Kairo — “Tak ada gagasan yang terlalu kecil untuk dituliskan. Setiap pemikiran perempuan layak menemukan ruangnya dan menulis adalah salah satu jalan yang paling kuat.”
Pemikiran itulah yang coba dipupuk lewat sebuah ruang dialog khusus perempuan di Aula KMJ, Hay Asyir, pada Jumat (16/10/2026).
Dalam seminar interaktif yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama Himmah RAM, seminar khusus banat ini menghadirkan lima guru besar untuk berdiskusi langsung dengan para peserta.
Mengangkat tema “Meneguhkan Perspektif Gender dalam Kajian Hukum Islam dan Mendorong Transformasi Riset untuk Pengembangan Keilmuan”, perempuan didorong untuk tidak hanya menjadi objek kajian, tetapi juga berperan aktif sebagai penulis dan peneliti dalam pengembangan keilmuan Islam.
Lima Guru Besar, Lima Perspektif yang Berbeda
Menghadirkan lima narasumber dengan lima tema pemaparan yang berbeda, seminar ini tetap fokus pada tujuan awalnya untuk memaparkan isu gender dan fenomena yang terjadi di masyarakat luas.
Salah satu materi dibawakan oleh Prof. Dr. Hj. Wahidah, M.H.I., Guru Besar UIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan mengupas persoalan tentang, “Pembelaan Fikih Waris terhadap Perempuan: Isu Keadilan Gender”. Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, juga mengulas peran perempuan dalam menangkal radikalisme di kalangan anak muda pada era disrupsi (red: perubahan besar) digital. Sementara itu, pembahasan reproduksi ortodoksi dalam pengajian daring mubadalah (hubungan timbal balik) disampaikan langsung oleh Prof. Dr. Hj. Mufliha Wijayati, M.S.I., Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung.
Lebih lanjut, dua narasumber lain menjelaskan cara meneliti persoalan tersebut. Prof. Dr. Hj. Wardah Nuroniyah, M.H.I., M.Si., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memaparkan cara membangun perspektif kritis, metodologi dan publikasi ilmiah dalam penelitian tentang perempuan dan gender. Sementara metode penelitian isu keadilan gender dalam penyelesaian konflik kewarisan disampaikan dengan lengkap oleh Prof. Dr. Hj. Andi Sukmawati Assaad, S.Ag., M.Pd., Guru Besar UIN Palopo, Sulawesi Selatan.
Seminar yang Khusus untuk Perempuan

Forum ini dirancang sebagai wadah bagi perempuan untuk berdialog, bertemu dan bertukar pikiran dengan narasumber. Hal tersebut disampaikan oleh moderator seminar sekaligus Ketua PCI Fatayat NU Mesir, Arifatun Nisa Birizqil Adhim, Lc.
“Kami tidak menetapkan tujuan yang muluk-muluk. Selama para profesor dan peserta bisa saling berbagi dan berdiskusi, itu sudah cukup,” ujarnya dalam wawancara.
Ia menambahkan, ilmu yang disampaikan para narasumber belum tentu bisa diperoleh peserta jika seminar ini tidak diadakan.
Lebih lanjut, Arifatun menjelaskan bahwa seminar ini awalnya hanya berfokus pada metodologi penelitian dan jurnal. Isu gender kemudian diangkat karena Fatayat NU merupakan organisasi perempuan dan akhirnya disetujui oleh para narasumber. Dengan demikian, peserta memperoleh teori sekaligus gambaran besar langkah penelitian agar tidak lagi bingung dan berani melakukan hal yang sebelumnya diragukan.
Harapan utama panitia adalah agar ilmu yang didapatkan tidak berhenti di ruang seminar saja, tapi bisa terus berlanjut.
“Jangan sampai masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ilmunya harus diamalkan dan dikembangkan, jangan sampai berhenti di situ saja,” katanya.
Bukan Kapasitas, tapi Kesempatan dan Percaya Diri
Menanggapi tantangan perempuan untuk aktif berdiskusi dan mengembangkan dasar keislaman, Arifatun juga menegaskan hal itu tidak disebabkan rendahnya kapasitas intelektual. Ia menolak anggapan bahwa sedikitnya perempuan dalam grup diskusi disebabkan kemampuan yang lebih rendah dibanding laki-laki.
Menurutnya, banyak perempuan memiliki gagasan dan mampu berpikir kritis. Hambatan terbesarnya ada pada keterbatasan kesempatan atau keadaan yang tidak mendukung serta kepercayaan diri yang dipengaruhi berbagai faktor. Ia menilai ruang diskusi khusus perempuan sebenarnya sudah tersedia, termasuk di lingkungan almamater dan kekeluargaan lewat program keputrian. Karena itu, perempuan perlu memanfaatkan kesempatan yang ada dan berani berpartisipasi aktif.
“Karena itulah saya bilang tantangannya adalah belum mendapat kesempatan atau bahkan tidak mengambil kesempatannya dan juga faktor kepercayaan diri. Itu tantangannya menurut saya,” tegasnya.
Selain menyoroti isu-isu perempuan, acara ini juga menyoroti pengembangan riset keilmuan, khususnya pentingnya pembelajaran penulisan ilmiah yang runtut dan sesuai kaidah serta penyediaan wadah pelatihan yang memadai untuk mendukung kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan paper dan jurnal.
Melalui forum ini, peserta diharapkan tak hanya menjadi pendengar, tetapi terpacu untuk menjadi perempuan yang berani berpikir kritis dan menorehkan perspektif perempuan dalam khazanah keilmuan Islam.
Oleh: Alfia Fariha Nurfajriyah