Kairo — Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir resmi memasuki babak kepengurusan baru dengan mengusung nama Kabinet Sinergi Harmoni. Nama tersebut tidak sekadar menjadi identitas kepengurusan, tetapi juga merepresentasikan arah gerak yang ingin dibangun PPMI Mesir selama satu periode ke depan. Dengan membawa semangat kerja sama sekaligus menjaga hubungan yang harmonis di tengah keberagaman lembaga dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir).
Dalam wawancara langsung dengan tim Jurnalistik PPMI, Presiden PPMI Mesir, Wildan Akbar Fathurahman, menjelaskan bahwa pemilihan nama tersebut berangkat dari posisi PPMI sebagai organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk mengayomi dan membersamai berbagai elemen Masisir. Menurutnya, persoalan yang dihadapi Masisir tidak dapat diselesaikan oleh PPMI seorang diri.
“Kita butuh kolaborasi, kerja sama, serta bersinergi dengan semua lembaga yang ada di Masisir agar semua pergerakan bisa satu arah dan satu tujuan,” tegasnya.
Atas dasar itu, kata “Sinergi” dinilai merepresentasikan semangat kepengurusan. Namun, dalam prosesnya, nama tersebut dirasa belum cukup untuk menggambarkan nilai yang ingin dibawa.
Sebelum “Sinergi Harmoni” Ditetapkan

Wildan menceritakan bahwa pada awalnya nama yang dipertimbangkan hanya “Sinergi”. Gagasan tersebut muncul dari kebutuhan PPMI Mesir untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga di Masisir.
Namun, muncul pertanyaan mengenai nilai yang ingin dihasilkan dari sinergi tersebut. Dari situlah kemudian muncul tambahan kata “Harmoni” yang diusulkan oleh Wakil Presiden PPMI Mesir, Mochammad Fikri Abdul Azis.
“Sinergi ini bukan berarti buruk, akan tetapi sinergi hanya berbentuk kerja sama saja. Untuk urusan baik atau enggaknya, kita pengen sinergi ini berdampak baik, menghasilkan hal-hal yang baik,” jelasnya.
Penambahan kata “Harmoni” kemudian menjadi penegas bahwa kerja sama yang dibangun tidak berhenti pada terjalinnya hubungan antarlembaga. Lebih dari itu, setiap sinergi diharapkan mampu menghadirkan kebaikan, kebahagiaan, serta hubungan yang selaras, baik dalam relasi PPMI Mesir dengan lembaga lain maupun di internal kepengurusan sendiri.
Menghadirkan Kebermanfaatan untuk Masisir
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam harapan agar PPMI Mesir tidak hanya hadir sebagai organisasi secara struktural, tetapi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh Masisir.
Wildan menekankan kepada jajaran dewan pengurus bahwa kebermanfaatan harus menjadi salah satu pijakan utama selama menjalankan amanah kepengurusan.
“Sebagai PPMI harus terus ngasih manfaat dalam bentuk sekecil apa pun, sebesar apa pun. Pokoknya kita harus ngasih manfaat ke Masisir,” katanya.
Menurutnya, kebermanfaatan tersebut tidak seharusnya hanya dirasakan oleh internal PPMI atau segelintir pihak. Kehadiran PPMI diharapkan dapat menjangkau seluruh elemen Masisir, termasuk lembaga-lembaga yang selama ini mungkin belum banyak bersentuhan langsung dengan PPMI.
Semangat tersebut turut tercermin dalam fokus kepengurusan yang salah satunya menaruh perhatian pada isu kemasyarakatan. Penguatan basis data masyarakat, penyediaan ruang psikologi, hingga pengembangan program beasiswa dan kesejahteraan menjadi beberapa upaya yang disiapkan untuk memperkuat fungsi pelayanan PPMI Mesir kepada Masisir.
Pesan untuk Masisir
Di sisi lain, ia juga mengingatkan Masisir untuk tetap menjaga kedekatan dengan agama, perkuliahan, dan Al-Qur’an. Baginya, ketiganya menjadi bekal penting dalam menjaga identitas mahasiswa Al-Azhar di tengah dinamika kehidupan di Mesir.
“Pesan yang mungkin bisa ane sampaikan, mungkin kita harus tetap kuliah dan tetap dekat dengan Al-Qur’an, supaya identitas kita sebagai Masisir, sebagai mahasiswa Al-Azhar, itu nggak hilang,” pungkasnya.
Melalui Kabinet Sinergi Harmoni, PPMI Mesir berharap kerja sama yang terbangun selama satu periode ke depan tidak hanya menghasilkan gerak bersama, tetapi bermuara pada kebermanfaatan yang dapat dirasakan secara luas oleh Masisir.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqie
Editor: Naura Najwa Salsabila