Al-Azhar adalah Doa

 Al-Azhar adalah Doa

“Selama al-Azhar masih berdiri kokoh, Islam akan sulit dijatuhkan!” Begitulah tegas para kolonial netizen sebelah kiri bawah.

Al-Azhar itu, ujar Syeikh Thaha al-Khatib (salah seorang pakar sejarah peradaban di al-Azhar), tidak sebagaimana tempat perkuliahan lainnya, tidak bisa disamakan dengan pondok-pondok yang berdiri tegak, tidak sama dengan umumnya sekolah. Namun al-Azhar adalah sebuah doa untuk membimbing risalah Islam ke jalan Ilahi, menegakkan nilai-nilai Qur’ani secara dzahir dan batinnya, mengukuhkan risalah sunah Kanjeng Nabi SAW, beserta menguatkan tali rantai keilmuan yang akurat.

Maulana Imam Akbar, selalu mewanti-wanti betapa pentingnya nilai-nilai keilmuan turats. Supaya kemurnian ilmu tetap terjaga, serta peradaban Islam mampu berusaha berkembang dengan menjadikan kaca perbandingan dari masa lampau, serta kuatnya dasar keilmuan.

Betapa banyak yang ingin memanfaatkan dan menjatuhkan al-Azhar. Di antaranya, dimana konon bangsawan Turki ingin menjadikan “bahasa Arab fusha” menjadi bahasa Turki — dengan mempengaruhi orang dalam. Namun, ketika itu juga Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari -rahimahullah- tetap berdiri di garis terdepan untuk menjaga al-Azhar.

Ketika Napoleon ingin memanfaatkan ulama al-Azhar, guna menjatuhkannya dan memperbudak. Kala itu juga berdiri Syeikh asy-Syarqawi (Grand Syeikh ke-12) -rahimahullah– dengan perangainya yang begitu luar biasa seolah membuat Napoleon tunduk tak lagi berkuasa.

Tapi kini, mereka para penjilat, masih begitu exis bermain di dalamnya. Merasa bangga dan berkarisma bisa menuntut ilmu di al-Azhar. Tapi kenyataannya, perilakunya tak ada usaha mencerminkan sebagaimana layaknya “santri al-Azhar”. Azamnya dalam mencari ilmu, belum begitu kuat sebagaimana konon tekadnya “santri al-Azhar” dalam mati-matian menggali ilmu. Mereka sebatas memanfaatkan “emblem al-Azhar”. Yang seolah dengan begitu, mampu meninggikan rating elektabilitas. Sebatas nyari “personal branding”!

Ketika berujar, “Ana Azhari!”, menyandangkan lebel “al-Azhari” di akhir namanya, tapi nyatanya, perilakunya benar-benar belum layak dan tak mencerminkan sejatinya seorang Azhari! Hasbunallah. Na’udzubillah.

Padahal, konon, Syeikh Ahmad adz-Dzawahiri (Grand Syeikh ke-34) -rahimahullah-, selaku muasis kampus Universitas al-Azhar, pada tahun 1930-an. Berharap dan berdoa penuh, selain agar bangku kuliah tidak hanya diduduki oleh para kaum non muslim, tapi juga berharap dengan al-Azhar ini, para murid-muridnya mampu mensyiarkan nilai-nilai Islam.

Ketika beliau membuka Fakultas Ushuluddin supaya mampu menjadi penopang ilmu akal dan Ketuhanan. Ketika membuka Fakultas Syariah dengan tujuan menegakkan Fikih Islami yang mampu mengkolaborasikan antara Turats dan Kontemporer.

Pun ketika membuka Fakultas Bahasa dan Sastra guna mengukuhkan jati diri manusiawi yang bermoral baik dan santun, mampu membawa risalah bahasa Arab yang baik dan benar. Sebagaimana kata beliau, ketika Daulah Abbasiyah runtuh di Baghdad, mereka banyak yang mengungsi di Mesir, mereka pun mahir berbahasa Arab yang baik dan benar. Maka dari al-Azhar jugalah yang akan melanjutkan estafet peradaban Islam.

Dan itu terbukti, bahkan dari berabad-abad sebelumnya, al-Azhar banyak mencetuskan para ulama rabbani, para ulama ensiklopedis, menjadi pusat penyebaran risalah ilmu dalam bentuk buku, baik dari matan, syarah, hingga hasyiyah. Semoga al-Azhar senantiasa diberikan umur panjang!
___

Maulana Habib Ali al-Jufri pernah berkata, bahwa kitab-kitab yang kita pelajari ini tak lepas dari tinta ketulusannya ulama al-Azhar. Lanjut beliau, kalau bukan di muallifnya, pasti ada di pentahqiqnya, kalaupun tidak, pasti ada di pensyarahnya, pun jikalau tidak, pasti ada di muhasyinya. Nyatanya demikian, rantai keilmuan tidak pernah lepas dari campur tangannya ulama al-Azhar.

Habib Ahmad al-Maqdi, pernah menjawab ke salah satu murid yang bertanya soal Yaman. Kata beliau, kalian sudah di sini, maka syukurilah. Saya sendiri saja yang jauh-jauh dari Yaman ingin menuntut ilmu di al-Azhar, kalian malah ingin pergi ke sana. Di sini pusatnya ilmu, bahkan setiap tahunnya, Mesir mampu mencetuskan 100-1000 wali Allah.

Maulana Sidi Sholeh al-Ja’fari –rahimahullah– jauh-jauh dari Sudan untuk menetap di Mesir, hanya karena al-Azhar dan Sidna Husain. Saking cintanya, beliau pun dimakamkan tak jauh dari dua itu.

Syeikh Ramadhan al-Buthi -rahimahullah- saking cintanya dengan al-Azhar, beliau senantiasa memuji dan membawa manhaj Azhari. Bahkan setiap sore hingga larut beliau duduk di depan makam Sidna Husain karena cintanya dan senantiasa mendoakan akan keberkahan al-Azhar.

Kyai Abdul Manan Dipomenggolo at-Tarmasi, selaku pendiri pondok Termas di Pacitan. Beliau benar-benar santun dalam membawa amanat al-Azhar. Beliau mampu menjadi orang pertama kali yang meletakkan batu keilmuan Tasawuf ala Ghazalian di bumi Nusantara, dengan kitab pertama kali yang diampu beliau adalah Ittihâfu As-Sâdah Al-Muttaqîn syarah Ihyâ’ Ulûmuddîn karyanya Syeikh Murtadho az-Zabidi al-Azhari. Pun beliau mengambil sanad dari Imam Akbar Ibrahim Al-Bajuri (Grand Syeikh ke-19). Rahimahumullah.

Adapun Kyai Zaini Dahlan, yang berguru kepada Syeikh Arofah ad-Dasuki (muridnya Imam al-Bajuri), membawa manhaj al-Azhar ke Nusantara, menyiarkan keilmuan Islam dalam materi Aqidah, dengan kitab Fathul Mubîn syarah Ummul Barâhîn karyanya Imam Al-Bajuri. Yang kemudian sanadnya nyambung ke Syeikh Muhammad Khatib Sambas Kalimantan; yang dimana beliau mendirikan tarekat Al-Qadiriyah An-Naqsabandiyah di Kalimantan. Hingga nyambung ke Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Mahfud at-Tarmasi. Rahimahumullah. Bukti akan syiar doanya!

Murabbi Syeikh Jamal Farouq pernah menekankan, al-Azhar berdiri dengan tetap memusatkan serta mensyiarkan nilai-nilai Islam. Sebagaimana terdiri dari rukun-rukunnya; Madzhabiyul Fiqh sebagai Islam, lalu Asy’ariyul Aqidah sebagai Iman, dan Shufiyut Tawajjuh sebagai Ihsan.

Bukan sebatas ilmu Islam, ilmu secara umum, Hisab, pengobatan, arsitektur, astrologi, matematika, dan lainnya, semua juga banyak dikembangkan kala itu. Salah satunya Syeikh Ahmad ad-Damanhuri (Grand Syeikh ke-10), pengarang kitab syarah Sullam. Adapun Syeikh Rifa’at at-Thahtawi, salah satu muridnya Syeikh al-Athar (Grand Syeikh ke-16), yang begitu masyhur, pun pendiri Markaz Qaumi Li Tarjamah, dimana beliau menjadi penghubung antara dunia Timur dan Barat. Pun mensyiarkan nilai-nilai Islam dalam berbahasa Inggris. Rahimahumallah. Inilah doa al-Azhar.

Dalam kitab al-Azhar wa Dauruhu fî Nasyri ats-Tsaqâfah: Dan nyatanya, al-Azhar adalah doa. Bukan sebatas pusat pembelajaran ilmu Islam. Bukan sebatas tempat mencari pendidikan. Tapi al-Azhar bertujuan mensyiarkan nilai-nilai keilmuan Islam ke seluruh penjuru dunia. Dari sini, para prajurit Islam benar-benar tunduk untuk mengambil beribu istifadah dari al-Azhar, yang dari paham itu, mereka mampu membawa risalah doa al-Azhar untuk menyebar ke berbagai penjuru peradaban Islam, pun Barat.

Lantaran, bagaimana -kita- mampu memegang amanat untuk membawa risalah doa tersebut; bila sebagai muridnya saja tak berusaha menyimak setiap ilmu yang dilantunkan dengan benar-benar khidmat?!

Betapa berkahnya, pun nyatanya doa itu. Bahkan di Masjidnya saja, doa-doa yang dipanjatkan mampu diijabahi. Saking berkahnya tempat tersebut, sudah banyak yang menjadi saksi bisu akan kenyataannya, dimana ribuan para ulama rabbani telah menduduki di setiap tiang yang berdiri kokoh di dalamnya. “Masyayikh sebagai central figurnya, pun Masjid sebagai pusat yang menjiwainya”.

Selama terpatri untuk benar-benar taat dan patuh dalam khidmat menuntut ilmu, insya’Allah, doa al-Azhar akan senantiasa menyertai untuk menjadi jati diri yang berguna bagi umat. Dunia dan akhirat.

Bersyukur, jangan mengecewakan. Semoga rindu segera dibukakan ….

 

Penulis: Andrian Rizki

Syaifur Rohman

President Director of ppmimesir.or.id

Postingan Terkait

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *