
Pada Kamis, 9 Juli 2026, Creative Academy membuka rangkaian acara dengan Grand Opening megah, menghadirkan tiga praktisi media Masisir, yakni M. Bahrul Ulum (Visual Storytelling & Creative Aesthetics), Achmad Aji Subagyo (Creative Design & Visual Communication), dan M. Fikri Syamil (Building Identity in the Digital Era), yang membagikan pengalaman serta strategi membangun karier di industri kreatif.
Kepala Penerangan Universitas Al Azhar or Koordinator Pusat Informasi Universitas Al-Azhar, Dr. Husam Syakir, dalam sambutannya menekankan bahwa media memiliki peran besar
dalam membentuk peradaban dan menggiring opini publik.
Ia mencontohkan bagaimana pada masa Arab klasik, para penyair menjadi penyampai pesan suatu kabilah yang mampu memicu perang maupun perdamaian. Kini, menurutnya, peran tersebut dijalankan oleh media massa. Oleh karena itu,
penguasaan media bukan hanya menjadi kebutuhan sejak dulu, tetapi semakin penting di era digital.
“من يعطيك
الكلمة أفضل من المال”
(Orang yang memberimu kata-kata (ilmu/gagasan) lebih berharga daripada orang yang memberimu harta.), ujarnya, menegaskan bahwa kekuatan gagasan memiliki nilai yang melampaui materi.
Ketua Pelaksana PPMI Creative Academy 2026 sekaligus Menteri Koordinator Multimedia PPMI Mesir, M. Farrel Ardansyah Rustam, menyampaikan bahwa kreativitas bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga kemampuan
mengeskpresikan gagasan dan menyampaikan value kepada orang lain.
“Creativity is born to create and to express,” ujarnya.
Melalui PPMI Creative Academy 2026, ia berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami esensi dunia kreatif dan mengolah gagasan menjadi karya yang berdampak luas.
Presiden PPMI Mesir, Glenn Sofyan Assyauri Lubis, Lc., mengajak mahasiswa Al-Azhar memandang media sebagai wasilah dakwah yang harus dikuasai di era digital. Mengutip
kaidah fikih,
“وسائل الأمور كالمقاصد.
واحكم بهذا الحكم للزوائد”
(Sarana suatu urusan mengikuti hukum tujuannya. Terapkan pula hukum tersebut pada hal-hal yang melengkapinya.)
Ia menjelaskan apabila dakwah merupakan sebuah kewajiban, maka segala sarana yang mengantarkan kepada dakwah, termasuk media, juga menjadi sebuah keharusan.
“Zaman sekarang kalau kita kalah media, kita kalah berperang,” ujarnya.
Menurutnya, dunia saat ini bukan lagi tentang “the big fish which eats the small fish”, melainkan “the fast fish which eat the slow fish”.
Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi, menguasai media, menyampaikan informasi secara cepat menjadi bekal penting bagi gen z dalam menghadapi tantangan zaman.

Sesi talk show dibuka oleh moderator Wawa Awwaliyah yang mengajak peserta melihat peluang lebih luas bagi lulusan
Al-Azhar. Dalam sesi ini, ketiga narasumber membagikan perjalanan mereka meniti karier.
“Saya yakin teman-teman yang datang hari ini tuh orang-orang
yang keren yang membantah stigma lulusan agama hanya jadi guru aja. Di dunia serba digital ini, kita punya banyak sekali peluang. Semoga setelah ini bakal ada lebih banyak Sergio Syamil selanjutnya,” pungkasnya.
Dalam paparannya, M. Bahrul Ulum, menekankan bahwa kekuatan sebuah karya visual terletak pada kemampuannya membangun cerita dan makna. Menurutnya, proses kreatif
perlu diawali dengan penyusunan storyline sebelum mengumpulkan footage agar setiap scene memiliki pesan yang jelas.
Ia juga mengingatkan peserta untuk keberanian untuk terus mengkritisi hasil karya sendiri agar tidak cept puas dan berhenti berkembang.
“Yang saya takutkan bukan karya yang jelek, tetapi ketika
saya merasa puas dengan karya saya hari ini,” ujarnya.
Achmad Aji Soebagyo, membagikan perjalanannya menjadikan hobi menggambar sebagai profesi illustrator. Ia menekankan
pentingnya keberanian untuk terus bereksperimen, menemukan ciri khas, serta tidak takut menghasilkan karya yang belum sempurna.
“Karya yang bagus adalah karya yang selesai,”
pungkasnya.
Sementara itu, M. Fikri Syamil, mengulas pentingnya membangun personal branding melalui niche yang spesifik, memahami karakter audiens, serta membangun identitas melalui voice, value, dan visual agar lebih mudah dikenali.
“Mulai saja dulu, tapi jangan hanya mulai. Harus
dibarengi strategi dan rencana,” pesannya.
Kegiatan Grand Opening ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung antusias. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari personal branding, memahami algoritma media sosial, menentukan rate card dan monetisasi karya, cara reach out brand, menjaga konsistensi dalam berkarya, hingga strategi menyisipkan nilai-nilai dakwah melalui konten digital.

Tidak hanya Pembukaan acara yang menarik, beragam rangkaian kelas juga turut mengundang antusiasme Masisir, terdiri dari 11 kelas; Canva Beginner, Canva Intermediate, Affinity, Content Creator, Videography Beginner, Videography Intermediate, Photography, Figma, Photoshop, Procreate, dengan total 154 peserta dan 13 mentor kelas berjalan baik dan instens.
Sebuah harapan baru lahir dari semangat antusiasme Masisir terhadap dunia media dan kreasi, dimana Masisir yang kental dengan keilmuan agama dan turats nya dapat menjadikan media dan kreativitas sebagai sarana menyebarluaskan wawasan dan inspirasi.
Oleh: Naura Najwa Salsabila