sebelum akhirnya perlahan meredup dan nyaris tak terdengar lagi selama lima tahun terakhir.
Tahun ini, di bawah komando Azzam, seorang mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ushuluddin Dakwah yang kini menjabat sebagai Ketua Baitul Mal PPMI Mesir, semangat itu coba Ia hidupkan kembali, atas inisiatif Presiden PPMI Mesir, Glenn Sofyan Assyauri Lubis, Lc., yang membentuk tim khusus untuk merealisasikannya.
“Senang rasanya di tingkat terakhir ini diberikan kesempatan oleh Pak Presiden untuk menghidupkan kebaikan takaful yang pernah ada,” ujarnya sebagai pembuka wawancara.
Menghidupkan Lagi Semangat yang Sempat Padam
Bagi sebagian Masisir, nama Baitul Mal mungkin masih terdengar asing, atau justru dianggap sebagai sebuah lembaga baru. Sejatinya, Baitul Mal bukanlah hal baru sama sekali, sudah ada sejak lima tahun lalu, hanya saja sempat vakum. Ia adalah lembaga pengelolaan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, semacam lembaga filantropi (red: kegiatan memberi bantuan untuk kepentingan sosial) yang secara umum bergerak untuk kepentingan Masisir, dan merupakan kelanjutan dari Takaful yang dulu bernaung di bawah PPMI Mesir.
Yang membuatnya terasa asing bukan karena Ia baru lahir, melainkan karena sempat vakum cukup lama. “Bukan hal baru karena sempat vakum selama lima tahun ke belakang dan tidak muncul secara menonjol,” jelas Azzam.
Tahun ini, Ia dan timnya berniat “Membangkitkan batang yang telah terendam”, sebuah ungkapan yang Ia pilih sendiri untuk menggambarkan posisi Baitul Mal saat ini bahwasanya Baitul Mal bukan mendirikan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan mengangkat kembali sesuatu yang sempat tenggelam.
Secara struktural, Baitul Mal berada dalam naungan PPMI Mesir sebagai badan semi otonom, sejajar dengan DKKM, Radio PPMI, KPI, dan lain sebagainya. Juga langsung berada di bawah koordinasi Presiden PPMI.
Bukan Membangun Jembatan Baru, Tapi Menyatukan yang Sudah Ada
Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul dibenak Masisir adalah: “Bukankah lembaga semacam ini sudah cukup banyak di kalangan Masisir?
Azzam tidak menafikan hal itu. Justru dari situ Ia menjelaskan posisi dan alasan keberadaan Baitul Mal secara lebih lanjut.
“Kita sebenarnya bukan membangun jembatan di atas jembatan, tapi kita ingin menggabungkan jembatan-jembatan ini,” Jelasnya.
Ia menekankan bahwa fokusnya adalah memperkuat kolaborasi, bukan menciptakan wadah baru. Menurutnya, persoalan sosial di kalangan Masisir sudah sangat besar seiring bertambahnya jumlah Masisir tiap tahunnya, yang menurut catatan Baitul Mal sendiri sudah menyentuh angka sekitar 20 ribu jiwa, dan kini bahkan mendekati 23 ribu orang. Semakin banyak jumlahnya, semakin banyak pula persoalan yang muncul, dan tidak semuanya bisa diselesaikan tanpa dana yang besar dan tanpa banyak pihak yang membantu.
Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar, “Siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan itu semua?,”
Menurut Azzam, jawabannya adalah kita semua. Namun jika harus dicari satu kelompok yang paling netral, yang tidak terikat afiliasi tertentu, dan disepakati sebagai representasi kesatuan pelajar Indonesia, jawabannya, yaitu PPMI Mesir. Di titik itulah Baitul Mal PPMI Mesir hadir dengan tujuan yang berbeda dari lembaga-lembaga serupa yang sudah ada, menyambungkan seluruh potensi yang tersebar, memaksimalkannya, dan mengarahkannya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar terhadap seluruh kalangan tanpa melihat latar belakang kelompoknya.
Wadah untuk Semua, Tanpa Memandang Golongan
Ketika ditanya soal tugas utamanya, Azzam menjelaskan bahwa Baitul Mal ingin menjadi wadah saling bantu dan peduli antarsesama Masisir, untuk seluruh golongan yang membutuhkan tanpa melihat afiliasinya.
Ia mencontohkan bagaimana lembaga-lembaga filantropi yang sudah ada, secara langsung penerima manfaatnya cenderung berasal dari kalangan yang berafiliasi dengan organisasi tersebut. Padahal, ada cukup banyak Masisir yang sama sekali tidak berafiliasi dengan organisasi apa pun, namun juga membutuhkan bantuan.
“Itulah yang kami incar sebagai Baitul Mal, jadi wadah bagi segala golongan yang membutuhkan tanpa memandang, sekalipun orang itu tidak masuk dalam golongan manapun. Semoga kita bisa meraih mereka,” Ungkapnya.
Prioritas penerima manfaat ini kemudian diturunkan ke dalam tiga kategori utama untuk program zakat, sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 60. Pertama, Fuqara wal masakin, yaitu mahasiswa yang terhenti kiriman dari orang tua dan kesulitan dana untuk kehidupan bulanan, dengan prioritas bagi pelajar yang punya semangat belajar tinggi dan berjuang fii sabilillah.
Kedua, Gharimin, mahasiswa yang terlilit utang untuk kebutuhan pokok namun tak punya harta cukup untuk melunasi dan sudah jatuh tenggat.
Ketiga, Ibnu sabil, mahasiswa yang terjebak di Mesir jauh dari keluarga, tak punya ongkos pulang, sementara ada kebutuhan mendesak untuk kembali ke Indonesia.
Dari Donatur Pasif Menjadi Pihak Penjemput Bola
Soal sumber pemasukan, Azzam bercerita bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah sebuah kebaikan yang memang seharusnya ada, semacam kewajiban sosial, fardhu kifayah yang harus dijalankan bersama. Dari keyakinan itulah Ia percaya bahwa dukungan akan datang dari orang-orang yang peduli dan ingin menjadikan kebaikan ini sebagai ladang amal, baik dari perusahaan-perusahaan Mesir, mitra jam’iyah khairiyah (red: lembaga sosial), maupun donatur dari Indonesia.
Namun Ia juga tidak menutupi sejarah pemasukan Baitul Mal selama ini. Dulu, donatur terbesar yang pernah membersamai PPMI adalah Baba Ragab, yang terus mendukung hingga akhirnya beliau wafat, dan sayangnya, tidak ada kelanjutan dukungan dari pihak keluarga setelahnya. Dan beberapa bantuan lain juga ada, namun bantuan yang masuk ke PPMI selama ini bersifat pasif.
Kali ini, Azzam ingin mengubah pola tersebut. “Baitul mal berencana tidak lagi pasif, tapi aktif, kita yang menjemput bola,” terangnya. Untuk itu, dibentuklah divisi khusus fund raising yang bertugas mendekati dan menjemput para calon donatur secara langsung, bukan lagi sekadar menunggu bantuan datang dengan sendirinya. Sebagai bagian dari langkah ini, Baitul Mal bahkan menyiapkan proposal khusus untuk sponsorship internasional, membuka pintu bagi donatur dari luar Mesir untuk turut ambil bagian.
Program Besar Penuh Harapan
Program Baitul Mal dipetakan ke dalam beberapa aspek, yaitu zakat, dakwah dan pendidikan, sosial, serta bantuan darurat.
Program sosial, lewat inisiatif Bantuan 1001 Paket, ditargetkan menjangkau 1.001 paket per bulan atau setara 5 persen dari total jumlah mahasiswa, berisi beras lokal, minyak goreng, dan telur. Program ini sebetulnya sudah ada sejak tahun 2020 lalu, ketika Masisir masih sangat merasakan bantuan dari para donatur lokal Mesir yang memuliakan penuntut ilmu sebagai tamu Allah, sebelum akhirnya terhenti sejak covid melanda. Untuk menjalankan program ini setahun penuh, dibutuhkan dana sekitar Rp1,1 miliar.
Di jalur pendidikan, ada tiga bentuk bantuan yang disiapkan menyasar 2.000-3.000 mahasiswa, atau 10-15 persen dari total mahasiswa. Subsidi UKT dan diktat kuliah bagi mahasiswa berprestasi namun terkendala biaya, wakaf kitab dan referensi wajib untuk jenjang S1 hingga S3, serta kajian, dauroh, dan bimbingan belajar terbuka yang digratiskan untuk seluruh mahasiswa tanpa mengorbankan kualitas pengajarnya. Total kebutuhan dananya hampir Rp198 juta setahun.
Untuk dana darurat, targetnya lebih spesifik lagi, yaitu 85-100 orang atau sekitar 0,5 persen dari jumlah mahasiswa, mencakup biaya operasi sedang hingga berat, rawat inap, obat-obatan khusus, pemulangan jenazah dan santunan takziyah, penanganan musibah kebakaran atau kecelakaan, hingga bantuan perlindungan hukum untuk kasus berat. Kebutuhan dana untuk pos ini paling besar di antara semuanya, mencapai sekitar Rp1,2 miliar per tahun.
Program zakat sendiri ditargetkan mengumpulkan Rp100 juta, sementara untuk pengadaan sarana dan prasarana lembaga, seperti sewa kantor, kendaraan operasional, hingga pelatihan amil, dibutuhkan sekitar Rp91 juta agar Baitul Mal punya fondasi yang bisa bertahan sepuluh tahun ke depan. Total keseluruhan kebutuhan kelima program ini ditaksir mencapai sekitar Rp2,7 miliar.
Selain kelima program tersebut, ada pula Beasiswa PPMI sebagai program unggulan, yang menurut Azzam dan timnya sengaja dirancang mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Penerima dipilih dari mahasiswa terbaik di tiap bidang, diikuti dengan diskusi rutin dan pengawasan setiap pekan, serta kewajiban bagi setiap penerima untuk tetap produktif dan berkhidmat kepada umat, bukan sekadar menerima dana lalu selesai.
Data yang Belum Ada, tapi Kondisi yang Sudah Terasa
Ihwal kondisi ekonomi Masisir yang beragam, Azzam cukup terbuka mengakui bahwa Baitul Mal saat ini belum memiliki data yang benar-benar valid dan menyeluruh. Belum ada pendataan masif yang bisa menggambarkan secara pasti bagaimana kondisi sosial maupun ekonomi Masisir saat ini.
Meski begitu, bukan berarti persoalan itu tidak terasa. Ia menyebut bagaimana kabar-kabar yang beredar cukup menggambarkan situasi yang ada, seperti adanya mahasiswa yang keluarganya harus menjual sawah, bahkan mobil, demi bisa berangkat dan bertahan kuliah di Mesir. Ada pula yang pada akhirnya harus banting tulang bekerja, padahal tujuan awal mereka datang ke Mesir adalah untuk belajar.
“Tapi ya, kehidupan yang menuntut dia untuk bekerja,” katanya, hal ini menyiratkan bahwa realitas semacam ini bukan hal yang bisa disederhanakan begitu saja.
Ke depan, Baitul Mal berniat melakukan pendataan yang lebih serius agar kebijakan dan bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Dan yang tidak kalah penting, Azzam menegaskan bahwa Baitul Mal tidak ingin bergerak sendirian. Sudah ada konsolidasi awal secara langsung dengan lembaga-lembaga lain, meski belum dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis. Beberapa kesepakatan sudah dibangun secara verbal.
“Insya Allah kami tidak bergerak sendiri, karena jumlah mahasiswa 23 ribu itu jumlah yang besar dan tidak bisa dikerjakan kalau kita bergerak sendiri,” ujarnya.
Membenahi Aturan yang Masih Terlalu Umum
Soal apa yang masih perlu dibenahi ke depan, Azzam menyebut sistem dan regulasi sebagai salah satu pekerjaan rumah yang sudah menunggu. Baitul Mal sebenarnya sudah memiliki semacam undang-undang atau aturan dasar, namun sifatnya masih terlalu umum untuk bisa dijadikan pedoman yang detail.
Karena itu, setelah pelantikan, Ia dan timnya berencana merumuskan kembali nilai-nilai tersebut agar bisa diturunkan menjadi kebijakan yang lebih konkret dalam AD/ART maupun SOP lembaga, bekerja sama dengan fraksi-fraksi terkait. “Semoga Allah mudahkan untuk dapat yang terbaik,” ucapnya.
Setiap Elemen Berarti untuk Menggerakkan Perubahan
Menutup wawancara, Azzam menitipkan harapan yang cukup dalam kepada seluruh Masisir. Baginya, Baitul Mal sudah cukup lama vakum selama lima tahun, dan Ia percaya bahwa kebaikan semacam ini pada dasarnya akan selalu ada yang menghidupkan, entah kita yang mengambil peran itu atau bukan.
Pertanyaannya kemudian dikembalikan kepada masing-masing pribadi, apakah kita mau ikut ambil bagian di dalamnya atau tidak? Sebab jika Baitul Mal ini terus hidup dan terus menyalurkan bantuan, sebanyak apa pun manfaat yang tersalurkan, sebanyak itu pula pahala yang mengalir kepada mereka yang pertama kali menghidupkannya kembali. “Itu yang perlu kita gaungkan ke seluruh elemen bahwa setiap elemen itu berarti dan setiap elemen bisa berkontribusi,” ujarnya.
Azzam mengajak semua pihak untuk memandang pengelolaan dana bersama ini sebagai tanggung jawab kolektif yang harus dipikul bersama-sama, bukan dibebankan kepada segelintir orang saja. Ia mengutip firman Allah dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2.
“Bertolong-tolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
Di antara bentuknya yang paling nyata ialah membantu memenuhi kebutuhan saudara kita yang membutuhkan.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie