Bayangkan sejenak: bumi yang makin panas, kota-kota yang dikoyak konflik, dan anak-anak muda yang tumbuh di tengah kebisingan ekstremisme tanpa arah. Bukan gambaran fiksi, ini potret dunia hari ini. Di tengah situasi yang serba genting itu, muncul pertanyaan yang sederhana namun berat: siapa yang masih punya kapasitas moral untuk menjadi jangkar peradaban?
Esai karya Maulana Aditya Rizkia Rahman ini mencoba menjawabnya lewat dua nama besar yang jarang disandingkan: Al-Azhar, institusi keilmuan Islam tertua yang usianya sudah lebih dari seribu tahun, dan Muhammad Fethullah Gülen, ulama sekaligus pemikir peradaban asal Turki. Keduanya, tulis penulis, sebenarnya sedang berjalan di jalan yang sama — hanya berangkat dari titik yang berbeda.
Cinta Sebagai Fondasi, Bukan Sekadar Slogan
Gülen dikenal lewat karyanya Toward a Global Civilization of Love and Tolerance. Argumen intinya cukup menohok: krisis terbesar umat manusia bukan krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis moral — hilangnya cinta sebagai fondasi hubungan antarmanusia. Dari titik pijak inilah Gülen menyusun tiga pilar peradaban yang berkelanjutan: dialog, toleransi, dan khidmah (pengabdian tanpa pamrih).
Yang menarik, bagi Gülen, dialog bukan berarti melunturkan identitas atau berkompromi dengan akidah. Sebaliknya, dialog justru menjadi cara untuk menegaskan siapa diri kita di hadapan yang berbeda. Prinsip inilah yang menjadi lensa penulis untuk membaca ulang peran Al-Azhar di panggung dunia.
Al-Azhar: Bukan Diam di Tengah Kekerasan Atas Nama Agama
Ketika kelompok seperti ISIS memutarbalikkan teks-teks agama untuk membenarkan kekerasan, Al-Azhar memilih tampil, bukan menghindar — lewat fatwa-fatwa tegas, konferensi internasional, hingga kampanye deradikalisasi di puluhan negara.
Puncaknya terjadi pada 2019, ketika Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmed al-Tayyeb menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi bersama Paus Fransiskus, sebuah momen yang oleh penulis disebut nyaris senada dengan visi Gülen tentang “peradaban cinta”. Menariknya, Gülen sendiri sudah lebih dulu menempuh jalan itu: pada 1998 ia bertemu Paus Yohanes Paulus II di Vatikan, menjadikannya tokoh Muslim berpengaruh pertama yang membuka jembatan dialog formal dengan Gereja Katolik.
Penulis menegaskan, pertemuan dua langkah ini bukan kebetulan. Keduanya berpijak pada ayat yang sama, QS. Al-Hujurat: 13, tentang manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal — bukan sekadar dasar teologis, tapi fondasi peradaban itu sendiri.
Toleransi yang Lahir dari Kekuatan, Bukan Ketidakpedulian
Salah satu bagian paling tajam dari esai ini adalah cara Gülen membedakan dua jenis toleransi: toleransi yang muncul karena tidak peduli pada keyakinan sendiri, dan toleransi yang lahir justru karena keimanan yang kokoh. Konsep inilah yang dalam tradisi Al-Azhar dikenal sebagai wasathiyyah moderasi Islam yang sudah menjadi DNA lembaga tersebut selama berabad-abad.
Di bawah kepemimpinan Syekh al-Tayyeb, wasathiyyah tidak berhenti jadi wacana. Lewat Al-Azhar Observatory for Combating Extremism, lembaga ini aktif memantau dan merespons narasi-narasi ekstremis di media sosial dalam puluhan bahasa. Penulis menyebutnya sebagai bentuk nyata dari apa yang oleh Gülen disebut hizmet dalam skala kelembagaan.
Khidmah: Ukuran Kebesaran Bukan dari Kekuasaan, tapi Kebermanfaatan
Bagian ini mungkin yang paling menyentuh. Bagi Gülen, kebesaran sebuah gerakan peradaban tidak diukur dari kekuasaan yang digenggam, melainkan dari ketulusan pelayanan yang diberikan. Prinsip ini bergema dalam hadis yang sering ia kutip: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Semangat itulah yang menggerakkan Gerakan Hizmet membangun ribuan sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial di 160 negara.
Al-Azhar, meski jarang disorot dari sisi ini, memiliki jejak serupa. Lewat program beasiswa Al-Azhariyah, setiap tahun ribuan mahasiswa dari Asia Tenggara hingga Afrika sub-Sahara datang menimba ilmu di Kairo, lalu pulang membawa wajah Islam yang moderat dan membumi. Merekalah, tulis penulis, yang menjadi benteng peradaban di akar rumput.
Bahkan pada isu selevel krisis iklim, Al-Azhar tidak absen. Syekh al-Tayyeb hadir langsung di COP26 Glasgow dan menyampaikan pesan bahwa merusak lingkungan adalah bentuk penyimpangan dari maqashid syariah dan pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi — sebuah teologi ekologi yang selaras dengan pandangan Gülen tentang tanggung jawab spiritual manusia terhadap keberlangsungan planet.
Penulis menutup esai dengan gambaran puitis: Gülen dan Al-Azhar seperti dua arus besar dalam Islam kontemporer, satu mengalir dari tradisi tasawuf Anatolia, satu dari jantung keilmuan klasik Mesir, namun keduanya bermuara ke lautan yang sama. Bahkan secara kelembagaan, Al-Azhar melalui Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah telah mengkaji pemikiran Gülen dan menyatakan kesesuaiannya dengan paham Sunni.
Pesan penutup esai ini terasa relevan untuk siapa pun yang lelah melihat dunia terus terbelah: peradaban sejati tidak dibangun dengan pedang, melainkan dengan dialog, cinta, dan pengabdian. Bukan dengan memaksakan satu suara, tetapi dengan kesediaan mendengarkan.
Di tengah dunia yang serba terburu-buru mencari siapa yang benar, esai ini justru mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah kita cukup berdialog, cukup toleran, dan cukup melayani sesama? Tertarik untuk membaca lebih lanjut? Klik tautan di bawah ini:
https://drive.google.com/file/d/1oauyfY0yaLDiBojrhMFoTIVOpcS-IgnK/view?usp=drive_link