
Kairo – Berapa banyak dari kita yang berani mengaku, kalau mengurus uang kiriman bulanan saja kadang masih kewalahan?
Pertanyaan itu dilontarkan Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., Founder sekaligus Presiden Direktur PT. An Nur Maarif Tour & Travel, kepada peserta seminar sesi pertama “The Entrepreneur’s Journey” yang bertemakan “Character Before Capital: Spiritualitas dan Integritas sebagai Fondasi Kesuksesan Bisnis”, pada Kamis (30/7/2026) di Wisma Nusantara, Kairo.
Hal ini Ia tanyakan sebelum membongkar satu prinsip yang menurutnya sering dilupakan calon pengusaha: Modal besar tidak datang begitu saja, melainkan diberi kepada orang yang telah menunjukkan tanggung jawab dalam mengelola hal-hal kecil.
Bunyamin mengibaratkannya dengan analogi sederhana, yaitu uang kiriman bulanan dari orang tua.
“Kalau mengurus tiga juta sebulan saja tidak bisa, bagaimana bisa dipercaya mengelola ratusan juta nanti?” tanyanya, disambut suasana tawa di antara peserta.
Menurutnya, kepercayaan tidak pernah datang tiba-tiba dalam jumlah besar. Ia selalu datang dari rekam jejak kecil yang konsisten dijaga, jauh sebelum seseorang benar-benar memegang modal usaha. Karakter menurutnya adalah sebuah fondasi yang dibangun diam-diam, sementara modal bisa menyusul belakangan bagi mereka yang sudah pantas menerimanya.
Belajar dari Desa, Tumbuh Menuju Kota
Untuk memperkuat argumennya, Bunyamin yang menempuh S1 di Universitas Al-Azhar sebelum melanjutkan S2 dan S3 di Universitas Muslim Indonesia, Makassar, kembali mengungkapkan kisah pribadinya. Ia bercerita, sekembalinya ke tanah air, dirinya bukan pulang membawa gelar dan pengakuan, melainkan disambut tatapan sebelah mata dari orang-orang di sekitarnya.
Meskipun begitu, alih-alih larut dalam kekecewaan, Ia memilih terus melangkah. Perjalanannya yang dimulai dari desa menuju kota itu sempat diremehkan banyak orang. Namun ia bertekad, bukan sekadar membuka jalannya dari desa ke kota, melainkan jalan kesuksesannya dari desa untuk Indonesia.
Dari pengalaman tersebut, Ia menekankan pentingnya menggambar “Miniatur” sebelum membangun sesuatu yang besar. Sebelum bangunan besar berdiri, biasanya arsiteknya lebih dulu menuangkan rancangan di atas kertas. Begitu pula bisnis dan masa depan, jika tanpa gambaran yang jelas sejak awal, seseorang hanya akan berjalan tanpa arah yang pasti.
Bunyamin juga menyinggung kebiasaan yang menurutnya kontradiktif di kalangan anak muda hari ini, seperti rela mengeluarkan untuk barang bergengsi seperti gadget mahal, tapi berpikir berkali-kali saat harus berinvestasi pada pendidikan yang nilainya jauh lebih tahan lama. Bagi Bunyamin, cara berpikir semacam ini perlu dibalik, baginya seseorang harus lebih berani membayangkan dan meyakini dirinya sebagai orang yang berkecukupan terlebih dahulu, sebelum kekayaan menjadi bagian dalam hidupnya.
Empat Generasi, Empat Karakter yang Berbeda
Di sela pemaparannya, Bunyamin bertanya pada audiens tentang posisi mereka dalam empat kategori generasi versinya, perintis, pewaris, penghancur, atau pengembang. Hal ini Ia tanyakan untuk memastikan bahwa peserta bisa menilai dirinya sendiri, apakah mereka termasuk golongan yang sekadar menikmati jaringan dan fasilitas yang telah dibangun orang tua, atau justru berani melampaui pencapaian orang tuanya.
Baginya, generasi yang hanya menikmati tanpa berkembang adalah generasi yang paling rawan terbawa arus zaman. Sebaliknya, mereka yang mampu mengolah waktu dengan baik dan membagi 24 jamnya secara detail antara belajar, bekerja, dan beristirahat, punya peluang jauh lebih besar untuk keluar sebagai generasi pengembang.
Menutup pemaparannya, Bunyamin meninggalkan satu pesan bagi peserta, sebuah pengingat sederhana namun sarat makna bahwa kesuksesan duniawi tidak boleh melupakan fondasi spiritual dan jati diri.
“Jangan tinggalkan salat malam, dan membiarkan malam tanpa diiringi dengan meminta kepada Allah Swt.,” pungkasnya.
Oleh: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie