Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

PPMI Mesir PPMI Mesir

Official Website

Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Artikel/Bukan Hasil Akhir, tapi Batu Loncatan: Refleksi Jeihan Hafiya Usai Raih Penghargaan PPMI Record
ArtikelBerandaBeritaEdukatifHardnewsInformasiKEMENKO 4

Bukan Hasil Akhir, tapi Batu Loncatan: Refleksi Jeihan Hafiya Usai Raih Penghargaan PPMI Record

By cairomein@gmail.com
25/07/2026 8 Min Read
0

Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Jeihan Hafiya Hernanto, S.Sos., Dipl., Co-Founder Elite Academia sekaligus peraih penghargaan PPMI Record di bidang Akademik dan Keilmuan.

Di tengah lingkungan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang identik dengan penguasaan bahasa Arab, Jeihan Hafiya Hernanto hadir sebagai sosok yang jarang ditemui. Ia merupakan representasi Masisir yang justru menjadi penggerak bahasa Inggris di tengah banyaknya komunitas yang serba berbahasa Arab.

Jeihan Hafiya Hernanto, S.Sos., Dipl. atau lebih dikenal sebagai Coach Jei (red: sebutan bagi Jeihan sebagai pengajar di Elite Academia). Ia kini menempuh S2 jurusan Tahqiq Turots di Ma’had el-Buust (Dual Arabiy University), jurusan yang mempelajari penelitian dan penyuntingan manuskrip klasik Islam.

Meskipun dengan latar belakang pendidikannya ini, namanya justru lebih dikenal luas lewat komunitas Elite Academia, sebuah komunitas belajar bahasa Inggris yang Ia dirikan bersama beberapa rekannya dan bertumbuh pesat dalam waktu yang cukup singkat. Bagaikan dua dunia yang sekilas tampak bertolak belakang, bagi Jeihan, justru berjalan beriringan dan sama-sama dilakukan dengan totalitas yang penuh.

Perempuan kelahiran Aachen, Jerman, 9 Mei 1999 ini menuntaskan pendidikan sarjananya (S1) di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan akademiknya ke Mesir pada September 2022 lalu. Tahun ini merupakan tahun keempatnya menempuh studi sekaligus menetap di Negeri Kinanah.

Bertahan dengan Bermodalkan Bahasa Arab yang Minim

“Awal datang ke Mesir dengan bahasa Arab yang nol banget. Aku bisa survive karena ikut Markaz Nile sampai akhir level 15.”

Tak langsung pandai berbahasa arab, Ia mengaku belajar bahasa arab benar-benar dimulai dari titik nol saat pertama kali tiba di Mesir. Bermodal tekad untuk bisa bertahan di lingkungan yang serba asing baginya, Ia menempuh pelajaran bahasa di Markaz Nile secara bertahap, level demi level dilewati, hingga akhirnya menembus level 15. Menurutnya hal ini menjadi fondasi penting untuk bisa bertahan di Mesir secara akademik maupun sosial.

Alih-alih tenggelam dalam rutinitas belajar bahasa Arabnya, Jeihan justru berusaha menjaga (red: muroja’ah) dan ingin menghidupkan kembali kemampuan bahasa Inggrisnya di tanah rantauan ini dengan membangun komunitas bahasa Inggris bagi Masisir.

Kini, di sela kesibukan menulis tesis yang diperkirakan rampung akhir tahun ini, Jeihan juga aktif mengajar serta mempunyai jabatan khusus sebagai Co-Founder sekaligus Chief Operation (red: Kepala Operasional) di Elite Academia, Ia turut aktif menyukseskan Simposium PPID (SI PPID) 2026 sebagai Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga di SI PPID 2026.

Selalu berperan aktif di berbagai kegiatan Masisir, mulai dari mengembangkan Elite Academia, menjadi narasumber berbagai acara Masisir hingga akhirnya usahanya berbuah manis dan mendapat penghargaan lewat PPMI Record.

Timbulnya Inisiatif ketika Melihat Realita Bahasa Inggris Masisir

Tidak ada hal besar yang diharapkan dari awal mula keterlibatan Jeihan di dunia bahasa Inggris. Sepuluh tahun lamanya, dari kelas 3 SD hingga kelas 3 SMA, Ia habiskan untuk belajar bahasa Inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika), Sepuluh tahun bukan lah waktu yang singkat dan tentunya Ia enggan melihat kemampuannya luntur begitu saja ketika rutinitas berbahasa Arab terasa lebih intens di Mesir.

Berawal dari ketakutan kehilangan kemampuan bahasa Inggrisnya itu, hal inilah yang akhirnya menjadi awal mula terbentuknya sebuah komunitas berbahasa Inggris di lingkungan Masisir, Elite Academia. Dengan niat awal yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu sekadar muroja’ah dan membantu agar kemampuannya ini tidak hilang begitu saja.

“Awalnya sederhana, aku hanya ingin muroja’ah kemampuan bahasa Inggris di lingkungan yang berbahasa Arab. Tapi setelah melihat kondisi Masisir, muncul keinginan untuk menyediakan wadah belajar bahasa Inggris karena menurutku kemampuan bahasa Inggris Masisir masih perlu ditingkatkan.”

Dari niat pribadinya untuk menjaga kemampuan pribadi, Jeihan justru melihat kelemahan yang cukup banyak di kalangan Masisir secara umum, yaitu minimnya kefasihan berbahasa Inggris.

Hal ini sebenarnya merupakan sebuah ironi tersendiri bagi Masisir, mengingat bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang mestinya menjadi bekal wajib bagi tiap individu, terlepas dari fokus studi masing-masing yang berbahasa Arab. Dari pengamatan itulah tumbuh keinginan yang jauh lebih besar dari sekadar mempertahankan kemampuan pribadi. Bersama teman-temannya, Jeihan ingin menjadikan Elite Academia bukan sekadar tempat singgah sesaat, melainkan pelopor sekaligus rumah belajar bahasa Inggris yang berkelanjutan bagi Masisir secara luas.

Satu-Satunya Perempuan dan Bukan Sekadar Pelengkap

Di antara para pendiri Elite Academia, Jeihan adalah satu-satunya perempuan. Dalam banyak komunitas serupa, situasi seperti ini biasanya menempatkan perempuan pada posisi yang harus berjuang lebih keras untuk didengar, harus membuktikan diri lebih banyak dibanding rekan-rekan lelakinya sebelum pendapatnya benar-benar dipertimbangkan. Tapi bagi Jeihan, pengalamannya justru sebaliknya. Ia merasa keberadaannya sebagai satu-satunya perempuan di antara para pendiri lelaki membuatnya mencolok. Namun mencolok disini dalam artian yang baik, karena ruang itu justru diberikan kepadanya secara terbuka sejak awal.

“Aku perempuan sendiri dibanding founder lain di Elite. Hal itu justru sangat aku syukuri karena mereka sangat terbuka, mau mendengarkan aku, dan memberikan ruang untuk aku bertumbuh.”

Rekan-rekannya mendengarkan pendapatnya, memberi tempat untuk bertumbuh tanpa banyak memperhatikan soal gender, hal inilah yang Ia sadari betul tidak selalu terjadi pada perempuan yang memimpin atau menjadi bagian penting dari komunitas serupa di tempat lain dan ini menjadi suatu kehormatan sendiri baginya.

Bertahan di Tengah Keraguan

Berdiri di posisi yang jarang dihuni perempuan bukan berarti tidak ada harga yang harus dibayar. Ada momen-momen dimana ketika Jeihan merasa kesepian,  hal ini terasa bukan dari kurangnya dukungan untuknya, melainkan dari kesenjangan pemahaman yang lebih personal. Sebagai perempuan, ia terkadang merasakan hal-hal yang tidak selalu dipahami oleh rekan-rekan lelakinya. Meski begitu, ia memilih untuk tidak membiarkan perasaan tersebut menghambat langkah dan tanggung jawabnya.

“Kadang merasa kesepian karena perempuan tidak luput dari perasaannya ya, dan kadang hal itu kurang dimengerti sama partner laki-laki lain. Tapi ya, aku nggak mengikuti alur perasaan itu.”

Di sisi lain, membagi waktu antara mengembangkan komunitas dan mengejar capaian akademik bukanlah perkara yang mudah, apalagi ketika keinginan untuk terus belajar di majelis-majelis masyaikh juga menjadi keinginan terbesarnya.

Ada satu pengakuan dari Jeihan mengenai bagaimana Ia sebenarnya sempat merasa tidak pantas mengambil jurusan Tahqiq Turots yang full berbahasa Arab, padahal latar belakangnya yang kuat di bahasa Inggris selama bertahun-tahun lamanya. Perasaan tidak pantas semacam itu, kalau dituruti begitu saja, bisa saja menjadi alasan untuk mundur di tengah jalan.

“Sebenarnya aku merasa tidak pantas mengambil S2 Tahqiq Turots yang full berbahasa Arab. Dengan latar belakangku yang kuat di bahasa Inggris, rasanya mudah saja kalau ingin menyerah. Tapi karena aku adalah tipe orang yang kalau sudah mengambil sebuah tanggung jawab, harus menyelesaikannya. Aku mau sampai ada di garis finish.”

Baginya, begitu sebuah tanggung jawab sudah diambil, maka tidak ada pilihan lain selain menuntaskan dengan sebaik mungkin, meskipun banyak rintangan yang berada di sepanjang jalan itu.

Di Balik Layar Elite Academia

Elite Academia hari ini mungkin sudah terlihat sebagai komunitas yang cukup besar, lengkap dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan belajar para anggotanya. Meski baru genap satu tahun sejak Maret lalu, waktu berkembang untuk sebuah komunitas yang sudah dianggap besar dan berpengaruh oleh banyak orang di kalangan Masisir termasuk sangat cepat perkembangannya.

Sebagai Chief Operation, Jeihan mengambil peran penting dalam menentukan arah komunitas ini secara keseluruhan, mulai dari merancang kurikulum yang relevan bagi kebutuhan Masisir, sampai menyusun acara-acara yang menarik minat anggota maupun Masisir secara umum di luar keanggotaan Elite Academia.

Namun bagian yang paling melelahkan, menurutnya, bukan urusan-urusan teknis semacam itu, sekalipun urusan teknis tersebut juga menuntut energi dan waktu yang tidak sedikit. Justru hal-hal yang personal yang paling menguras energi, seperti bagaimana meminimalkan konflik antarsesama pendiri yang terkadang punya cara pandang berbeda-beda, menengahi perbedaan pendekatan antar coach yang mengajar, sekaligus memastikan setiap anggota yang datang benar-benar merasa betah dan dapat banyak manfaat, bukan sekadar mengikuti program tanpa hasil yang terasa.

“Ketika akhirnya program-program itu dijalankan oleh anggota dengan semangat dan senyum, semua yang sudah dikerahkan rasanya tidak ada apa-apanya karena hasilnya berbuah manis.”

Saat Ujian Menjadi Jalan Menuju Penghargaan

Menjelang pengumuman PPMI Record, Jeihan justru berada di fase yang cukup rapuh selama setahun membangun Elite Academia. Rasa lelah datang dari berbagai arah, bukan hanya urusan komunitas, tetapi juga tanggung jawab lain yang menumpuk. Di titik itu, Ia mulai mempertanyakan apakah semua yang Ia perjuangkan di Mesir benar-benar sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah dikorbankan.

Namun setiap kali keraguan ini muncul, Ia selalu kembali pada alasan awal mengapa Ia memulai semuanya, ketika keinginannya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Baginya, mimpi yang besar selalu menuntut pengorbanan yang besar pula. Karena itu, setiap rintangan ia anggap bukan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan tanda bahwa ia sedang mengejar sesuatu yang memang bernilai.

“Mimpi terbesarku adalah menjadi bermanfaat untuk orang lain. Aku percaya bahwa dream has consequences. Kalau mimpinya besar, berarti perjalanan yang Allah kasih juga tidak akan mudah.”

Saat namanya diumumkan sebagai penerima PPMI Record, yang ia rasakan bukan sekadar kebanggaan, melainkan kelegaan yang mendalam. Penghargaan itu hadir tepat ketika ia membutuhkan jawaban atas keraguan yang selama ini ia simpan sendiri.

Bagi Jeihan, PPMI Record bukan sekadar seremoni atau penghargaan formal. Ia memaknainya sebagai bentuk validasi atas perjuangan yang selama ini mungkin tidak banyak terlihat oleh orang lain. Momen itu menjadi core memory yang mengingatkannya bahwa setiap usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan menemukan pengakuannya.

“Ini merupakan bentuk validasi terbesar yang pernah aku dapatkan. Penghargaan ini jadi core memory buat aku pribadi dan penghargaan ini bukan hasil akhir dari perjalananku, tapi menjadi batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat bagi khalayak luas.”

Meski demikian, Jeihan tidak menganggap penghargaan tersebut sebagai garis akhir. Baginya, PPMI Record justru menjadi pijakan untuk terus belajar, berkembang, dan memberi manfaat yang lebih luas. Perjalanan itu, menurutnya, baru saja dimulai.

Pesan Jeihan untuk Masisir

Menutup wawancara, Jeihan tidak memberikan tips khusus yang bisa langsung ditiru orang lain untuk meraih pencapaian serupa. Baginya, jalan setiap orang berbeda-beda, dan yang lebih penting untuk dibagikan bukan langkah teknis, melainkan cara pandang dalam menjalani proses itu sendiri.

Ia ingin Masisir tidak takut memulai sesuatu dari nol, sekecil apa pun kelihatannya di awal, karena sesuatu yang tampak remeh pada mulanya bisa saja tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari perkiraan siapa pun. Menurutnya, hal-hal kecil yang dirawat dengan sungguh-sungguh dan konsisten pasti akan membuahkan hasil yang melebihi bayangan awal ketika pertama kali memulainya.

“Jangan takut untuk memulai sesuatu dari nol. Ketika dijalani dan benar-benar dirawat, hal kecil itu bisa membuahkan hasil yang sangat tidak disangka.”

Ia juga membagikan satu keyakinan yang tampak sederhana namun ia pegang teguh sepanjang perjalanannya, bahwasanya ilmu tidak perlu menunggu jumlahnya banyak dulu untuk layak dibagikan kepada orang lain. Sekecil apa pun ilmu yang dimiliki seseorang, selama bisa memberi manfaat bagi orang lain, ilmu itu sudah bermakna dan layak untuk disebarluaskan.

Baginya, nilai sebuah ilmu justru terletak pada sejauh mana ilmu itu bisa dirasakan dan berdampak bagi orang banyak, bukan pada seberapa banyak ilmu itu sudah dikuasai lebih dulu sebelum berani membagikannya.

“Sekecil apa pun ilmu yang kita punya, berikanlah manfaat kepada orang lain. Tidak perlu menunggu ilmu kita banyak dulu untuk mulai bermanfaat.”

Dan di penghujung wawancara ini, Jeihan menitipkan satu kalimat penutup untuk PPMI Mesir dan seluruh Masisir, sebuah kalimat sederhana yang sekiranya merangkum seluruh perjalanan panjang yang baru saja Ia bagikan.

“Keep learning. Keep sharing. And whenever you can, be the reason someone else grows.”

Teruslah belajar, teruslah berbagi, dan kalau bisa, jadilah alasan bagi seseorang untuk bertumbuh.

Tags:

EliteacademiaPorosPersatuanPPMIRecordRealitaBahasaInggrisMasisir
Author

cairomein@gmail.com

Follow Me
Other Articles
Previous

Menjemput Rasa Tahu Diri di Tengah Kuantitas Masisir yang Menerjang

Next

PPMI Mesir Gelar Webinar “Global Academic Journey”: Bedah Strategi Raih Beasiswa Magister ke University of Edinburgh

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 325x300
banner 325x300
Hey, I’m PPMI Mesir
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • RAHMANA 2026 : Berbagi Bahagia di Hari Lahirnya HIMMAH dan Nusantara
    by cairomein@gmail.com
    25/07/2026
  • DPD PPMI Thanta Perhatikan Kesehatan Warga Jelang Ujian
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • Masisir Kembali Banggakan Indonesia di Kanca Dunia
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014
  • KBRI Sambut Kader Bangsa di Mesir
    by Zaenal Mustofa
    02/06/2014

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

PPMI Mesir

PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir
PPMI Mesir

PPMI Mesir

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn

Latest Posts

  • RAHMANA 2026 : Berbagi Bahagia di Hari Lahirnya HIMMAH dan Nusantara
    Kairo (23/7) merupakan hari yang berbahagia bagi HIMMAH RAM. Rahmana… Read more: RAHMANA 2026 : Berbagi Bahagia di Hari Lahirnya HIMMAH dan Nusantara
  • PPMI Mesir Gelar Webinar “Global Academic Journey”: Bedah Strategi Raih Beasiswa Magister ke University of Edinburgh
    Kairo — Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir Masa Bakti… Read more: PPMI Mesir Gelar Webinar “Global Academic Journey”: Bedah Strategi Raih Beasiswa Magister ke University of Edinburgh
  • Bukan Hasil Akhir, tapi Batu Loncatan: Refleksi Jeihan Hafiya Usai Raih Penghargaan PPMI Record
    Tulisan ini merupakan hasil wawancara dengan Jeihan Hafiya Hernanto, S.Sos.,… Read more: Bukan Hasil Akhir, tapi Batu Loncatan: Refleksi Jeihan Hafiya Usai Raih Penghargaan PPMI Record

Pages

Kontak

Phone

+20...

+62...

Email

ppmimesir@

Lokasi

Cairo, Egypt

Copyright 2026 — PPMI Mesir. All rights reserved.