Perlunya Kerjasama Masyarakat dalam Mencegah Penyebaran Paham Radikal

 Perlunya Kerjasama Masyarakat dalam Mencegah Penyebaran Paham Radikal

Sebagai langkah mencegah penyebaran paham radikalisme melalui media sosial, Simposium PPIDK Timtengka 2021 menghadirkan M. Makmun Rasyid, penulis dan praktisi media Indonesia, untuk menjadi narasumber pada salah satu rentetan acara simposium dalam sesi panel online dengan membawa sub tema “Moderasi Beragama” yang digelar melalui Zoom Meeting pada hari Sabtu, 01 Mei 2021.

Indonesia termasuk negara yang mengonsumsi media sosial terbesar di dunia, hal tersebut dapat berbahaya jika saja masih banyak konten media sosial yang mengarah kepada ideologi kelompok radikal, apalagi jika generasi muda yang mengonsumsi konten radikal tersebut, maka akan membentuk pemahaman radikal dan menjadi ancaman di masa yang akan datang.

M. Makmun Rasyid menyoroti alasan mengapa masyarakat mudah terpapar paham radikal, ia menyebut bahwa akun-akun media sosial dan situs yang mengandung pemahaman radikal tidak semuanya berhasil di-take down oleh pemerintah. Masih banyak situs berhaluan kelompok trans-nasional yang dapat diakses oleh pengguna medsos.

Baca juga: Simposium PPI Timtengka 2021 Angkat Isu Moderasi Beragama

Dalam melakukan pencegahan, ia mengajak semua lapisan masyarakat untuk sama-sama mencari solusi mencegah penyebaran konten semacam ini. Artinya, tidak melimpahkan semua pekerjaan kepada instansi kepolisian maupun lembaga negara lainnya. Bagaimanapun keterlibatan masyarakat diperlukan agar trial dan error yang dilakukan pemerintah dapat berjalan dengan baik. Lebih lagi, Makmun Rasyid mengajak para mahasiswa, khususnya yang hadir dalam konferensi, agar menyebarkan pemahaman Islam rahmatan lil alamin dan moderasi beragama.

“Mari sama-sama kita mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak mesti semuanya dilimpahkan kepada instansi pemerintahan,” terang Makmun Rasyid.

Tugas masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama tidak terpaku dalam bentuk fisik saja, namun harus diperhatikan juga di platform yang tersedia agar beriringan dan berjalan dengan baik dan berpegang kepada empat aspek.

Baca juga: Mengapa Al-Azhar Masih Bertahan Kokoh?

“Ada empat aspek yang harus kita tanamkan kepada masyarakat, dan diharap mampu melawan pemahaman ideologi kelompok trans-nasional. Pertama, komitmen kebangsaan. Dengan komitmen kebangsaan kita tidak mudah diruntuhkan oleh kelompok radikal. Kedua, toleransi dengan meyakini bahwa perbedaan merupakan rahmat dari Tuhan. Ketiga, anti kekerasan, kekerasana yang dimaksud tidak hanya kekerasan secara langsung tapi juga kekerasan psikologi melalui komen di medsos. Keempat, akomodatif pada budaya lokal, karena kita tahu bahwa kelompok trans-nasional sangat anti terhadap budaya lokal,” papar Makmun Rasyid.

Empat aspek yang telah disebutkan di atas diharap mampu dijalankan oleh masyarakat agar tujuan kemanusiaan dan keberagamaan di Indonesia dapat berjalan beriringan. Sebab yang namanya beragama memiliki sisi kemanusiaan, dan jika sisi kemanusiaan ini lepas maka beragama tidak akan memiliki keseimbangan. Tentunya ditopang oleh komitmen kebangsaan tadi.

Baca juga: Madrasah Keilmuan Al-Azhar

Terakhir, ia mengajak audience untuk menggunakan medsos sebaik mungkin dan ikut serta terlibat menyebarkan konten kebaikan.

“Saya mengajak, mari sama-sama mengeluarkan, membuat, dan menulis narasi terbaik di medsos karena medsos ibarat lautan, jika diisi oleh sampah maka keindahan lautnya akan hilang, baiknya kita rawat dan diisi hal-hal baik agar terus tampak indah. Gunakan lah medsos sebaik-baiknya, agar yang mendominasi bukan hanya kelompok nonmoderat tetapi berhaluan ahlussunah wal jamaah, dan memiliki prinsip moderat.” Makmun Rasyid menutup materinya yang membawa tema “Pengaruh Media Dalam Menyebarkan Radikalisme dan Deradikalisme Media Online dan Media Cetak”.

 

Reporter: Muhamad Alwi

Editor: Syaifur Rohman

 

 

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *