Kairo – Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir melalui Kementerian Koordinator IV kembali menyelenggarakan webinar bertajuk Global Academic Journey dengan tema “Strategi dan Peluang Meraih Beasiswa Magister di University of Edinburgh.” Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini menghadirkan Ratna Walis, M.Sc., awardee LPDP sekaligus lulusan University of Edinburgh, sebagai narasumber utama. Webinar dipandu oleh Muhammad Farrel Ardansyah Rustam selaku moderator dan diikuti oleh mahasiswa Indonesia di Mesir, khususnya mahasiswa Universitas Al-Azhar.
Acara dibuka oleh moderator dengan menyampaikan ucapan selamat datang kepada narasumber, jajaran pengurus PPMI Mesir, serta seluruh peserta yang telah bergabung dalam webinar. Mengawali rangkaian kegiatan, moderator mengajak seluruh peserta membuka acara dengan membaca basmalah bersama sebagai harapan agar kegiatan berjalan dengan lancar dan membawa keberkahan.
Sebelum memasuki sesi utama, Rizki Sugiri selaku perwakilan Presiden PPMI Mesir menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, ia mengucapkan terima kasih kepada Ratna Walis, M.Sc. atas kesediaannya meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dan wawasan kepada mahasiswa Indonesia di Mesir.
Rizki menyampaikan bahwa saat ini jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir telah mencapai lebih dari 20 ribu orang, dengan sekitar 1.000 hingga 2.000 mahasiswa diperkirakan akan menyelesaikan studi setiap tahunnya. Kondisi tersebut mendorong PPMI Mesir untuk menghadirkan berbagai program yang dapat membantu mahasiswa mempersiapkan langkah setelah lulus, salah satunya melalui webinar mengenai studi lanjut dan beasiswa internasional.
Ia juga menjelaskan bahwa webinar ini merupakan bagian dari program kerja PPMI Mesir yang secara rutin menghadirkan alumni Al-Azhar maupun penerima beasiswa luar negeri untuk berbagi pengalaman. Melalui kegiatan tersebut, PPMI Mesir berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia di Mesir yang memiliki keberanian dan kesiapan untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai universitas terbaik dunia.
Memasuki sesi utama, moderator memperkenalkan narasumber, Ratna Walis, M.Sc., penerima Beasiswa LPDP yang berhasil menyelesaikan studi magister di University of Edinburgh, Skotlandia. Dalam pemaparannya, Ratna menegaskan bahwa keberhasilan memperoleh beasiswa tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik yang tinggi, tetapi juga oleh kemampuan pelamar dalam menunjukkan benang merah antara latar belakang pendidikan, pengalaman, kontribusi, dan tujuan masa depan.
Ratna membagikan pengalamannya selama mempersiapkan studi magister yang memerlukan waktu sekitar satu tahun. Selama proses tersebut, ia tetap bekerja penuh waktu sebagai guru Bahasa Inggris, kepala sekolah, sekaligus mengemban tanggung jawab di International Affairs Office sebuah universitas. Menurutnya, persiapan beasiswa membutuhkan manajemen waktu yang baik serta komitmen yang tinggi.

Ia juga mengingatkan peserta untuk mulai mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sejak dini, khususnya melalui tes IELTS. Menariknya, Ratna menjelaskan bahwa calon mahasiswa tidak perlu menunggu hasil IELTS sebelum mengajukan aplikasi ke universitas. Pelamar tetap dapat memperoleh Conditional Offer, kemudian mengubahnya menjadi Unconditional Offer setelah seluruh persyaratan, termasuk skor IELTS, terpenuhi.
Selain membahas proses pendaftaran universitas, Ratna turut memperkenalkan beberapa program beasiswa yang dapat menjadi pilihan mahasiswa Indonesia, di antaranya LPDP, Chevening Scholarship, GREAT Scholarship, serta University of Edinburgh Scholarship. Ia menjelaskan karakteristik masing-masing beasiswa beserta strategi yang perlu dipersiapkan agar peluang lolos semakin besar.
Pada sesi berikutnya, Ratna menyoroti pentingnya tiga dokumen utama dalam proses seleksi, yakni personal statement, curriculum vitae (CV), dan recommendation letter.
Menurutnya, personal statement merupakan dokumen yang paling menentukan karena menjadi media bagi pelamar untuk menceritakan perjalanan hidup, motivasi, alasan memilih program studi, alasan memilih universitas, serta kontribusi yang akan diberikan setelah menyelesaikan studi. Ia menekankan bahwa personal statement harus menggambarkan hubungan yang jelas antara pengalaman masa lalu, kondisi saat ini, dan rencana masa depan, bukan sekadar menceritakan pengalaman secara umum.
Ratna juga mengingatkan agar peserta menghindari alasan-alasan yang terlalu umum, seperti memilih universitas hanya karena memiliki peringkat tinggi. Sebaliknya, pelamar perlu menunjukkan alasan yang spesifik, misalnya ketertarikan terhadap pusat riset tertentu, dosen yang ingin dipelajari, maupun program yang benar-benar sesuai dengan tujuan akademik dan karier.
Selain personal statement, Ratna menjelaskan bahwa CV juga harus disusun secara strategis. Menurutnya, CV yang baik bukan sekadar memuat daftar pengalaman kerja atau organisasi, melainkan mampu menunjukkan dampak nyata melalui pencapaian yang terukur. Ia mencontohkan bahwa pengalaman mengajar akan lebih kuat apabila disertai informasi mengenai jumlah peserta didik yang dibimbing maupun peningkatan hasil belajar yang berhasil dicapai.
Sementara itu, recommendation letter harus ditulis secara spesifik sesuai sudut pandang pemberi rekomendasi. Atasan, dosen, maupun rekan kerja diharapkan mampu menjelaskan kualitas pelamar berdasarkan pengalaman mereka masing-masing sehingga surat rekomendasi tidak terkesan umum ataupun sekadar formalitas.
Memasuki sesi diskusi, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan narasumber.
Pertanyaan pertama disampaikan oleh Aufa El-Hikam yang menanyakan kehidupan sebagai seorang Muslim di Edinburgh serta tantangan yang mungkin dihadapi akibat perbedaan budaya. Menanggapi hal tersebut, Ratna menjelaskan bahwa komunitas Muslim di Edinburgh berkembang cukup besar dan aktif. Mahasiswa Muslim dapat dengan mudah menemukan masjid, komunitas keislaman, serta makanan halal di berbagai wilayah kota. Ia juga menceritakan keberadaan organisasi mahasiswa Indonesia yang aktif mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Meski demikian, Ratna turut menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir terdapat peningkatan isu terkait imigrasi di Inggris dan Skotlandia. Namun, menurutnya kondisi tersebut tidak terlalu berdampak terhadap mahasiswa Indonesia yang datang sebagai pelajar.
Pertanyaan kedua diajukan oleh Najwa Ayu Fadhila mengenai langkah yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa semester awal apabila ingin memperoleh beasiswa LPDP di masa mendatang. Menjawab pertanyaan tersebut, Ratna menyarankan agar mahasiswa mulai mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris sejak dini hingga memperoleh skor IELTS yang memenuhi persyaratan universitas tujuan. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan yang relevan dengan bidang yang ingin ditekuni, seperti pelatihan, organisasi, kompetisi, konferensi, maupun kegiatan sukarela. Menurutnya, setiap aktivitas yang dipilih harus memiliki keterkaitan dengan tujuan studi sehingga mampu membangun rekam jejak yang konsisten.
Sementara itu, Nawal Fadlan Mukhtar mengajukan pertanyaan mengenai peluang mahasiswa berlatar belakang studi keislaman untuk melanjutkan pendidikan pada bidang yang berbeda, seperti pendidikan maupun psikologi. Ratna menjelaskan bahwa perpindahan bidang studi tetap memungkinkan selama pelamar mampu menunjukkan alasan yang kuat, memiliki pengalaman yang relevan, serta dapat menjelaskan hubungan antara bidang yang dipilih dengan rencana karier di masa depan. Ia juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa alumni Al-Azhar yang berhasil melanjutkan studi di University of Edinburgh, bahkan hingga jenjang doktoral.
Karena keterbatasan waktu, moderator menyampaikan bahwa beberapa pertanyaan peserta yang belum sempat dijawab akan dihimpun oleh panitia untuk kemudian diteruskan kepada narasumber di luar sesi webinar.
Menutup kegiatan, moderator menyampaikan apresiasi kepada Ratna Walis, M.Sc. atas ilmu, pengalaman, serta motivasi yang telah dibagikan kepada seluruh peserta. Webinar kemudian diakhiri dengan doa bersama, sesi foto bersama, serta harapan agar kegiatan ini menjadi bekal bagi mahasiswa Indonesia di Mesir dalam mempersiapkan studi lanjut dan meraih berbagai peluang beasiswa internasional.
Melalui webinar ini, PPMI Mesir kembali menunjukkan komitmennya dalam mendampingi mahasiswa Indonesia untuk terus berkembang, memperluas wawasan global, serta mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Oleh: Syafa Fitria