KAIRO — Radikalisme tidak selalu berkaitan dengan aksi terorisme atau kekerasan. Paham ini juga dapat berkembang melalui cara pandang keagamaan yang kaku dan intoleran. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah RAM di Aula KMJ, Hay Asyir, Jumat (16/10).
Seminar bertema “Meneguhkan Perspektif Gender dalam Kajian Hukum Islam dan Mendorong Transformasi Riset untuk Pengembangan Keilmuan” ini menghadirkan lima guru besar dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Salah satu narasumber, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., menjelaskan bahwa radikalisme tidak hanya tercermin dalam tindakan kekerasan, tetapi juga dalam penyebaran pemahaman keagamaan yang menolak perbedaan. Ruang digital menjadi salah satu medium penyebaran paham tersebut, termasuk di kalangan generasi muda.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda lebih kritis dalam menerima informasi keagamaan. Media sosial, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk menyebarluaskan nilai-nilai moderasi beragama sekaligus memperkenalkan wajah Islam yang ramah dan toleran.
Melalui forum khusus perempuan ini, peserta diajak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal serta mengambil peran dalam membangun ruang digital yang lebih sehat dan inklusif.
Oleh: Aminah Balqis Irfan